
"Sekaa.." Eki memanggil Seka setengah berteriak sambil menatap ke arah Abi tajam dan menghampiri Seka dan Abi.
"Ayok kita pulang udah sore, nanti kamu gak bisa masuk asrama" Eki menarik tangan Seka pelan.
"Yah bang Eki, belum nemu bukunya" Seka memanyunkan bibir nya tanda dia sedang kesal.
"Udah nanti kita kesni lagi ya" bujuk Eki kembali.
"Ya udah deh," Akhirnya Seka mendengarkan ajakan Eki untuk pulang, karena jam juga menunjukkan pukul 4 sore.
"Seka pulang dulu ya Abi, Assalamualaikum." Seka pamit dengan sopan kepada Abi.
"Waalaikum salam. ya ka, hati-hati, gua juga mau pulang nih sama Intan," Abi membalas salam Seka dan berlalu mencari Intan, dia merasa tak nyaman dengan tatapan Tajam Eki.
Seka akhirnya turun ke parkiran bersama Eki. Eki sangat perhatian dan sabar menghadapi Seka, memakai kan helm buat Seka serta menunggu Seka naik ke motornya dengan wajah di tekuk karena belum mendapatkan buku yang diinginkan nya.
Di perjalanan Seka penasaran ketika melihat tatapan tajam Eki kepada Abi. " bang, lu tadi kenapa dah liat Abi kayak mau makan orang" Seka akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Ka." Eki diam sejenak beberapa detik lalu dia melanjutkan kan kembali perkataan nya.
"Tadi saat abang lagi nyari buku tentang penyakit di rak pojok, tanpa sengaja abang melihat Abi dan Seka dari belakang, saat abang ingin berbalik, abang melihat Abi dari belakang ingin merangkul Seka," Eki sedikit berteriak menjelaskan nya kepada Seka, karena mereka berada di atas motor.
"Beneran bang, kok Seka gak percaya ya" Seka masih mencerna perkataan Eki, dia merasa tidak mungkin seorang Abi begitu lancang ingin merangkul dirinya di teman umum lagi.
"Emang abang pernah bohong Ka" Eki menekan nada bicara nya yang sedikit emosi ketika Seka tidak percaya kepadanya.
"Ih kok berani-beraninya dia seperti itu, pantesan tadi juga dia main gandeng aja tangan Seka" Seka sedikit kesal dengan perlakuan Abi kepadanya. Karena menurut nya yang baru kenal sama Abi, terlalu lancang jika laki-laki itu berani merangkulnya.
Seka juga kecewa karena di benak nya Abi laki-laki yang Alim dan tidak akan berani menyentuh wanita. Dia jadi menyesal mengagumi cowok itu.
"Ya udah, kamu jauh-jauh dari dia ya ka, abang gak suka liat dia yang baru kenal sama kamu udah berani seperti itu" bukan karena cemburu, tapi Eki merasa jika Seka lebih dekat dengan Abi, bukan tidak mungkin Abi akan melakukan hal lebih dari itu.
"Ya deh bang, Seka juga gak suka laki-laki main sosor aja" Seka pun di buat illfeel dengan kelakuan dari Abi, pantesan saja dia ngajak Seka nyari buku di pojokan.
"Ka, kita makan lontong sayur kesukaan mu yuk, kan udah lama kita gak ke sana" Eki kembali memecahkan suasana yang tegang dan mencoba mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
"Siap bang, wah Seka udah kangen nih makan disana" suara Seka terdengar sangat bahagia, begitu lah Seka, wanita yang penuh keceriaan, moodnya bisa berubah bahagia dalam satu waktu.
"Siap tuan putri" Eki menambah kecepatan motornya.
Seka dibelakang menikmati jalan-jalan sore nya bareng Eki. di hati nya Seka, Eki punya tempat tersendiri. Tapi dia tidak bisa mengganggap Eki lebih dari itu. Mungkin dia egois, tapi dia tidak ingin kehilangan Eki jika mereka harus lebih dari sekedar abang dan adek.
Dalam diam Seka masih memikirkan Ozzie, walaupun di belum benar-benar mencintai Ozzie tapi ntah kenapa bayangan berondong nya itu tak pernah hilang dalam ingatannya. selalu saja ada celah di hati nya untuk mengingat Ozzie.
"Dek" Eki pun membuyarkan kan lamunan Seka.
"Udah sampai ya bang, di bungkus aja ya bang, takut telat sampai asrama" Seka tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah warung langganan nya.
"Ok, tunggu bentar ya" Eki berlalu memesan makanannya.
Setelah selesai makanannya di bungkus beserta titipan makanan Ana. Eki melajukan motornya ke asrama. selang 15 menit mereka tiba di asrama Seka. Eki pamit pulang dan Seka juga mengucapkan terimakasih karena Eki sudah mengajak nya jalan.
...****************...
__ADS_1
aduh bang Eki manis bangeet ya.
Seka kok gak klepek-klepek ya, kalo mimin otw menyesal sudah menyiakan Eki.