
Prosesi demi prosesi upacara adat harus kujalani. Kesibukan keluarga besarku semakin nampak terlihat. Para tetangga bahu membahu, gotong royong membantu. Kerabat tak lelah mencari 7 macam sumber mata air yang berbeda, untuk acara siramanku besok. Semuany terlihat kesibukanny. Dan aq masih tetap dalam pingitan.
Hari ini adalah prosesi siraman, airny berasal dari 7 mata air yg berbeda, dicampur dengan bunga bermacam-macam. Aq cuman pake kemben dan bahuku ditutupi untaian melati yg dirangkai membentuk kain penutup bahu. Harum semerbak wangi bunga melati memenuhi kamar mandi. Pemangku adat membacakan doa-doa diiringi alunan suara gending lagu jawa. Gayung pertama yg menyiramku adalah kedua orang tuaku bergantian, sesudah itu kedua mbah putriku, sesepuh kampungku, dan terus sampai selesai. Diakhiri bpkku yang menggendong aq dari belakang, jadi ingat waktu aq masih kecil, setiap habis pulang main, kl ga digendong belakang ga mau pulang. Dan aqpun tertidur di gendongan punggung bapak. Bapak aq kangen masa kecilkuu. Tangis haru tertahan.
Setelah siraman aq ganti baju, dilanjutkan ucapan permohonan maaf, dan minta doa restu kepada kedua orang tuaku. Isak tangisku semakin tak terbendung, ingat dosa-dosaku kepada kedua orang tuaku. Tak kuat aq melanjutkan permohonan maaf ini. Bapak ibu ampuni dosa-dosaku. Teringat bapak dan ibu selalu tak lelah dalam menjaga, merawat anakmu. Ya Tuhan lindungilah kedua orang tuaku dari segala mara bahaya ataupun penyakit apapun.
Setelah acara permohonan maaf dan doa minta restu, prosesi dilanjutkannya dengan ibuku dagang dawet [cendol], dan bapakku memayungi, yang beli pake pecahan genting. Kalau yang beli banyak itu artiny rezeki keluargaku kelak jga banyak, mitosny demikian. Ga tau benar ap ga. Bagiku Rezeki udah ad yg mengatur, udah digariskan sewaktu kita berumur 4 bulan dlm kandungan, dan yg bisa mengubahnya hanya doa dan sedaqoh.
__ADS_1
Walaupun masih H-1 tamu sudah banyak yg datang, dari teman ibuku sesama pedagang pasar, teman bapkku, ataupun teman sekolahku. Semuany mendoakan utk kebaikan.
Malamny adalah malam midodareni, byk teman sekolah yg datang, ngobrol sampai mlm, sambil ngeliat tanganku yg dihias henna. Ketemu teman bertukar cerita utk menghilangkan rasa cemas menghadapi hari esok, hari yang selalu aq nanti.
Malam ini banyak yg tidak tidur, suara berisik menghias pelaminan. Ya alloh berilah kemudahan dalam setiap urusanku. Mas Anto kamu lgi ngapain, kl aq lgi bingung begini engkau selalu menenangkanku, engkau pintar selalu dalam menghiburku. Aq kangen mas. Kucoba pejamkan mata ini kenapa ga bisa tidur. Kenapa aq ga bisa tidur. Suara perutku nyaring terdengar, ternyata lapar membuatku ga bisa tidur.
aq kedapur utk mengambil makanan, atau roti utk mengganjal perutku. Aq malah diomelin Mbah Sastro, sesepuh yg dipercaya ibuku mengelola dapur. "Nduk cah ayu, pengantin ora pareng mlebu pawon [ Nak, pengantin itu tidak boleh masuk kedapur]." kata mbah Sastro.
__ADS_1
"Entenono nang kamar wae nduk, ngko tk terne maeme [ tunggu di kamar aj nak, nanti aq antar nasiny] ." sahut mbah Sastro
Rasa semakin nggak enak tambah bersemanyam di hati, masa orang tua melayani aq, gimana ceritanya ini.
"Nduk iki maemny [ nak ini nasiny]." kata mbah Sastro
"Matur nuwun mbah, kulo kan dados pekewuh mbah mosok bocah nom nyuwun dilayani tiyang sepuh [terima kasih mbah, aq kan jadi ga enak hati mbah, masak ank muda minta dilayani org yg lebih tua]." sahutku ga enak hati.
__ADS_1
"Ora po-po nduk, koe kie sesuk kan ameh dadi ratu sehari mulane ora oleh nang pawon. [ga pa-pa nak, kamu besok kan mau jdi ratu sehari, makany tidak boleh ke dapur] ." terang mbah Sastro kepadaku.
Akhirny aq pun makan dengan lahap. Benar, setelah perutku kenyang aq berasa ngantuk. Dan aq pun tertidur.