
Di ruang tamu sudah ada anggota keluarga Abdullah. Mereka menikmati waktu bersamanya.
"Apa elvan belum bangun? Ini sudah hampir ashar anak itu belum bangun."Tanya Zain.
"Seperti belum bangun, yah."Ujar Husain.
"Najwa, naren apa kali jadi berangkat?"
"Berangkat kemana?"Suara dingin dari arah tangga pun. Mengejutkan seluruh keluarga, mereka tak mengira kalau elvan akan mendengar pembicaraan mereka. Elvan lalu berjalan menuruni anak tangga, lalu menghampiri mereka yang berada di ruang keluarga.
Hufftt. Mereka pun menghembuskan nafasnya, lalu Zain sang opa, menceritakan kalau najwa dan keluarganya akan pindah ke Jerman, karena ibunya dari narendra ingin anak mantu'nya tinggal di sana. Dan narendra juga harus mengurus perusahaan yang berada di Jerman.
Degh. Elvan seperti tertikam meteor, merasa terkejut, kalau bundanya akan meninggalkan dirinya di sini. Apa kah bunda sudah tak sayang pada dirinya.
"Apa bunda akan meninggalkan diriku?"Ucap elvan dengan suara seraknya. Ia sampai tak menyadari air mata yang menetes.
Najwa pun menggelengkan kepalanya, karena apa yang di ucapkan elvan tidak benar sama sekali, lalu ia berdiri memeluk Elvan. Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan anaknya itu.
"Tidak sayang. Bunda tidak akan meninggalkan dirimu. Kamu bisa ikut dengan bunda."
"Tidak bunda. Aku tidak bisa ikut dengan bunda, Bunda tau kalau grandma sangat membenci diriku.. Karena aku bukan anak kandung dari kalian, jadi dia semena-mena terhadap diriku. Apa lagi dia menyalahkan diriku atas kematian cucunya."
Mereka pun terdiam, tak bisa berkata-kata. Lalu narendra menepuk pundak anak angkatnya itu, jujur walaupun dia bukan anak kandung dirinya ia sangat menyayangi elvan lebih dari apapun, bahkan ia tak pernah menyalahkan atas apa yang sudah menjadi kehendak dari Allah SWT.
"Son. Percayalah kami tak akan pernah meninggalkan kamu, jika kamu kangen sama kami kamu boleh nyusul ke sana.. Dan kami juga ingin memberikan kamu dan mama kandung kamu bersama."Kata narendra kepada anaknya Elvan.
"Arabian, Sean Dan Elvan kau sudah mengganti tiga identitas, apa kamu ingin mengganti identitas lagi. Nanti ayah buatkan identitas buat kamu. Jadi mulai sekarang jangan bersedih-sedih lagi ok. Dan kami juga sudah merestui hubungan kalian kami tau kalau liora adalah orang yang tepat buat kamu." Sambungnya.
__ADS_1
Mendengar nama liora membuat. Elvan murung seperti tak punya semangat hidup, bahkan sampai sekarang ia belum menemukan keberadaan di mana istrinya berada.
"Sayang percayalah. Bahwa takdir Allah lebih bagus dari apapun, jika menakdirkan kamu bersama liora, pasti dia akan kembali ke sisi kamu. Maafkan bunda karena selama bertahun-tahun menjauhkan dirimu dengan liora, saat ini bunda dan para tetua sudah sadar bahwa cinta kalian tak bisa di pisahkan."Najwa pun menggenggam erat tangan anaknya itu, saat ini narendra dan Najwa memberikan dukungan kepada elvan untuk tetap semangat kedepannya.
"Bunda, ayah, dan adik-adik kalian akan pergi malam ini. Jadi bunda mohon padamu terimalah mamah kamu dengan segenap hati dan jiwamu, maafkan lah seluruh kesalahan yang mamah kamu buat padamu, bunda yakin mama varischa adalah orang yang baik."
Elvan hanya diam tidak bisa menjawab, Karena masih sulit memaafkan sepenuhnya kesalahan mamah, namun hari ini bundanya menyakinkan untuk melepaskan apa yang ada di hatinya. Untuk melupakan segala ada yang dalam hatinya.
"Fatimah."Panggil Elvan kepada wanita yang tidak jauh dari sang Oma.
"Aku sudah tau semuanya mas. Jadi aku akan mengikhlaskan kamu bersama mba liora."Ujar wanita itu, sambil meringis kesakitan.
"Fatimah. Apa kamu tidak apa-apa sayang."Oma merasa khawatir dengan keadaan Fatimah, lalu ia pelihat ada darah yang merembes ke kakinya.
Sang Oma pun meminta kepada Elvan untuk membantu istrinya pergi ke rumah sakit.
***
Namun mereka terkejut, kalau kondisi sang ibu sangat lemah bahkan dia ingin bertemu dengan suami dan Keluarga'nya.
Elvan dan anggota keluarga pun. masuk kedalam bersalin, mereka merasa sedih melihat kondisi Fatimah yang sangat lemah.
"Fatimah.."
"Mas El. Bolehkah aku mencium kamu."
Elvan tak menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya, karena saat ini situasinya sedang tidak tepat. Ia pun mendekat kan wajahnya ke arah istrinya itu.
__ADS_1
Cup, Satu kecupan di bibir sang suami membuat ia merasa bahagia, ia janji mulai sekarang tidak akan lagi menjadi penghalang bagi cinta mereka.
"Mas El. Aku titip putri kita ya, mungkin setelah ini aku tidak akan bisa menyentuh putriku lagi... Dan jangan pernah kamu sakiti lagi hati liora, bahagia kan dia ya mas. Sudah cukup aku menjadi penghalang bagi kalian, harusnya nama Fatimah adalah memiliki hati yang bersih tapi aku memiliki hati yang kotor, aku pernah berkerja sama dengan Brandon untuk memisahkan kalian. Jadi maafkan aku mas, tolong rawatlah anak kita dengan baik. aku percaya suatu saat nanti Liora akan sangat menyayangi putri kita. Aku mencintaimu mas... Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.."Sedetik kemudian Fatimah menghembuskan nafas terakhirnya,. semua keluarga pun perasa sedih dengan kematian Fatimah.
Sang dokter pun memeriksa pasiennya, lalu menggelengkan kepalanya. " Innalilahi wa innailaihi rojiun.. Kami segenap tim medis mengucapkan turut berbelasungkawa atas meninggalnya nyonya muda Abdullah."Sang dokter pun menutup tubuh Fatimah dengan kain putih. Dan meminta kepada seluruh perawat untuk mengurus jenazah Fatimah.
Seluruh keluarga hanya diam saja sejak tadi. Mereka masih tak percaya kalau Fatimah akan meninggalkan mereka dengan cepat.
Seluruh staff rumah sakit dan para dokter pun menundukkan kepalanya, memberikan penghormatan yang terakhir buat sang nyonya muda. Ada yang kasihan, karena nyonya muda harus meninggalkan anaknya yang baru melahirkan.
***
Sementara itu wanita bercadar pun merasakan kesedihan, dia merasakan sesak di hatinya, saat wanita itu mengatakan sesuatu sebelum meninggal dunia.
Wanita bercadar itu baru saja melahirkan seorang putra, yang begitu tampan dengan sang suami.
"Bunda."
"Ikhlaskan saja sayang, Allah lebih sayang kepada Fatimah, sekarang tanggung jawab Kamu adalah mengurus anak kalian."Kata najwa. Yang melihat kesedihan sang anak.
Saat mereka sedang berduka dengan kepergian Fatimah, ada seseorang yang memanggil Elvan.
Elvan yang sedang termenung. Karena selama ini ia tidak pernah perduli terhadap Fatimah yang sedang mengandung anaknya pun merasa menyesal. Berjuta-juta penyesalan menyelimuti dirinya.
Elvan melihat ada mamahnya di depannya pun langsung memeluk mamahnya dan menangis sejadi-jadinya. Karena wanita itu mempertaruhkan nyawanya demi bisa melahirkan anaknya, bahkan selama ini ia tidak pernah bersikap lembut kepadanya.
"Elvan.. Mamah tau kamu kuat seperti papa kamu."
__ADS_1