
Rasa bosan karena udah 2 hari ga kerja, hari ini aq niatkan untuk masuk kerja. Walaupun masih rada lemes badanku, tp demam dan pilekku udah mendingan, malah udh sembuh. Kupaksakan mandi dengan menggunakan air hangat, takut jika maksain pake air dingin malah ngedrop lagi. Kupakai baju seragamku dan kulangkahkan kakiku, utk berangkat kerja.
"Loh Dek kok udah berangkat kerja? Emang udang sembuh,..." tanya mas Anto kepadaku, sambil menyentuh keningku menggunakan punggung tanganny.
"Udah mas." jawabku. "Lagian kalau dirumah malah bosan mas." sambungku lagi.
"Oh syukur Alhamdulillah." sahut mas Anto.
"Yaudah, ayo aq antar, Dek." kata mas Anto
Dinyalakan motor matic kesukaanny, yg katany belinya kredit, tapi udah mau lunas. Aqpun langsung gerak cepat menggoncengny.
"Beli bubur ayam dulu, Dek." kata mas Anto. "Buat sarapan kamu, sekalian aq jga mau beli buat sarapan. " kata mas Anto lagi.
Sambil dimatikanny suara mesin motorny, mas Anto bilang ke Tukang Bubur Ayamny. "Mang 2 porsi yaa, dibungkus yg satu jgan pke sambal." pesan mas Anto. "Okee," kata penjual bubur ayam sambil menunjukkan jempol tanganny.
Didepan tempat kerja, aq turun dr boncengan Mas Anto. Mas Anto mengulurkan tanganny, agar aq mencium tanganny. "Ga ah, bukan muhrim. Nanti saja kalau udah resmi, tdk diminta aq nanti jga salim." tolakku, untuk menutupi rasa maluku.
Ditempat kerja, ketemu teman² kerja, ketawa bercanda, hilang sma rsa lemes di badan. "Kemaren kamu sakit apa?" tanya mb Elin. Mb Elin memang dari dlu selalu perhatian, bersay hello sekedar menanyakan kabarku, tdk pernah lupa.
__ADS_1
"Meriang mb." jawabku sambil tersenyum.
"Kali itu tanda²nya hamil." potong Mbah Sasa sinis. Emang dr dulu mb Sasa tdk pernah suka sama aq, karena dipikirny aq sudah merebut mas Umar. Padahal sekarang aq sama mas Umar udah jaga jarak, karena ad hati yg harus kujaga.
"Mbak Sasa kok bisa ngomong gitu, ga baik mb, kl salah jatuhny fitnah. " tegurku.
"Udah Aliva ga usah didengerin Sasa emang begitu, ga usah dimasukin hati, biarin aja." nasehat mb Elin.
"Iyaaa mb ." jawabku lirih, meski sebenarny ad rasa dongkol menghinggapi hatiku.
"Aliva yg cowok kemarn nganter surat keterangan dokter siapa ?? hayoo." tanya mb Elin menggodaku.
"Pacar Aliva ya." tanya mb Elin. Aq menunduk malu. Mungkin kl dilihat mukaku udah seperti kaya kepiting rebut.
"loh kenapa pipimu merah, Aliva??" mb Elin tk berhenti menggodaku.
"Kapan mo dikenalin sama aq?" mb Elin menggodaku lgi.
Jam istirahat aq keluar ke kantin, kumainkan dawaiku, takut ad kabar penting dari kampung.
__ADS_1
Tp malah mas Anto ya ngechatt.
Mas Anto : "Assallamualaykum"
Me. : " Waallaykumsalam"
Mas Anto : "Udah maem Dek, jangan telat maemnya yaa."
Me. : " Ini lgi mau pesen maem mas"
Mas Anto : "ya udah selamat menikmati, makan siangmu, Dek. "
Me. : " Iya mas, makasih perhatianny yaa"
Mas Anto: " Sama² sayang, 😘😘😘
Bertambah merah pipiku. Dengan rasa berbunga² kuhabiskan makan siangku. Sudah selesai makan siang, aq masuk ke mushola, utk melaksanakan sholat Dhuhur. Dipintu mushola aq bertemu mas Umar. Agar tidak ad rasa dendam aq menyapanya..
"Assallamualaykum, mas" sapaku. Mas Umar cuman diem aj menengokku pun tidak. Aq masih berpikiran positif mungkin tidak dengar.
__ADS_1
Setelah selesai melaksanakan kwajibanku, aq keluar mushola, ternyata ms Umar masih menungguku. Dia menatapku. dan berkata." mulai sekarang kamu ga usah, menyapaku, kl ketemu pura² tidak kenal aj." Setelah berkata seperti itu dia langsung pergi, dan menghilang.