Cinta Yang Terkikis

Cinta Yang Terkikis
32. Syifa Sakit


__ADS_3

Hari berganti hari, pertumbuhan Syifa mulai ada perkembangan walau menurut dokter itu sangat lambat. Syifa udah bisa memanggilku mama. Walaupun kata pertama yang terucap papa. Sungguh itu membuatku bahagia sekali. Mas Anto sedikit demi sedikit bisa berubah. Dia mau menggendong anaknya. Mau mengajak jalan anaknya walau cuma muter-muter gang.


Suatu hari Syifa batuk-batuk terus dan sudah diperiksain ke bidan Yuli, tapi belum ada perubahan sedikitpun, akhirnya mas Anto minta surat rujukan ke rumah sakit. Biar segera ada penanganan khusus.


Esok paginya Syifa dibawa ke rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan yang panjang baru diketahui anakku menderita penyakit flek paru-paru. Ini disebabkan karena anakku terlalu dekat dalam memakai kipas angin. Memang Syifa ga bisa jauh dari kipas angin. Kalau tidak ada kipas angin anakku tidak bisa tidur. Setelah tahu begini rasanya aku menyesal banget.


Walaupun pemeriksaan tadi yang begitu intensif, tapi Alhamdulillah anakku tidak memerlukan rawat inap, cuma obat jalan saja, anakku dalam masa pengobatan selama 6 bulan dan setiap 3 hari sekali harus melakukan kontrol kesehatan dan nebus obat.


Sekali dua kali, mas Anto masih rajin ngantarin kontrol dan menebus obat, kontrol ke 5 sudah mulai nengeluarkan sungutnya. Walaupun masih mau mengantar tapi kalau diiringi rasa marah dan omelan kok rasanya ga enak banget.


"Mas, kamu pulang aja terus tidur. Biar aku yang nungguin Syifa yang sedang diuap. Daripada kamu nganterin aku marah-marah ga jelas begitu mendingan kamu pulang, aku juga ga senewen." kataku pada mas Anto.


"Hallah apa sih yang kamu bisa, paling kamu nanti ga bisa pulang, kesasar lagi." kata mas Anto ngremehin aku.


Terus terang saat itu emosiku lagi diuji, suami bukannya bisa nenangin istrinya yang kepikiran masalah anaknya yang lagi sakit, laa kok malah nambahin pikiran dengan hal-hal yang jelas.


"Terserahlah mas, aku capek dengerin kamu ngoceh-ngoceh ga jelas." jawabku sambil ngeloyor pergi ke kantin rumah sakit.


Daripada aku mikirin kemarahan mas Anto yang ga jelas mending aku makan, untuk mengisi staminaku, agar aku juga tidak ngedrop. Aku memikirkan keadaan anakku yang sedang diuap, mungkin karena terlalu memikirkan anakku, aku tidak menyadari kehadiran mas Anto.

__ADS_1


"Kamu makan kok ngga ngajak-ngajak sih Dek?" tanya mas Anto sewot.


"Bukannya tadi kamu lagi marah-marah mas?" aku balik bertanya. "Salah lagi. Perasaan aku salah terus deh." kataku lagi.


"Aku laper pesenin makan." kata mas Anto.


Daripada kudengar omelan mas Anto lagi, akhirnya aku pesanin makanan untuknya.


"Kamu makan disini sendiri ga pa-pa kan? Soalnya aku mau nengokin Syifa. Siapa tau udah selesai terapinya" kataku pada mas Anto.


Sebenarnya alasan ini adalah yang sangat pas untuk menghindar dari mas Anto, aku paling males kalau tiap hari diomeli terus. Aku juga heran cowok kok mulutnya kaya cewek banget. Seharusnya kelebihannya itu dipakai untuk membuat nyaman dan tenang istrinya, tapi ini malah dipakai untuk ngomelin.


"Belum." jawabku singkat.


Kami pun terdiam, sibuk ke dalam pikiran masing-masing. Dalam pikiranku cuma ada anakku. Samar-samar kudengar suara game. Aku lihat mas Anto sibuk memainkan game di hapenya.


Tak berapa lama, pintu kamar terapi anakku terbuka, perawat keluar sambil menggendong Syifa yang menangis. Mas Anto segera menggendong Syifa.


"Terapinya gimana tadi Sus?" tanyaku kepada suster perawat itu.

__ADS_1


"Alhamdulillah bu, lendir yang keluar lumayan banyak, Inshaalloh nanti batuknya cepet reda bu, asal jangan lupa adek Syifa minum obatnya ya. Jangan bosan." kata suster perawat.


Batuk anakku sudah lumayan banget sembuhnya, anakku nafasnya sudah berangsur normal. Hal ini tentu saja membuat aku bahagia sekali. Hati ibu mana yang tidak akan senang jika anaknya sudah sembuh dari sakit yang menyiksanya.


"Eh Adek udah sembuh?" kata mas Anto kepada Syifa. "Ayah seneng, kalau adek sudah sembuh. Nanti kalau udah bener-bener sembuh kita pulang kampung nengokin mbah yuk." kata mas Anto.


Syifa cuma ketawa-tawa aj,. Lagian mana ngerti bocah segitu diajak ngobrol. Paling cuma bisa nangis dan ketawa.


"Emang mau mudik Yah? Dalam rangka apa?" tanyaku pada mas Anto.


"Kangen aja. Pas bareng adikku pulang dari merantau yang dari Kalimantan." jawab Mas Anto. "Kamu belum kenal kan sama adikku?" tanya mas Anto lagi.


"Belum." jawabku singkat.


"Nanti aku ngurus cuti baru kita mudik ya.." kata mas Anto lagi


"Terserahlah kamulah, aku manut aja." jawabku.


"Adek ayo minum obat dulu, tolong mas pegangin susah kalau ga dipegangin minum obatnya." kataku pada Anto.

__ADS_1


Akhirnya dengan drama yang memilukan acara minum obat Syifa selesai sudah. Kugendong anakku sampai tertidur. Kubaringkan dengan lembut sambil kubisikkan "Cepet sembuh anakku". Kubaringkan tubuhku disebelah anakku, dan akupun tertidur.


__ADS_2