
Diwaktu itu krisis keuangan negara lagi sedang terpuruk. Lengsernya sang pemimpin membuat perekonomian negara kacau. Banyak demo-demo mahasiswa terjadi dimana-mana. Dan berakhir dengan jarahan barang-barang, pembakaran Mall-Mall. Investor-investor asing banyak yang membatalkan kontrak kerjasama. Tenaga-tenaga asing banyak yang pulang ke negaranya. Mungkin takut dan tidak nyaman, merasa keselamatannya terancam.
Begitu pula pemilik dan pemimpin Garmen tempatku bekerja. Beliau-beliau memilih pulang ke negaranya, karena ketakutan. Dan ini berimbas dengan karyawan-karyawan PT Angkasa Jaya. Yaah.... kami diliburkan entah sampai kapan tanpa uang tunjangan, barang-barang yang akan di export terbengkalai tidak terurus.
Aku dan karyawan lainnya cuma bisa duduk dan meratapi nasib. Akhirnya rakyat kecil lagi yang jadi korban kejamnya politik.
Berita di TV terjadi kebakaran-kebakaran dimana-mana, juga demo mahasiswa yang bahkan menelan korban jiwa. Membuat suasana semakin mencekam dan mengakibatkan ketakutan warga. Kami tak bisa kemana-mana. Tak bisa berbuat apa-apa.
Krisis moneter kala itu mengakibatkan pabrik tutup, yang otomatis tidak ada penghasilan untuk kami. Pendapatan zonk, sedangkan biaya hidup harus jalan terus. Berasa sesak didada. "Ini aku masih belum punya anak, gimana yang sudah punya anak? Apa ga tambah pusing. " tanyaku dalam hati.
Kuhela nafasku.Tetap kusyukuri hidup ini. Setidaknya masih ada ada nikmat sehat untukku. Banyak yang mengeluh gimana nanti.
Sampai dirumah kunyalakan TV dan beritanya masih itu-itu saja. Kumatikan TV saja jika berita itu malah membuatku takut.
Terdengar bunyi dering HPku, terlihat ibuku yang telepon. Langsung kuangkat dan kujawab.
"Assallamualaykum, bu" aku mengucapkan salam pada ibuku.
__ADS_1
"Waallaykum salam, piye nduk, do waras kabeh to? Nang kono aman ora? [ Waallaykumsalam, gimana nak, semuanya sehat kan? disana aman ga?]." tanya ibuku khawatir.
"Alhamduliilah bu, sehat semua, Inshaalloh disini aman. Gimana kabar bapak dan ibu di sana??" tanyaku pada ibuku.
"Alhamdulillah, disini juga sehat semua nduk. Piye kerjone, prei opo ora? [ gimana kerjanya, libur apa masuk?]" jawab ibuku.
"Untuk sementara pabriknya ditutup bu, jadi karyawannya diliburkan semua, ga tau sampai kapan." jelasku pada ibuku.
"O.. yo wes, ngko yen ono opo-opo ndang ngabari yo nduk. Biar bapak dan ibu tidak khawatir. [O... ya sudah , nanti kalau ada apa-apa, cepet-cepet kasih kabar ya nak.]." pinta ibuku.
"Inggih bu. [Iyaa bu]." jawabku.
Suara ketokan pintu terdengar.
"Siapa?" tanyaku, sambil buru-buru kupakai baju dan kerudung asal.
"Aku, yang. Mas Anto." jawabnya.
__ADS_1
Kubuka pintu dan terlihat wajah capek suamiku. Segera kubikinkan kopi untuk mas Anto. Sambil menikmati kopi bikinanku Mas Anto berkata, "Untung aku bisa pulang, Dek. Dimana-mana ada razia. Banyak jalan-jalan yang ditutup. PT ku diliburkan 3 hari. Semoga keadaan cepat kondusif ya Dek. "
"Iyaa mas." jawabku. "Ditempatku juga diliburkan ga tau sampai kapan. Soalnya pak Boznya pulang ke negaranya. Mungkin balik kesini kalau sudah kondusif." ujarku pada mas Anto.
"Asyek dong, kita bisa enak-enak. Bikin Anto junior ya Dek. " kata mas Anto.
"Hmmmm." balasku.
Sebenarnya aku masih sakit hati padamu mas. Tapi aku tidak mau dilaknat oleh malaikat. Aku tidak mau menanggung banyak dosa. Mungkin ini salah satu ujian untuk kesabaranku.
"Habis minum kopi terus mandi. Apa mau makan dulu? Kalau mau makan dulu, biar aku dinginin nasi." kataku menawarin mas Anto.
"Aku mandi dulu aja, Dek, terus makan. Kamu masak apa, Dek?" tanya mas Anto.
"Semur kentang dan tahu, Mas." jawabku.
"Kayaknya enak itu, Dek. Selagi aku mandi kamu dinginin nasi dulu ya, Dek!" titah mas Anto.
__ADS_1
"Siaap pak boz." jawabku.
Kami makan malam bersama dengan seadanya. Dan berharap hari esok lebih baik dari hari ini. Kami berharap keadaan cepat membaik, demi kelangsungan hidup kami.