
Semenjak kelahiran Syifa, kesibukanku sebagai ibu rumah tangga semakin bertambah dari ngurusin rumah, ngurusin suami dan ngurusin anak, tapi Alhamdulillah aku nikmati semua itu. Kurasakan bahagia kala kuliat senyum anakku, kurasakan damai kala kulihat nyanyaknya putri kecilku. Kurasakan terluka kala anakku merasakan sakit. Dan kurasakan sedih jika anakku menangis, atau sedang rewel.
Semakin gede Syifa, anakku semakin sering rewel, setiap malam selalu menangis, dan anakku sering sakit-sakitan mungkin dikarenakan aku kurang ilmu pengetahuan tentang merawat bayi. Mas Anto bukannya mengerti dengan keadaanku, atau berniat membantuku, tapi malah sibuk dengan dunianya sendiri yang menurutku tidak jelas. Setiap malam aku selalu sendiri menggendong anakku agar anakku tidak rewel lagi. Karena aku juga ga enak sama tetangga kontrakanku, takut mengganggu, walaupun aku tau mereka pasti maklum, namanya bocah pasti ada waktunya rewel.
Mas Adi dan Mbak Anggi adalah pasangan pengantin baru, kebetulan mbak Anggi juga lagi mengandung anak pertama. Usia kandungannya baru berusia 4 bulan. Mereka inilah yang selalu perhatian padaku. Mas Adi dulu temen kerja Mas Anto. Karena dia mendapatkan pekerjaan yang diinginkan Mas Adi keluar dari PT mas Anto.
"Mas Adi bantuin Mbak Aliva gendongin Syifa, kasihan ga ada yang gantiin." kata mbak Anggi saat itu, mungkin ga tega melihatku kecapaian.
"Iya, siap yank." kata Mas Adi.
Anehnya Syifa diam aja digendong mas Adi, malam-malam diajak jalan muter-muter sambil aku temani, takutnya nanti kalau Syifa rewel kan bisa gantian. Sama mas Adi, Syifa malah bisa ketawa-tawa ga pernah rewel.
"Emang Anto kemana?" tanya mas Adi kala itu. Tapi masih menggendong Aliva.
"Aku ga tahu Mas, pamitnya sih tadi lembur." jawabku.
"Ooh." jawab mas Adi singkat
Setiap Aliva rewel malah yang langsung datang menggendong mas Adi, bukan mas Anto selaku ayahnya.
__ADS_1
Setiap hari sibuk terus alesannya lembur, ga tau lembur beneran apa ngga. Semenjak aku membaca buku harian mas Anto saat itu sudah cintaku sudah terkikis sedikit demi sedikit. Aku bertahan karena ada Syifa dan aku juga malu pada kedua orang tuaku.
"Kamu ga masak Dek?" tanya mas Anto malam itu, setelah dia pulang kerja.
"Masak bayem tadi mas, sama goreng tahu tempe, aku jga nyambel. Tapi sekarang bayamnya sudah aku buang karena udah ga enak." jawabku.
"Mau ga makan pake tahu sama tempe mas?" tanyaku kemudian.
"Kamu gimana sih Dek, aku kan capek-capek kerja, masak cuman dikasih makan pakai sambel tahu tempe." jawab mas Anto marah.
Setelah srlesai mandi. Mas Anto keluar sambil membanting pintu, kagetlah Syifa. Hingga membuat Syifa menangis kencang. Akupun ikut menangis kaget juga, baru pertama kali melihat kasarnya sifat mas Anto.
Mas Adi menghampiriku dan langsung menggendong Syifa, aku mengikuti mas Adi di belakangnya, sambil menangis kuikuti langkah mas Adi.
"Sabar ya." kata mas Adi
"Iya Mas." jawabku sambil senggukan.
"Kamu udah makan, kalau belum makan dirumah sana sama Anggi?" tanya mas Adi.
__ADS_1
"Aku udah makan mas." jawabku.
"Emang Anto tuh, ga punya perasaan, ga punya ot**, ga punya hati, anak nangis bukannya di gendong, didiemin malah ditinggal minggat." mas Adi malah ngoceh ga karuan.
"Mungkin cari makan Mas, tadi soalnya mengeluh, merasa lapar. " jawabku sekenanya.
"Apapun alasannya ya seharusnya kalau punya anak itu harus bisa bersikap dewasa, laa kok ini malah tambah kayak bocah." oceh mas Adi lagi.
"Biarin mas." jawabku sambil tersenyum.
Setelah Syifa tertidur Mas adi langsung menidurkan Syifa di kasur. Diciumi anakku dengan sayang.
"Udah kamu juga istirahat, ga usah dipikirin. Anto emang begitu, anggap aja lagi banyak kerjaan jadi bawaannya marah-marah terus." kata mas Adi menenangkanku.
"Iya mas, maksih banyak atas bantuannya ya." jawabku kemudian sambil menutup pintu.
Kubaringkan tubuhku disamping anakku. Kutatap langit-langit kamarku. Kuteringat masa dulu kelembutan dan keromatisan mas Anto.Sekarang sudah tidak ada itu semua. "Kenapa kau bisa berubah, mas?" tanyaku dalam hati. "Apakah ada cinta untuk yang lain?" beribu pertanyaan ada dalam hatiku.
Kupandangi anakku, tak bosan-bosan aku melihatnya. Kamulah harapanku, kamulah semangatku, kamulah matahariku... Anakku. Kubelai lembut kepala anakku kutiupkan doa dan harapanku. Semoga Alloh selalu menjagamu, menjadikan kamu wanita yang hebat, menjadikan kamu manusia yang bermartabat.
__ADS_1
Tengah malam mas Anto pulang tanpa salam, langsung masuk ke dalam kamar dan tertidur. Entah setan apa yang sudah merasuki tubuhnya sekedar mengucap salam saja sekarang sudah tak sanggup. Aku cuman bisa mengelus dadaku, dan menggeleng-gelengkan kepalaku, melihat tingkah laku mas Anto yang semakin jadi tak karuan. Semoga Tuhan bisa memberikan aku stok sabar yang banyak, agar aku bisa selalu menghadapi sifat mas Anto.