Cinta Yang Terkikis

Cinta Yang Terkikis
13. lamaran


__ADS_3

Akhirnya hari lamaranku pun tiba, keluarga mas Anto datang melamarku tanpa dihadiri ibu mas Anto, yang beralasan lgi sakit. Entahitu benar atau tidak, aq pun tidak ambil pusing. Aq dan mas Antopun tidak ikut hadir dikarenakan banyak pekerjaan, dan jga tidak mendapatkan izin, yang pasti kami menyambut dengan bahagia kabar tersebut.


Dapat diputuskan kedua belah pihak keluarga, hari pernikahan kami, akan diselenggarakan bulan depan, itu jga menurut kata mbah putriku hari baik untukku, mungkin menurut orang lain itu terlalu mendesak. Dan aq pun tk peduli pemikiran org lain, yg aq pedulikan sebentar lagi aq menjadi istri mas Anto.


Waktu yg sangat sempit, menjadikan kami kejar setoran. Tak ad kesempatan untuk bersantai, pikir kami, waktu itu. Semua dikerjakan mas Anto dari pesanan undangan, beli serah-serahan pengantin. Aq diajak hanya untuk dimintain memilih desain undangan yg aq inginkan. Dan jga memilih serah-serahan yang menurutku paling bagus. Dari mukena, sejadah, sandal sepatu, baju, daleman wanita khususny untukku, aq yang milih. Biar tidak mubazir kata mas Anto kala itu.


"Aliva, sekarang kamu kelihatan bahagia banget, hayooo ap yg disembunyiin?" selidik mbak Elin.


"Hmmmm... bisa aj mb Elin. Inshaalloh bulan depan aq mengakhiri masa gadisku mb." jawabku sambil tersenyum. "Doakan semua lancar dan tidak ad halangan apapun yaa mb." pintaku pada mb Elin.


"Ya Alloh, selamat ya, aq doakan semoga lancar sampai H." doa mbak Elin dengan tulus.

__ADS_1


"Makasih banyak, mb." sahutku


"Terus nanti masih kerja disini kan Aliva?? masih diperbolehkan kerja kan?? Jangan berhenti bekerja yaa." pinta mbak Elin. "Aq akan merasa kehilangan kalau kamu berhenti Aliva." ucap mb Elin menampakkan wajah sedihny.


"Inshaalloh masih mb." jawabku. "Takut dirumah bosan, biasa kerja terus ga kerja." terangku kepada mbak Elin.


Kabar pernikahanku banyak karyawan bagian lain yg sudah mendengar, tak terkecuali jga mas Umar. Entah kenapa dia sering menatapku dengan tatapan yg menyedihkan.


"Kenapa kau tega banget meninggalkanku, menikah dengan org lain?" tanya mas Umar.


"Maaf mas, jika tutur kataku ataupun perilaku selama ini sudah banyak menyakitimu, aq mohon, maafkan aq, jgan sampai ad dendam antara kita mas. Kita bertemu dengan baik-baik, aq harap kita jga berpisah baik-baik." sahutku pda mas Umar.

__ADS_1


"Kenapa harus dia yg kmu pilih, bukannya aq?" tanya mas Umar frustasi.


"Mas ini masalah hati, tidak bisa dipaksakan, aq yakin kamu besok akan menemukan cinta yang lain, akan menemukan gadis yg lebih baik dariku. " jelasku pada mas Umar.


Mas Umar pergi, tanpa salam. Aq pun cuman bisa menggeleng-gelengkan kepalaku. Terus terang aq bingung dengan sikap mas Umar yg labil. ya sudahlah ga usah terlalu dipikirkan kataku dalam hati.


Pulang kerja seperti biasa aq dijemput mas Anto. Walaupun lelah, capek masih sempet menjemputku. Duh, hati mana yg ga akan meleleh karena perhatianmu.


"Capek Dek, ?" tanya mas Anto.


"Ga Mas," jawabku. "Kamu merasa capek mas?" aq balik bertanya. "Jangan terlalu capek mas, takutny nanti pas waktuny hari H malah sakit." ujarku khawatir.

__ADS_1


"Makasih perhatianmu, sayang." jawab mas Anto. "Aq terlalu bersemangat mengurusin semuany sayang, tapi aq janji, aq akan menjaga kesehatanku, sayang. " kata mas Anto menenangkanku.


"Makasih semuany mas. Jangan sampai berubah perhatianmu padaku mas, rasa sayangmu padaku jga jgan sampai berkurang." pintaku dalam setiap doa-doaku.


__ADS_2