
"Taniaaa" panggil Mona.
Tania langsung menghampirinya, sebelum itu Tania membayar uang transport ke supir angkot.
"Ia kak" kata Tania
"Kamu langsung aja sapu lantai dan ngepel ya, dan Meisa juga, sapu di lantai atas Caffe" ucap Mona.
"Baik kak" jawab Tania dan Meisa.
Merekan pun langsung masuk ke dalam Caffe, mengambil sapu di ruang belakang Caffe. Tania mulai menyapu lantai, sedangkan Mona hanya merapikan meja. Selesai Tania menyapu, di lanjutkan dengan mengepel lantai.
Beberapa menit sudah berlalu....
"Ku perhatikan dia nyantai aja kerjanya, aku dan Meisa yang bekerja dari tadi, dari menyapu, ngepel, bahkan cuci piring kotor" ucap di dalam hati Tania yang sedang mencuci piring di dapur.
"Sampai kapan aku bisa bertahan bekerja di sini" ucap Tania lagi, dan ucapannya itu tidak sengaja di dengar oleh Mona yang sedang pergi ke dapur.
"Kamu kalau tidak tahan bekerja di sini ya udah, berhenti aja, itu aja kok susah" kata Mona dengan nada yang sinis.
"Tidak kok kak, maaf kak, aku masih mau bekerja di sini" jawab Tania
"Kalau gitu, kerja yang bener, jangan banyak ngomong, cepat cuci piring itu, sebentar lagi mau buka Caffe, nanti ada pengunjung datang kamu buatin pesanannya" ucap Mona.
"Ia kak, sebentar lagi selesai"
Tania langsung bergegas menyelesaikan cucian piring nya.
"Nia" panggil Meisa dari atas tangga
"Ia meisa" jawab Tania
"Bisa bantu aku gak, rapikan meja di lantai atas, meja nya berantakan sekali, kalau aku sendiri, keburu pengunjung datang" ucap Meisa.
"Bisa" jawab Tania. Tania pun naik ke lantai atas untuk membantu Meisa merapikan meja.
__ADS_1
"Kamu sudah ngepel ya? " tanya Meisa.
"Sudah, baru saja selesai nyuci piring, untung nya piring kotor tidak terlalu banyak" jawab Tania
"Apa kak Mona yang menyuruh kamu cuci piring? "
"Ia sa"
"Padahal bagian cuci piring itu dia nia, bukan kamu, di jadwal piket seperti itu" kata Meisa
"Benarkah, aku tidak tau sa, tapi kenapa dia menyuruh aku, tidak mungkin kan dia tidak tau jadwal piket nya sendiri"
"Ia, dia sengaja kayak nya bikin kamu tidak betah bekerja di sini"
"Emang kenapa?"
"Aku juga kurang tau sih, yang aku lihat, di belakang bos kita, dia pemalas, tapi jika ada bos kita pasti sok-sok rajin, kayak cari perhatian gitu"
"Emmmm, rupanya dia seperti itu"
"Akhir nya selesai juga" ucap Tania.
"Kita turun aja, nunggu jika ada pengunjung datang" ucap Meisa.
"Ia"
Tania dan Meisa turun ke lantai bawah.
"Eh kalian berdua, dari tadi ngapain aja sih, lama banget" sesampainya di lantai bawah, langsung di tanyai sama Mona.
"Kami merapikan meja kak, meja di atas berantakan" jawab Meisa
"Merapikan aja sampai berdua, lama lagi"
"Maaf kak, meja nya berantakan, jadi aku minta bantu sama Tania, takut keburu pengunjung datang"
__ADS_1
"Sudahlah, kalian buatin tu Capuccino panas dua, dan stik kentang gorengnya, antar ke meja nomor tujuh" ucap Mona
"Baik kak"jawab Meisa.
Tania membuat kan Capuccino panas, sedangkan Meisa membuat kan stik kentang goreng.
"Nia, udah siap kan stik kentang nya? "tanya Meisa yang ingin mengantar pesanan pengunjung.
"Sudah sa, ini stik kentang"jawab Tania memberikan stik kentang goreng yang sudah di pleting di atas piring serta saos sambal nya.
"Biar aku aja yang antar kan" ucap Tania.
"Ya udah, ini antar ke meja nomor tujuh ya" jawab Meisa
"Ia sa"
Tania pun mengantar kan pesanan tersebut ke meja nomor tujuh.
"Ini kak pesanannya" ucap Tania.
"Ia terimaksih" jawab perempuan itu yang memesan.
"Sama-sama kak, selamat menikmati" ucap Tania dengan sopan nya.
Setelah itu Tania dan Meisa duduk di kursi yang berada di dekat tempat penggorengan, untuk menunggu jika ada pengunjung memesan lagi.
Begitu lah pekerjaan Tania, sungguh capek bekerja di Caffe, belum lagi yang di omeli jika ada kesalahan walaupun kesalahan itu kecil. Tapi Tania tidak berputus asa, dia berusaha untuk menyimpan kekesalan di hati nya, dia selalu teringat akan kedua orang tuanya di rumah yang sudah bekerja keras untuk mencukupi kehidupan keluarga mereka.
Sungguh malang nasib Tania, dia selalu di suruh-suruh oleh Mona, dan selalu di salahkan di depan pemilik Caffe jika ada kesalahan yang membuat pengunjung marah, padahal kesalahan yang dia perbuat bukan lah kesalahan dia sepenuh nya. Tetapi di saat seperti itu, Meisa lah yang berada di samping nya, menenangkan Tania jika di marahi, dan membela Tania jika di salahkan. Tania tidak pernah mengeluhkan pekerjaannya di depan orang tua, jika orang tuanya bertanya tentang pekerjaan di Caffe, dia selalu menjawab bahwa dia baik-baik aja dan sangat senang bekerja di Caffe. Pada kenyataannya, dia selalu di marahi, walaupun dia tidak bersalah. Tania hanya tidak mau membuat kedua orang tuanya kawatir, dan dia takut orang tuanya tidak memperbolehkannya bekerja lagi, jadi dia terpaksa berbohong.
Terkadang jika Tania terlambat sedikit aja, Mona langsung memarahinya, Tania tidak lah berniat untuk terlambat, terkadang dia harus membantu Ibu nya di rumah menyiapkan makan untuk Ayah nya serta Adik nya, belum lagi angkot yang lama lewatnya, hanya Meisa lah yang tau keadaan Tania.
Tania dan Meisa menjadi teman dekat, sejak Tania dan Meisa sering curhat, tentang pekerjaan, kekesalan hati, hingga masalah di rumah, Meisa lah yang paling banyak bercerita soal masalahnya di rumah, karna Ibu dan Ayahnya yang sudah lama berpisah, membuat Ibu Meisa berkeinginan mencari pendamping hidup. Di depan Ibu nya Meisa setuju jika Ibu nya mencari pendamping hidup, karna dia berpikir bahwa Ibu nya juga butuh tempat bercerita, dan butuh kasih sayang dari seorang suami. Tetapi di hati yang sebenarnya, Meisa masih belum bisa menerima Ayah angkat, karna dia takut Ayah angkat nya akan memperlakukan dia dengan jahat, dia takut Ayah angkatnya tida tulus terhadap Ibu nya. Tania hanya bisa menenangkan Meisa, dia tidak bisa memberikan komentar banyak karna itu adalah urusan Ibu nya Meisa.
"Sa, aku hanya bisa bilang sama kamu, biarkan lah Ibu mu yang mencari pendamping nya, biar lah dia yang menilai sendiri pendamping nya, karna kita sebagai seorang anak hanya bisa mendukung nya, tapi jika orang yang Ibu mu pilih tidak kamu sukai kamu bisa memberi tahu pada Ibu mu, gimana pun nantinya orang itu lah yang akan menjadi Ayah angkat kamu"ucap Tania setelah mendengar cerita dari Meisa.
__ADS_1
"Ia nia, aku juga berpikiran seperti itu, aku tidak bisa banyak ikut campur soal hati Mama, Mama sudah lama kesepian, Papa aku yang tidak tau keberadaannya dimana, sudah lama aku melupakannya" jawab Meisa.