
Saat ini semua keluarga sedang berada di area makam. Mereka sedang memberikan peristirahatan terakhir buat Fatimah,
Elvan Aristides Rafisqy Fathaan. Tak ia pungkiri bahwa ia merasa kehilangan akan sosok wanita yang selalu membuat dirinya merasa nyaman. Ia pun terduduk di tanah sambil menatap gundukan tanah yang penuh dengan bunga, ia merasa sedih karena Fatimah meninggalkan dirinya dan juga anak yang baru lahir.
Najwa. Yang menunda keberangkatannya pergi ke Jerman, agar bisa menemani sang anak yang sedang terpuruk, walaupun elvan sangat tidak suka sama Fatimah ataupun cinta, tapi ia tau di dalam lubuk hati terdalam Elvan sangat nyaman dengan kehadiran Fatimah.
Ia lalu berjongkok di Deket Elvan lalu menenangkan sang anak. Bersama varischa yang berada di sebelah kanan Elvan dia sedång menguatkan hati anaknya.
Hari sudah semakin sore. Bahkan sepertinya akan turun hujan, lalu kedua wanita paruh baya itu mengajak anaknya untuk kembali ke rumah sakit karena elvan harus segera mengadzani anaknya.
Abrahim Hospital. Mereka terlah sampai di depan rumah sakit terbesar di Indonesia. Dengan sejuta peralatan yang sangat memadai bahkan dokter-dokter di sana adalah lulusan terbaik di luar negeri, maka dari itu, rumah sakit itu banyak orang yang berkunjung ke Ibrahim hospital.
Ketiga orang itu. Memasuki rumah sakit itu dengan wibawanya. Di antaranya adalah Najwa Abdullah, Varischa tzillia, dan Elvan Aristides. Tiga orang yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Yang satu adalah istri dari narendra pebisnis asal Jerman, sedangkan Varischa adalah CEO dharmendra Grup, kalau Elvan adalah pewaris dari dharmendra grup dan Abdullah Gymnastiar.
Mereka. Sangat mengangumi sosok keluarga besar itu. Bahkan tak terkecuali.
Saat sudah sampai di depan ruangan. Elvan meminta kepada sang suster, untuk memperlihatkan anaknya yang baru lahir.
Dan suster itu mengajak keluarganya ke ruang bayi. Saat sudah sampai di ruang bayi, suster itu menyerahkan bayi yang baru di lahirkan oleh Fatimah.
Elvan pun dengan sedih menggendong bayi mungil itu lalu mengadzani putrinya.
Setelah selesai mengadzani putrinya. Elvan menyerahkan anak'nya kepada susternya.
Saat mereka akan pergi. Suster itu memanggil elvan setelah meletakkan anak itu kedalam boks, Elvan dan kedua mamahnya pun menghentikan jalannya lalu berbalik menatap ke arah suster itu.
Suster Kety. Meminta kepada elvan agar mau mengadzani anak orang yang baru saja lahir kedalam dunia ini, suster itu bilang bahwa ayah dari bayi itu tidak akan pernah datang ke rumah sakit.
Elvan dengan ragu menatap kedua mamahnya itu, mereka pun mengangguk setuju.
Elvan pun menerima anak itu dari sang suster. Lalu menggendong bayi laki-laki itu.
Degh. Elvan merasakan perasaan yang berbeda akan bayi yang ia gendong itu, bahkan ia tak ingin jauh dengan bayi itu, seakan-akan ada ikatan yang besar kepadanya.
Varischa juga sama terkejut saat melihat mata anak itu, ia seperti melihat elvan kecil. Walaupun ia hanya melihat Elvan sesaat tapi ia begitu paham akan wajah anaknya itu, apa lagi dengan tatapan matanya mata yang selalu membuat ia merasakan nyaman, apa lagi mata anaknya seperti mata sang suami bola mata yang coklat.
__ADS_1
Bukan hanya Elvan sama varischa saja yang menyadari akan muka bayi itu yang mirip dengan wajah Elvan, tapi Najwa juga sama halnya.
Varischa pun meminta kepada anaknya. Ia ingin menggendong bayi laki-laki itu, elvan pun langsung memberikan bayi itu kepada mamahnya.
Saat ini perasaan varischa sangat nyaman dan damai setelah menggendong bayi laki-laki yang sangat ganteng itu. Setelah menggendong bayi itu, varischa memberikannya kepada sang suster.
Elvan pun membuka suara. Ia bertanya kepada suster siapa ibu dari anak itu, ia sangat penasaran akan mama dari bayi itu.
Namun seorang suster Kety. Tak memberikan nama ibu dari anak yang di adzani oleh Elvan.
"Sus. Apa aku boleh memberikan nama pada bayi ini?"
"Hm. Boleh tuan kalau tidak keberatan, lagian ibu dari bayi ini menyuruh saya buat nyari kan nama buat anaknya."
Elvan lalu memikirkan nama yang bagus buat anak laki-laki yang baru saja ia adzanin. Ia ingin memberikan nama yang bagus buat bayi tampan itu.
"Arshaka Al Ghassan. yang artinya : berakar kuat, lekat, tetap, abadi dan tertanam. Kecantikan dan kelembutan remaja."
"Nama yang sangat indah tuan. Kalau gitu saya permisi dulu."
Varischa bertanya kepada anaknya itu. Ia sangat penasaran akan nama cucunya yang cantik.
Elvan menganggukkan kepalanya. Lalu menatap sang anak perempuannya.
"Khadijah aiza Fatimah Abdullah."
Mereka pun menujui nama pemberian Elvan kepada anaknya itu. Lalu mereka keluar dari ruang bayi.
Varischa meminta kepada anaknya untuk tinggal di kediamannya. Ia ingin sekali merawat cucunya, karena ia dulu tidak sempat membesarkan anaknya.
Elvan lalu meminta persetujuan dari bunda najwa. Dengan tatapan matanya.
Najwa lalu mengangguk. Ia menujui agar anaknya Tinggal di rumah ibu kandungnya, karena sebentar lagi ia akan pergi jadi ia menyuruh agar anaknya untuk tinggal bersamanya.
Akhirnya elvan menuruti perkataan bundanya untuk tinggal bersama mamah varischa. Walaupun sebenarnya ia merasa berat, namun ia akan mencoba untuk membuka lembaran baru bersama dengan ibu dan anaknya. Tentu dengan Liora jika istrinya kembali.
__ADS_1
***
Syafa dan Nafi yang mendengar kalau istri kedua elvan meninggal pun langsung menemui temennya itu.
Saat ini mereka bertiga sedang berada di ruang tamu di kediaman keluarga Abdullah.
"El. Kami turut berduka cita ya atas meninggalnya Fatimah. Kami tidak tau kalau Fatimah meninggal saat melahirkan."
"Terima kasih ya naf, Syaf."
"Naf. Selamat ya aku denger istri kamu juga sudah lahiran? Anak kamu cewe apa cowo?"
"Alhamdulillah El. anak aku cewe."
"Alhamdulillah." Ucap elvan dan Syafa yang turut bahagia dengan kebahagiaan sang sahabat.
Saat ini mereka sedang menikmati waktunya bersama dengan saling berbagi cerita satu sama lain.
"Daddy.."Panggil seseorang anak dengan suara cedalnya. anak berumur 2 tahun itu pun berlari menunju ke arah sang Daddy, walaupun sudah di peringati oleh mbok nah, tapi anak itu tidak mendengarkan omongan dari mbok nah.
Elvan yang melihat anaknya berlari pun menatap tajam sang anak membuat anaknya takut dan tidak berlari lagi.
"Altezza. Sudah Daddy peringati tidak lari-lari."ucap sang Elvan dengan dingin.
"maap Daddy. al tidak akan mengulanginya lagi."
Elvan yang melihat wajah sedih sang anak pun menghela nafasnya lalu menggendong altezza. Al yang di gendong sang Daddy pun sangat bahagia. Al bertanya apakah ia sudah menjadi seorang kakak, karena tadi neneknya bilang kalau dedek bayinya sudah keluar.
Elvan hanya mengangguk. Dan menjawab kalau dedek bayinya adalah seorang cewe, Elvan berkata kepada anak sulungnya agar setia menemani d AA menjaga Dedek bayi.
Anak yang berusia 2 tahun itu pun sangat bahagia dengan apa yang di katakan oleh Daddyny ia juga berjanji kepada Daddy ia akan menjadi kakak yang baik dan selalu menjaganya.
Mereka pun ketawa dengan kegemasan altezza.
"Sayang apa kamu sudah siap..."
__ADS_1