
Di dalam kamarku yg sudah dihias begitu manis oleh adikku Erni, aq mengganti baju pengantinnya dengan baju tidurku. Sanggulku yg berat, banyak jepit-jepit rambut yang kecil menghiasi rambutku, membuat kepalaku bertambah pusing.
"Mas tolong bantu lepasin sanggul ini, berat banget rasany." aq minta tolong pada mas Anto.
Dengan sabar mas Anto membantu melepas sanggulku. Sekarang udah rada ringan beban dikepalaku, tinggal bekas hair spray yg membuat rambutku menjadi kaku. Nanti sekalian wudhu aq usap pke air yg banyak, kataku dalam hati.
Kuhapus riasan wajahku, yang paling susah riasan paes yg ad didahiku. Kuhapus pelan-pelan takut belepotan kemana-mana. Sedikit demi sedikit riasan wajahku sudah hilang, tapi bekasny masih ad.
Habis sholat maghrib, pintu kamarku diketuk adikku. "Mbak kata ibu disuruh makan, ajak mas Anto sekalian." teriak adikku didepan pintu kamarku.
"Iyaaa." jawabku.
Kupandangi wajah mas Anto yg tertidur, hidungnya yg mancung, matany yg terpejam, bibirny yang merah walaupun dia suka merokok. Otak mesum menari-nari di dalam benakku, membayangkan malam pertama nanti. Ya Tuhan. Kutepiskan pikiran kotor itu, segera kubangunkan mas Anto yang kelihatan lelah.
"Mas, bangun udah maghrib. Mandi terus sholat. Bapak sama ibu menunggu utk makan bareng." ujarku. Mas Anto menggeliat. Sambil berlalu dia sempet-sempetny mencium pipiku.
Sebelum masuk kamar mandi, mas Anto bilang "Makan yg banyak dek, siapin stamina untuk nanti malam." sambil mengerlingkan sebelah matany. Kutinggalkan Mas Anto di kamar aq menuju ruang tengah, keluarga masih rame.
__ADS_1
"Loh Aliva mana suamimu?" tanya bulik Sri
"Lagi mandi bulik." jawabku
"Kalau mau makan tungguin suamimu, layani dia dlu baru kamu boleh makan." nasehat ibukku.
Tak berapa lama mas Anto datang dengan wajah segarny. Kuambil piring dan kusendokkan nasi untukny. "Lauk dan sayur pake apa mas?" tanyaku pada mas Anto.
"Apa aj, yang menurut kamu enak aq jga mau." jawab mas Anto. Akhirnya kuambilkan Renndang jawa, dan sambal goreng krecek. Aq dan mas Anto makan dengan lahap. Setelah makan mas Anto ikut ngobrol dengan bapak dan saudara, sedangkan aq mencuci piring bekas makan kami tadi. Aq pamit pada ibuku
"Bu, Aliva masuk kamar dlu ngantuk capek badan Aliva." pamitku pada ibuku.
"Inggih bu." jawabku
Aq pun masuk kamar. Kuselonjorkan kedua kakiku. kupejamkan mataku, tapi kuteringat belum sholat isya. Kulaksanakan kewajibanku untuk menhadap sang kholik, mengucap syukur atas nikmat yg sudah diberikan kepadaku. Kulipat sejadah dan mukenaku. Rasany plong klau sudah melaksanakan sholat. Entah karena kecapaean apa karena aq yg sudah mengantuk, aq pun tertidur.
Aq terbangun karena ada elusan diwajahku. Kaget aq, lupa kalau mas Anto sudah menjadi suamiku. Hampir saja kuteriak.
__ADS_1
"Udah sholat isya belum, mas?" tanyaku pada mas Anto.
"Belum." jawab mas Anto
"Sholat dlu, jangan menunda-nunda sholat, nanti syetan senang menggoda." nasehatku.
"Oke, aq sholat dlu." kata mas Anto.
"Aq bersih-bersih badan dlu ya, mas." kataku. Kupersiapkan diriku, untuk melayani suamiku dan menjadikan aq seorang istri yang seutuhny. Akan kupersembahkan sesuatu yang paling berharga, karena itu hak suamiku. Kubersihkan badanku. Kupakai wangi-wangian agar Mas Anto bertambah bergairah. Tapi apa ini, terasa hangat keluar dari area sensitifku. Aq berlari ke kamar mandi. Aq buka celana dalamku. Alamak, aq datang bulan.
"Sudah selesai mas, sholat isya? " tanyaku.
"Sudah Dek, kamu siap bertempur sekarang Dek?" tanya balik mas Anto.
"Kayakny harus kita tunda, pertempuran kita mas. Soalny aq lgi datang bulan." jelasku pada mas Anto.
"Jadi batal dong kita belah durennya? Aq menunggu lagi dong?" tanya mas Anto lgi.
__ADS_1
"Kamu harus sabar mas, ini ujian." kataku menghibur, sambil menarik selimut untuk tidur lagi. "Ayo mas tidur." ajakku. Walaupun kecewa mas Anto akhirny tertidur jga. sambil memelukku.