Cinta Yang Terkikis

Cinta Yang Terkikis
21. setelah menikah


__ADS_3

Suara adzan shubuh menggema begitu indahny, kebetulan kontrakanku letakny dibelakang mushola, walaupun mushola itu kecil, tapi yang sholat disitu selalu rame. Aq terbangun dari tidurku. Kuucapkan syukur alhamdulillah, karena aq masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup ini dengan sehat. Tangan kekar mas Anto masih memeluk erat perutku. Tangan kekar yang semalam memberi aq kehangatan dan kenyamanan. Beginikah rasany menikah?? Oh Tuhan jangan kau renggut kebahagiaan ini, izinkanlah kurasakan kebahagiaan ini utk selamany.


Kuangkat perlahan tangan mas Anto yang ad di atas perutku, agar tidak mengganggu tidur mas Anto. Kusiapkan sarapan pagi untuk mas Anto, karena hari ini aq sudah mulai masuk kerja lgi. Yah...benar cutiku sudah habis. Setelah itu aq mandi dan bersiap untuk kerja. Aq bangunkan mas Anto, sambil ku goyang-goyangkan badannya "mas bangun, sarapan dulu." kataku sambil membangunkan mas Anto.


Kuulangi lgi caraku membangunkan mas Anto, sambil iseng aq mencium pipiny. Aneh kenapa dia langsung bangun. "Aq mau berangkat kerja dulu ya mas, kamu belum masuk kerja kan?" tanyaku pada mas Anto. "O iya nanti kalau lapar sudah aq siapkan masakan untuk makan siang nanti, mas." jelasku pada mas Anto.


"Kamu berangkat sekarang Dek, tungguin aq. Aq mandi dlu yaa, nanti aq antar." kata mas Anto. Aq cuman menganggukkan kepalaku pertanda setuju.


Ditempat kerjaku, banyak teman-teman yang sudah tahu berita tentang pernikahanku dari status wa ku, atau status fb ku. Aq memang ingin berbagi kebahagiaan, dengan ngeshare acara pernikahanku. Mungkin bagi orang lain ini terlalu norak, tapi bagiku cara ini yang terbaik untuk mengungkapkan kebahagianku.

__ADS_1


"Wah pengantin baru nih." kata mbak Elin, "Sudah acara belah duren belum?" tanya mbak Elin lagi.


"Sakit tapi enak yaa Aliva." kata mbak Pur ikut nimbrung. "Gimana kesanny cerita dong? biarin yang masih jomblo tambah ngenes yaa Aliva." kata mbak Pur, sambil melirik mbak Sasa.


Mungkin bagiku obrolan kayak gini terlalu vulgar ataupun tabu. Tapi bagi yang sudah menikah mungkin sudah biasa. Aq hanya tersenyum aj membalas pertanyaan-pertanyaan mbak Pur dan teman-teman.


Alhamduliilah aq sangat beruntung sekali, aq dikelilingi orang-orang yang baik terhadapku. Walaupun aq diperantauan, setidakny aq memiliki mereka sebagai tempat bertukar cerita. Mereka adalah saudara terdekatku setelah tetangga-tetanggaku.


Disela gurauan dan candaan teman-temanku, ad sindiran dari seseorang. "Gimana bisa dibilang bahagia, kalau ad pengorbanan hati yang terluka." kata wanita itu, sambil menatap sinis terhadapku. Aq tak tahu siapa dia. Aq tidak mengenalny. Aq pura-pura tak mendengar, mungkin orang itu tidak ad maksud lain. Aq masih berpikiran positif. Ku abaikan orang itu.

__ADS_1


Waktunya jam pulang. Sebelum aq mengabari mas Anto untuk menjemputku. Ternyata mas Anto sudah terlebih dulu menjemputku. Duh pengertian sekali suami baruku ini, kataku dalam hati. Hati adek makin klepek-klepek mas.


"Capek ga Dek?" tanya mas Anto


"Ga tuh mas. Hari ini ga banyak pekerjaan jadi masih rada nyantai." jawabku


"Kita ga langsung pulang dulu ya Dek, jalan-jalan dulu muter-muter kawasan." kata mas Anto


"Iyaa mas." jawabku senang. Yaelah cuman diajak muter-muter kawasan aj senengnya kayak memenangkan lotere. Lebay bener aq ini.

__ADS_1


Setelah capek aq diajak muter-muter keliling kawasan industri. Kamipun pulang.


Di rumah sudah ad teh manis yang sudah dingin karena mungkin kami kelamaan jalan-jalan tadi. Rasany gimana yaa, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Bahagia, senang jadi satu. Walaupun cuma teh manis sudah jadi dingin tetap aq minum, karena teh manis ini dibuat dengan rasa sayang.


__ADS_2