
Stasiun Poncol sudah terlihat, peluit kereta sudah terdengar kami pun turun dari kereta, istirahat sambil menunggu taxi, mas Anto mencari taxi untuk mengantarku pulang. Akupun masuk mobil diikuti mas Anto. Entah kenapa persaanku ga enak banget, mendekati rumah mertuaku.
Tok.. Tok... Tok pintu diketuk mas Anto, keluarlah ibu mas Anto, diciuminya pipi anakny dan kemudian mas Anto disuruh masuk, sedangkan aku, dibiarkan diluar, tidak dipersilahkan masuk. Akhirnya mas Anto sadar juga, aku digandengnya masuk ke kamar mas Anto. Aku baringkan tubuh gembul anakku, kuciumi dengan gemas pipi cubi anakku. Akupun ikut berbaring. Baru saja mau memejamkan mataku pintu kamar ada yang membuka. Ibu mertua datang dengan sapu dan alat pel, sambil teriak dia membangunkanku.
"Hey, pemalas enak banget kamu, datang-datang langsung tidur, ayo nyapu habis itu ngepel." suara ibu mertua menggelegar keras sekali.
"Iyaa ibu, aku dengar ibu." jawabku pada ibu mertua, segera kusapu lantai kamar dan seluruh ruangan dalam rumah ini, setelah itu aku pel. Selesai kusapu teras rumah kemudian aku pel juga, karena baru saja selesai ngepel lantai masih basah. Ibu mertua pulang dari masjid jalan sambil tergesa-gesa, hingga menyebabkan ibu mertua jatuh.
"Alivaaaaaaaaa." teriak ibu mertuaku. "Kurang ajar kamu, kenapa lantai bisa licin begini, sengaja kamu lakukan ini agar aku terjatuh. Dasar menantu kurang ajar." ibu mertuaku menuduhku sambil menunjuk-nunjuk jari telunjuknya ke arah mukaku.
"Maaf ibu." kataku ketakutan.
"Ada apa ini?" tanya mas Anto tiba-tiba datang dariarah dalam rumah.
"Istrimu kurang ajar ingin membunuhku Anto, ngepel ga kering, sengaja biar aku jatuh." tuduh ibu mertua lagi kepadaku.
"Ga sengaja ibu, Aliva ga mungkin berniat bikin ibu jatuh." jawab mas Anto membelaku.
"Hallah...dia itu munafik." kata ibu mertuaku sambil menunjuk mukaku lagi.
__ADS_1
"Sudah ibu, mari aku bantu berdiri." kata mas Anto sambil memapah ibu mertua.
Aku kembali ke dapur, kemudian memasak untuk sarapan kami sekeluarga, dikulkas cuma ada bayam dan tempe. Aku bikin sayur bayar dan goreng tempe. Setelah matang aku antar sarapan untuk ibu mertuaku. Dengan wajah sinis beliau menatapku.
"Setelah selesai ini kamu nyuci, kakiku berasa sakit habis jatuh tadi." perintah ibu mertua.
"Iyaa ibu." jawabku sopan.
Baru sebentar mulai mencuci pakaian terdengar Syifa menangis kencang.
"Alivaaaaaaa, anakmu nangis tuh, cepat diemin anak itu." teriak ibu mertuaku lagi.
"Itu anaknya Aliva berisik, cengeng banget, membuat aku ga bisa tidur." jelas ibu mertua kepada bapak mertua.
"Ya wajar to Bu, anak bayi rewel, anaknya Aliva kan juga cucumu Bu." kata bapak mertua.
Ibu mertuaku cuma memandang sinis ke arah bapak mertua yang menggendong Syifa.
"Udah Aliva kalau mau nyuci lagi, biar Syifa aku gendong." kata bapak mertua. "Anto pergi kemana?" tanya bapak mertua kepadaku.
__ADS_1
"Saya tidak tau pak, tadi pergi tidak pamit." jelasku kepada bapak mertua.
Selesai mencuci akupun menyuapin Syifa. Anakku memang gampang kalau masalah makan, makanya badanya cukup gembul. Memandikan Syifa adalah saat yang menyenangkan, kupakaikan rok imut dan atasan warna pingki anakku keliatan tambah lucu sekali. Sambil kugendong anakku, aku ajak Syifa mencari supermarket terdekat, karena terus terang aku takut kesasar, belum hafal jalan daerah sini.
Kususuri bahu jalan dengan berjalan kaki sambil menggendong Syifa, kulangkahkan kaki matahari mulai menyinari dengan teriknya. Sambil ngadem aku duduk dibelakang Boneka Kepala Besar, mengistirahatkan sejenak badanku yang dari tadi belum istirahat. Kuhempaskan nafasku, kulihat sekelilingku. Terlihat dari belakang sosok seseorang dengan memakai bajusama yang dipakai tadi pagi sama mas Anto. Bergandengan mesra dengan seorang wanita.
"Mas Anto." panggilku secara spontan. Dan orang itu pun menoleh kearah aku memanggil. Terkejut aku ternyata sosok orang itu mas Anto. Mas Anto menjadi salah tingkah.
"Lama tak jumpa sekarang gimana kabarmu mas? O iya kenalkan ini anakku Syifa, kasian masih kecil ternyata melihat perselingkuhan ayahnya." aku mencoba mencairkan suasana. "Ini istrimu mas? Kok ga kamu kenalin ke aku." tanyaku sama mas Anto dan mengulurkan tanganku pada cewek itu.
"Tari." dia menyebutkan namanya.
"Aliva." aku juga mempekenalkan diriku. "Maaf mas, mbak aku mau membeli susu anakku keburu siang dan panas." akhirnya aku pamit ke mas Anto dan Tari.
"O iya silakan, Hati-hati Aliva." kata mbak Tari lagi.
Dengan dada yang sakit, aku masih bisa menahan, tapi bagaimana dengan airmata yang memaksa ingin keluar aku tak bisa menahannya. Dengan berjalan sambil beruraian air mata aku mencari produk susu untuk anakku, sambil kutenangkan hatiku. Kuucapkan istiqfar berkali-kali, mungkin banyak sekali dosa-dosa yang sudah aku perbuat.
Setelah aku mersa agak tenang, aku menuju ke kasir untuk membayar susu anakku. Sampai dirumah, kusiapkan koperku dan kumasukkan baju perlengkapan Syifa. Aku pulang ke Solo, tanpa pamit keluarga mas Anto. Lagian rumah tidak ada orang. Kupanggil tukang ojek yang kebetulan lewat, meminta untuk mengantarku ke halte bus terdekat.
__ADS_1
"Ibu, Bapak aku mau pulang." gumamku pelan.