Cinta Yang Terkikis

Cinta Yang Terkikis
19. kembali ke Jakarta


__ADS_3

Waktu cepat berlalu. Kini saatny aq dan mas Anto kembali ke Jakarta untuk kerja. Aq pamit pada ibu dan bapakku, adik-adikku, dan jga saudaraku.


"Seringlah jenguk bapak dan ibu nduk, kalau ada waktu!" seru bapakku kepadaku. "Tolong aq nitip pesan sama kamu nak Anto, jangan sakiti anaku, kalau kamu sakiti dia pulangkanlah ankku." pesan bapakku sama mas Anto.


"Inggih pak, saya akan menjaga Aliva sebaik-baiknya. Bapak dan ibu jangan khawatir. Yang penting Bapak dan Ibu jaga kesehatan disini." jawab mas Anto.


"Anakku jadilah istri yg selalu taat sama suami, sabar dalam menghadapi cobaan rumah tangga, jangan meminta sesuatu kepada suamimu, jika hal itu melebihi kemampuanny." nasehat ibupun aq dengarkan.


"Iyaa ibu. Bapak ibu aq berangkat, doakan aq selalu kuat menghadapi segala cobaan yg nanti menhadang." pamitku pada ibu dan bapakku., sambil kucium punggun tangan kedua orang tuaku. Kupeluk adik-adikku, dan kubisikin kata "jaga selalu ibu dan bapak, kalau ad apa-apa segera hubungin mbak ya."


"Iyaa mb." jawab adik-adiku.

__ADS_1


Taxi online pesanan Mas Anto telah tiba, dan kami pun segera meluncur ke terminal Tirtonadi, untuk naik bus jurusan Semarang.


"Kita pamit dengan keluargaku yang di Semarang dulu ya Dek." ujar mas Anto saat itu. Aq tak menjawab cuman menganggukkan kepalaku saja. Entahlah ada perasaan tidak nyaman saja, bila mampir ke Semarang, ibu mertuaku menganggap seolah aq tak pernah ad. Sedangkan aq tak tau salahku ap??


Hingga tanpa terasa, aq sudah sampai di rumah mertuaku. Tak ad sambutan apapun. Aq jga tak berharap itu. Aq duduk di kursi tamu sendirian. Mas Anto pergi pesan tiket bis untuk keberangkatan ke Jakarta nanti.


"Jangan kau kira aq sudah merestuimu menjadi menantuku, kamu hanya gadis miskin yang menggoda anakku, ketahuilah anakku sudah aq jodohkan dengan gadis pilihanku." ujar ibu mertuaku mengintimidasi. "Sampai kapanpun aq tak pernah merestui kamu jadi menantuku. Kamu cuman tamu bagiku." sambung ibu mertuaku dengan tatapan yang tajam.


"Jangan kau sebut aq ibu, Aq bukan ibumu." teriak ibu mertuaku.


Mas Anto langsung mengajakku ke warung, mengajakku untuk makan siang. Dia cuman bilang. "Maafkan ibu Dek, aq janji ga akan membuat air matamu menetes lagi." ucap mas Anto sambil menghapus air mata yang menetes dipipiku.

__ADS_1


Suara bunyi telp dawai mas Anto berbunyi. Telp dari bapak mertua. "Katany kamu tadi mampir kesini kok ngga menunggu bapak, " tanya bapak. "Kenapa, ada masalah ap?" tanya bapak meninterogasi mas Anto.


"Oh ga ad masalah apa-apa pak, tadi aq keburu lapar, terus ingat keberangkatan bus terlalu mepet. Maaf pak ga sempet pamit, tadi terlalu buru-buru. Kami berdua mohon maaf pak. " jawab mas Anto. Berusaha menutupi kelakuan ibu mertuaku, mungkin mas Anto takut bapak mertuaku kepikiran.


"Yo wes kalau tidak ad masalah apa-apa. Hati-hati di perantauan, sekarang statusmu sudah menjadi seorang suami, jagalah hati istrimu, buatlah diriny nyaman, jangan kau sakiti istrimu. Dengarkan dengan sabar keluhannya. ingatlah selalu, dia anak orang tuanya dan memilih hidup denganmu. Ingatlah pengorbananny. " nasehat yang panjang dari bapak mertuaku.


Mas Anto menhela nafas dengan pelan dan menjawab " Inggih pak. "


Sambil menunggu bis datang, aq mainkan dawaiku, ucapan selamat menempuh hidup baru masih saja ada yang mengirim. Dan kubalas satu demi satu pesan dari temanku, saudaraku yg kemaren tidak bisa ikut menhadiri pernikahanku.


"Ayo Dek kita segera naik bis, itu bisny sudah datang." ajakan mas Anto mengagetkanku. Aq segera memasukkan HPku ke dalam tas kecilku, dan segera kurapikan barang-barangku takut ad yang ketinggalan. Akhirnya bis pun berangkat menuju tujuan Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2