
#[Maaf dengan tidak mengurangi rasa hormatku, untuk bab ini bahasany mungkin rada vulgar dan panas]
"Mas, aq sudah bersih, haidku sudah selesai." kubisikkan ditelinga suamiku yang sedang menonton acara TV yaitu Balapan motor kegemaranny.
"Yang bener kamu, Dek?" mas Anto balik bertanya.
"Iya mas." jawabku.
Dikecupnya bibirku perlahan, dan lama-lama mas Anto bermain lidahny semakin panas, sampai aq kehabisan nafas. Diciuminya dan dikecup setiap inci tubuhku mulai dari bibir leher. Kurasakan rasa panas yang menjalar. Aq ingin lebih. Tangan mas Anto tak mau diam bergerilnya diantara pa****raku, diremas dan dihisap layakny seorang ank kecil yang sedang menyusu.
Gairahku semakin memuncak, desahan-desahan la****t terdengar berbisik.
Satu persatu penutup tubuhku dibuka mas Anto. Setiap kecupan selalu meninggalkan kissmark. Banyak tanda di tubuhku, tapi aq tak peduli. Aq ingin lebih. Mas Anto membuatku melayang merasakan kenikmatan surga dunia yang pernah kurasa. Senjata pusaka milik mas Anto menghujam ke area ke wanitaanku. Pelan-pelan dan akhirny aq teriak, "Aduh mas, sakit." kataku setengah berbisik. Takut terdengar tetanggaku. bisa berabe, nantiny.
"Pelan-pelan ini, Dek. Sakit sebentar, setelah itu tidak sakit lgi, Dek. " kata mas Anto.
"Kok mas Anto tahu?" tanyaku selidik.
__ADS_1
"Aq nanya mbah gougle Dek," terang mas Anto.
Pelan-pelan senjata pusaka mas Anto menembus kema****ku, dan merobek selaput daraku. Untuk sejenak Mas Anto diam, membiarkanku menguasai keadaan. Hentakan yang pertama pelan semakin lama semakin kencang. Aq terbuai dengan nikmatny surga dunia. Aq pun merasakan kenikmatan itu. Hingga akhirnya aq kli**** dan mas Anto juga merasakan hal yg sama. Air mata menahan sakit, menjadi air mata kenikmatan.
Diciuminya aq dengan lembut dan terdengar suara mas Anto, "Terima kasih, kamu sudah menjagany untukku Dek." Dipelukny aq dengan pelukan lembut. Dikecupny keningku lama sekali, diselimutinya tubuhku yang polos tanpa sehelai benang pun. Kamipun tertidur. Setelah pergulatan panas kami.
Aq terbangun karena tangan mas Anto meremas pa****raku, dihisap dan dipilin lagi dan lagi. Aq tak bisa menolak. Karena aq jga mulai ketagihan tangan nakal mas Anto.
Setelah bermain di pa****raku tangan mas Anto bermain di area sensitifku. Jarinya bermain terampil disitu. Hingga aq mersakan sesuatu yg keluar. Setiap inci tubuhku tdk luput dari ciuman mas Anto. Dan dimasukkan lagi senjata pusaka milik Mas Anto ke area sensitifku. Kali ini tak kurasakan sakit lagi. Seperti pertama kali tadi. Sekarang yang kurasakan hanya kenikmatan dan hanya kenikmatan. Hentakan demi hentakan, hujaman demi hujaman senjata pusaka mas Anto, yang dari ritme pelan menjadi kencang. Desahan demi desahan mewarnai pergulatan ini.
Kugigit bibirku, kunikmati setiap hujaman senjata suamiku. Aq terkapar lemas, sedang mas Anto masih sanggup menghujani hentakan lagi, lagi dan lagi.
Akhirnya mas Anto terbaring lemas diatas tubuhku.
"Mas bangun dulu, aq mau kekamar mandi sebentar." kataku kepada mas Anto.
Mas Anto duduk di tepi kasurku dan menunggu ku untuk berdiri. Pas aq mau pakai baju, "Tidak boleh, ga usah pke baju dlu, nanti aq mau nambah." kata mas Anto. Kututupi tubuhku dengan selimut. Aq mau berdiri dan kurasakan perih yang sangat di area sensitifku.
__ADS_1
"Sakit mas, kalau buat jalan." kataku manja.
"Tunggu sebentar, " kata mas Anto. Dia langsung mengambil air hangat, dan dibersihin area kewanitaanku dengan air hangat.
"Masih sakit?" tanya mas Anto lagi
" Udah mendingan mas." jawabku
"Berarti bisa nambah lagi dong." ucap mas Antok sambil mengangkat salah satu alisny.
"Besok lgi lah. Ini masih perih." sahutku.
Hari ini aq tidak masuk kerja, karena jalanku tidak seperti biasa. Terpaksa aq meliburkan diri, karena malu. Sambil tiduran aq membayangkan pergulatan panas semalam. Akhirny aq sudah menjadi istri mas Anto seutuhny. Hari ini adalah hariku. Mas Anto sekarang yang melayaniku. Aq tidak boleh masak, atau mengerjakan apapun.
"Kamu istirahat aj Dek. siapkan staminamu untuk nanti malam lagi yaa. " kata mas Anto.
"Sakbahagiamulaaaah mas. " walaupun bibrku cemberut, tapi hati kecilku tetap berharap lebih.
__ADS_1