
Pagi ini lumayan cerah, matahari sudah mulai menampakkan sinar nya di balik jendela, Ozzie masih saja bergelung di dalam selimut tanpa peduli sejak tiga puluh menit yang lalu ibu Aisyah terus saja menggedor pintu kamar anak bungsu nya itu, Ozzie masih tetap tidak bergeming, rasanya dia malas sekali untuk beranjak.
"Zie, bangun, kamu mau telat, ini hari pertama kamu Ujian" ibu Aisyah akhirnya berteriak di depan pintu kamar, pintu terkunci sehingga ibu Aisyah tidak bisa masuk.
"Ya bu, tenang aja, baru jam enam bu" Ozzie masih tetap dengan mode di kasur dan dalam selimut hangatnya.
"Ibu tunggu di ruang makan ya"
"Ya ibu ku cantik"
Ibu Aisyah beranjak meninggalkan Ozzie yang masih memejamkan matanya di dalam kamar, tak selang beberapa saat Ozzie meraih jam di samping tempat tidurnya.
"Ibu mah kebiasaan, banguninnya pasti lebih cepat, Ozzie kan ujiannya juga jam 07.30 WIB" gumam Ozzie pada dirinya sendiri.
Ozzie beranjak dari tempat ternyaman nya, meraih handuk yang di gantung di depan pintu untuk segera mandi, selang Lima belas menit Ozzie sudah selesai mandi dan menggunakan baju seragam yang telah di siapkan ibu nya, Ozzie merasa baju seragam nya hari ini begitu rapi, mungkin ibu Aisyah sudah menyiapkan nya untuk ujian biar Ozzie semangat.
"Hai ibu ku cantik" Ozzie sudah tiba diruang makan sambil merangkul ibu Aisyah yang sedang duduk di samping ayah nya.
"Ozzie udah jam berapa ini, makan dulu" ibu Aisyah masih dengan mode wajah serius nya, tentu saja dia sedang khawatir karena anak bungsu nya itu akan menghadapi ujian akhir sekolahnya.
"Ibu mah serius banget ya yah" Ozzie melirik ayahnya berharap mendapat pembelaan.
"Ibu itu khawatir Zie, kan kamu mau ujian" ayah Rudi menjelaskan sebenarnya yang terjadi.
"Yang ujian kan Ozzie kenapa ibu yang tegang"
"Kamu gak boleh gitu sama ibu, ibu mu sampai gak tidur semalaman, berharap kamu bisa ngerjain soal dengan baik"
"Ya Allah ibu ku cantik, terimakasih ya, doain Ozzie ya" Ozzie yang sudah duduk di sebelah ibu Aisyah beranjak dan memeluk erat ibunya.
"Makanya kamu serius demi masa depan ya Zie"
"Siap ibu, semoga aja kelak Ujian Nasional di hapuskan, biar gak ada tuh anak-anak yang stres gara-gara ujian yang cuma tiga hari tapi nentuin hasil kita sekolah selama tiga tahun, gak adil kan ya bu"
"Makanya kamu jadi menteri pendidikan" ibu Aisyah tersenyum hangat ke arah anaknya.
"Sudah makan dulu, cepat siap-siap ke sekolah" ayah Rudi menyela obrolan antara ibu dan anak yang tak pernah berakhir.
Selesai sarapan Ozzie sudah siap akan berangkat sekolah dengan sepatu hitam, tas punggung andalan nya, Ozzie meraih ponsel di saku nya sambil tersenyum dia membuka aplikasi pesan online di ponselnya.
Seka ;
"Semangat Ujiannya sayangku"
__ADS_1
"π€π€π€"
"Mmuuaaachh"
"Biar makin semangat, semoga lancar ya.πππ"
Ozzie :
"Terimakasih sayangku semangatnya π€π€π"
"Makin semangat nih kalo giniππ"
Pesan dari Seka bagaikan support sistem buat Ozzie, senyumnya tidak luntur dari wajah gantengnya hingga masuk gerbang sekolahnya, rumah Ozzie yang tidak begitu jauh dari sekolah membuat Ozzie hanya berjalan kaki dengan santai ke sekolah nya, sekolah lumayan sepi, karena anak kelas XII akan melaksanakan ujian akhir jadi kelas yang lain di liburkan, Ozzie masih mencari-cari tempat duduk sesuai nomor yang tertera di kartu ujiannya.
"Zie, udah nemu lu di ruang berapa.?" dari belakang Deni menepuk pundak Ozzie pelan, Ozzie membalik tubuhnya dan menatap Deni sekilas.
"Belum" jawab Ozzie singkat.
"Sini gua liat nomor ujian lu, gua udah keliling sekolah tadi jadi udah tau ruangan mana aja" Deni meraih kartu ujian yang di pegang Ozzie.
"Ini mah di kelas X3 Zie, gua liat tadi, udah ayok ikut gua" Ozzie hanya diam saat tangannya di tarik Deni untuk mengikutinya.
"Nah, itukan ruangan lu, liat ke dalam bangku lu Zie"
"Makasih ya Den"
"Slow gua mah"
"Eh liat Rio gak.?"
"Belum, gua aja baru ketemu lu, eh tu Rio jalan ke arah sini dia" Deni menunjukkan jari nya ke arah koridor sekolah di depannya di ikuti Ozzie yang mengarahkan pandangan yang sama.
Saat Rio mendekat Deni mulai membuka obrolan nya, " Rio di ruangan mana..?"
"Nih disini" Rio berlalu masuk ke kelas yang sama dengan Ozzie.
"Wah asik kalian satu ruangan Zie"
"Ya"
"Kita ke kantin bentar yok" ajak Deni kepada kedua sahabat kulkas dua pintunya dan kutub utara. Mereka beranjak menuju kantin sambil menunggu jam masuk untuk ujian.
"Gua gugup tau" Deni sedang makan nasi uduk yang di pesannya tadi sedang kan Rio dan Ozzie hanya memesan minuman.
__ADS_1
"Sedikit" jawab Rio santai.
"Ah lu mah, gugup juga tetap aja gak keliatan, muka lu datar kayak triplek" celoteh Deni kembali.
"Lu berharap Rio kayak lu Den, mimpi lu ketinggian" Ozzie mulai menimpali.
"Hahaha ya juga ya, mana bisa dia merubah itu wajahnya udah dari sono dingin kayak kutub utara, gua bingung gimana si Asti bisa betah ni sama si Rio" Deni menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah lu gak usah kepo, lu aja belum pernah pacaran, sok kepo sama hubungan gua"
"Nah kan sekali nya ngomong panjang langsung menusuk ke hati"
Ozzie hanya tersenyum tipis melihat kedua temannya tersebut, ada sedikit sedih di hati nya berpikir akan berpisah jika mereka lulus.
"Udah jangan berdebat Lima belas menit lagi ujian di mulai, ayo kita masuk kelas" Ozzie menengahi perdebatan kedua sahabat nya itu, mereka menuju ruang masing-masing dan duduk di tempatnya.
"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak, hari ini saya akan menjadi pengawas kalian, waktu kalian 90 menit, semua tas dan ponsel di kumpulkan di depan, tidak ada yang tertinggal kecuali alat tulis" guru pengawas menjelaskan tata tertib ujian, tentu saja Ozzie tidak mengenal guru tersebut, karena setiap Ujian Nasional semua guru akan mengawasi sekolah yang berbeda dari sekolahnya.
Ozzie merasa sedikit gugup, awalnya dia biasa saja, tapi saat ingin mulai dia merasa sedikit tegang, entah karena memang suasana di ruang yang hening, sehingga dia terbawa suasana, tidak ada yang bersuara kecuali bunyi kertas yang sedang di bolak balik sama siswa.
Setelah enam puluh menit berlalu, Ozzie sudah mengerjakan soal hampir delapan puluh persen, banyak soal yang tidak dia mengerti, seperti nya benar jika kita belajar dengan ujian itu tidak sama, saat guru menjelaskan sangat mudah, saat di kasi soal kenapa begitu sulit dan tidak sama seperti yang guru jelaskan, otak Ozzie rasanya over load, dia bukan laki-laki yang cerdas seperti Rio, otaknya sangat tidak bisa di ajak kompromi, tanpa terasa waktu ujian sudah selesai, Ozzie merasa lega hari pertama sudah terlewati walaupun dia harus pusing tujuh keliling.
"Ujian Nasional harus di hapuskan, bikin stress siswa" Gumam Ozzie pada dirinya sendiri saat keluar dari ruangan ujian di ikuti Rio di belakang nya.
Saat Ozzie dan Rio keluar gerbang sekolah Deni setengah berlari sambil berteriak memanggil kedua temannya itu "woi tungguin ngapa".
"Tumben lu lama keluarnya"
"Gua ngerjain soal lah Zie"
"Serius.?"
"Lu mah meragukan teman lu ni Zie, gua kan mau kuliah kayak lu berdua"
"Bagus lah Den" Ozzie tersenyum tipis ke arah Deni di ikut Rio yang menepuk pundak Deni pelan tanda dia memberi semangat kepada sahabat nya tersebut, mereka pun beranjak pulang ke rumah masing-masing
...****************...
hayoo
siapa yang dulu ngalamin Ujian Nasional
gimana rasanya. tegang ya.
__ADS_1
Author masih loh ujian, sekarang udah gak kan ya, doa Ozzie terkabul ya.