
Reza terbangun pagi ini dengan perasaan malas... hari ini Tia akan pergi, Reza malas menghadapi hari ini.
Tia gelisah menunggu Reza turun dari kamarnya... Sudah pukul 7, Tia janji pada Fian akan ke apartementnya pukul 8
, sebelum Fian berangkat ke kantor.
Biasanya sebelum jam 7 Reza sudah turun.
[ mas Fian... Maaf.. Saya belum bisa berangkat, mas Reza belum keluar dari kamarnya]... Tia mengirim pesan wa pada Fian
[ oke Tia... Wa saja nanti ya...]
[iya mas... Terimakasih]
Tia sudah membawa tas yg akan dibawa...
"Mas Reza kok ga turun ya Bi..?"
"iya.. Tumben neng.."
"atau saya ke kamarnya ya Bi..?."
"iya neng..."
"Aska tunggu disini ya... mami pamit Om Reza dulu"... Tia berkata sambil mencium Aska.
Tia menaiki tangga menuju kamar Reza.
Tok.. Tok.. Tok..
" Mas Reza..." Tia mengetuk pintu kamar Reza..
Tidak ada jawaban.
"Mas Reza...".. Tia memanggil sekali lagi.
Tetap hening...
"apa mas Reza sakit..?..".. Pikir Tia
Tia mencoba membuka pintu kamar Reza... Ternyata Reza duduk di sofa depan jendelanya, masih memakai baju tidur.
"Mas Reza...."... Tia masih berdiri di depan pintu kamar Reza.
"masuklah.."... Suara Reza terdengar dingin.
Tia mendekat...
"Mas.. saya mau pamit..."
Reza tidak menanggapi ucapan Tia...
Reza berdiri dan melangkah menuju tempat tidurnya... Membuka laci dan mengambil sesuatu.
"pergilah... Bawa ini.."... Reza menyerahkan amplop coklat pada Tia.
Tia membuka amplop itu... Berisi uang yang cukup banyak.
" maaf mas... ini terlalu banyak"... Ucap Tia.
"jangan menolak... Pakailah uang itu untuk buka usaha Cafe seperti cita-citamu..."
"baik mas.... terimakasih banyak mas Reza... Saya permisi"
"Tia...."... Panggil Reza
Tia menghentikan langkahnya...
"maafkan aku Tia..."... Reza berkata sambil memeluk Tia erat.
Tia hanya diam.. Dia tidak membalas pelukan Reza seperti dulu...
"maafkan saya juga mas... Maaf saya dan Aska merepotkan mas Reza"
Reza melepaskan pelukannya...
"pergilah... hati - hati.. kalo ada apa-apa datanglah kesini, kamu bisa wa atau telepon kapanpun kamu butuh bantuan"
Reza menatap Tia lembut dan mencium keningnya.
"pergilah Tia... Jangan ajak Aska berpamitan denganku"... Ucap Reza kemudian
Tia mengangguk dan melangkah keluar dari kamar Reza.
Tia berpamitan pada semua... meraih tas dan menggandeng tangan Aska.
Bi Supi dan mba Yati menangis melepas kepergian Tia.
__ADS_1
Tia menuju pagar depan dan berpamitan pada pak Doni.
"maaf kalo saya ada salah Pak Doni... Dan terimakasih banyak... Terimakasih"... Tia berkata sambil berderai air mata Pak Doni sangat baik pada Tia.
"semoga Allah melindungi mba Tia... Simpan nomor saya mba, kalo ada apa-apa mba Tia harus telepon saya.."
Tia mengangguk dan menyerahkan ponselnya pada pak Doni... Pak Doni mengetikkan nomor ponselnya.
"Mas Reza belum mengerti arti perempuan yang sesungguhnya mba... maafkan mas Reza"
"tidak ada yang perlu dimaafkan pak... Setiap orang berhak bahagia.. Termasuk mas Reza" .
"mas Reza menyukai mba Tia sebenarnya, saya tahu itu..."
"saya tidak pantas untuk mas Reza pak..."... Tia menghapus air matanya dan berjalan keluar gerbang rumah Reza... Masuk ke dalam taxi yang sudah menunggunya dan taxi itu berlalu meninggalkan rumah Reza.
Sementara tadi di lantai atas Reza berdiri di balik jendela melihat Tia berbicara dengan Pak Doni.
"kenapa lama sekali Tia berbicara dengan Pak Doni... apa yang mereka bicarakan...?...".. Pikir Reza.
Di dalam taxi Tia mencoba menahan air matanya... meyakinkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja.
Tia tiba disalah satu hotel... Menuju resepsionis dan menerima kunci kamarnya. Tia menggandeng tangan Aska..
"kita tidur disini dulu ya nak...".. kata Tia pada Aska.
"mami...."
"kenapa nak..?.."
"robotnya Om Reza Aska bawa.. Om Reza marah tidak..?"
"kenapa dibawa nak.."
Aska menunduk diam... "Aska suka mami... kalo ga ada Om Reza nanti ga ada yang buatin.."
"Aska bilang sama Om Reza ya...?.."
Aska mengangguk... Tia mengambil ponselnya dari dalam tas dan memencet panggilan video call ke nomor Reza.
" Tia..."... Reza tampak tersenyum di sana, terlihat Reza masih memakai baju tidur yang tadi.
"Aska mau ngomong mas.."
"mana Aska..?.."
Reza terenyuh mendengar ucapan Aska.
"robotnya buat Aska aja... kalo Aska mau Aska boleh ambil semua mainan di rumah, robot - robotan, mobil - mobilan Aska boleh ambil kapan saja Aska mau..."
Aska tersenyum senang... "tidak usah.. Robot ini aja...makasih Om Reza"
"mana mami..?.."
" nihh.."... Aska menyodorkan ponsel itu ke Tia.
"kamu dimana Tia..?.."
"di..ehmm...di hotel mas.."
"kenapa di hotel..?..di hotel mana..?.."
"ehh.. Sudah dulu mas Reza... Terimakasih robotnya"... Tia cepat - cepat mematikan teleponnya.
Reza membanting ponselnya di tempat tidur... dia sendiri bingung dengan apa yang di rasakannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
[ maaf mas Fian...mas Fian sibuk..?..]
[ tidak Tia... Aku main game..]
[ saya ke kantor mas Fian boleh..?..]
[ boleh... Kesini saja]
[ baik.. Saya kesana mas..]
Tia memesan sebuah taxi menuju kantor Fian.
Tia masuk ke lobby kantor Fian..
"bu Tia... Silahkan masuk pak Alfian sudah menunggu,.."
"terimakasih..." Tia tersenyum pada bagian resepsionis dan menuju kantor Fian
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
"permisi mas Fian..."
"masuk Tia..."
"haiii... Ini pasti Aska..." sapa Fian saat melihat Tia masuk ke ruangan sambil menggandeng Aska.
Tia sedikit membungkukkan badannya pada Fian.
Aska bersalaman dan mencium tangan Fian... Fian mengusap kepala Aska.
"duduk Tia... Ada apa..?.... eh sebentar.."... Fian menelepon sekretarisnya memintanya datang ke ruangan.
"siang Pak..."... Sekretaris Fian masuk ke ruangan
"Ayu... Ajak Aska beli ice cream di Cafe depan dan temani dia sebentar saya ingin berbicara dengan mami nya... Aska beli ice cream sama tante Ayu ya?"... tanya Fian pada Aska.
Aska melihat ke arah Tia... Tia mengangguk.
" iya Om..."... Jawab Aska ceria
" ayo sini sama tante Ayu... "... Ayu menggandeng tangan Aska keluar ruangan. Ayu sering mendapat tugas begini, jika ada klien Fian yang membawa anak kecil Fian pasti meminta Ayu untuk menemani sementara Fian berbicara dengan orang tuanya.
" jadi bagaimana Tia..?.. "
" maaf mas... Saya mau tanya sesuatu.."
"apa..?.."
"Mas Fian sudah punya cewek..?.."
"maksudnya gimana Tia..?."
"saya tidak mau dituduh macam - macam karena tinggal di tempat mas Fian.."
" saya punya tunangan... Namanya Riska, sebentar lagi dia akan kesini dia ajak saya makan siang.. nanti aku kenalkan..tenang Tia...kamu jangan merasa rendah diri begitu"
Tok... Tok... Tok...
"sayang... Eh... Maaf, ada tamu..."... Riska nyengir.
"masuk sayang... Tia... Ini kenalkan yang kamu tanyakan tadi... Ini tunangan saya Riska"
"saya Tia...".. Kata Tia sambil menyodorkan tangan.
"Riska..."... Riska menggenggam tangan dan memeluk Tia... Tia kaget dengan perlakuan Riska.
"jadi tinggal di apartement mas Fian kan..?.."
"mba Riska sudah tahu..?.."
"sudah... Aku yang minta mas Fian agar kamu tinggal di Apartement nya... Yang sabar ya..."
"terimakasih mba...."
"sama-sama... Mas Fian masih mau ketemu klien kan..?...biar aku yang antar Tia ke apartement"
"boleh deh... Tia kamu biar diantar Riska ya..."
"maaf saya merepotkan...."
"tidak Tia... Sudahhh..yuk aku antar ambil barangmu di hotel"
"saya permisi mas Fian...."
Fian mengangguk
"hati - hati sayang..." Ucap Fian sambil mencium pipi Riska
Riska sangat ramah... Dia terus saja mengajak Tia cerita.
Riska mengantarkan Tia ke apartement Fian... Dan juga menunjukkan Apartement yang ditempati Fian.
"saya baru akan ke sini kalo mas Fian sudah berangkat ke kantor mba... Dan saya akan pulang sebelum mas Fian pulang ..."... Tia mencoba menjelaskan...
"iya Tia... Saya tau, saya tidak berfikir seperti yang kamu takutkan... Kamu tau, saya lebih takut kalo Fian seruangan sama Anggie daripada serumah sama kamu"... Riska tertawa sambil memeluk Tia.
" aku menganggapmu temanku.. aku tidak punya siapa- siapa lagi Tia... Aku hanya memiliki Fian, tapi sekarang aku punya kamu... kamu mau kan jadi sahabatku..?.."... Riska berkata sambil tersenyum pada Tia.
"terimakasih mba... saya memang janda, tapi saya masih punya hati untuk tidak menyakiti wanita lain... Terimakasih mba Riska"... Tia memeluk Riska erat.
Sudah 6 hari ini dia tinggal di apartement Fian... Dia akan datang ke apartement Fian sekitar jam 9... Dia membersihkan apartement, mencuci baju, setrika, masak, dan sekitar jam 3 biasanya dia sudah selesai... Dia kembali ke apartementnya... Sama sekali Tia tidak pernah bertemu Fian, lebih sering malah Riska yang menemani Tia... Terkadang mereka mencoba resep baru... Riska tidak pintar memasak dia sangat senang menemani Tia mencoba resep - resep baru.
Tia memiliki rencana ingin menyewa sebuah ruko untuk mulai membuka usaha... dia ingin membuka toko kue dan desert... Riska dengan senang hati membantu, Riska membantu Tia mencari ruko yang tidak terlalu mahal tapi strategis tempatnya.
Fian yang senang... Karena setiap pulang kerja selalu ada cake atau puding hasil eksperimen Tia dan Riska.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1