
Alunan adzan shubuh menggema, membangunkanku dari tidurku. Aku terbangun dan berharap apa yang kemaren aku baca cuma mimpi saja. Kulaksanakan kewajibanku, sholat shubuh. Setelah selesai sholat shubuh kubangunkan mas Anto. untuk melaksanakan sholat shubuh.
"Mas ayo bangun mas, udah adzan shubuh, sholat mas! " kataku sambil membangunkan mas Anto.
"Nanti Dek, aku masih capek." kata mas Antok dan kembali tidur lagi.
Ya Tuhan, sama Engkau yang sudah menciptakan dia saja, ga melaksanakan perintahMu, dan tidak merasa takut. Apalagi cuma menyakiti aku. Apakah aku harus selalu menghormati dia?
Kubiarkan saja mas Anto. Sebenarnya hatiku masih dongkol dan kesal. Tapi aku harus sabar. Semoga nanti mas Anto bisa berubah, itulah harapanku.
Kunyalakan kompor dan kubikin sarapan paling praktis indomie goreng pake telur diirisi cabe. Menggugah selera pagiku. Kunikmati sarapanku, sendiri. Hanya ditemani teh hangat tanpa gula. Selesai sarapan. Kubangunkan lagi mas Anto. "Mas mau berangkat kerja jam berapa? " tanyaku pada mas Anto.
"Aku berangkat siangan, Dek. Kamu ga pa-pa kan hari ini naik ojek online. Aku ga bisa nganter Dek, mataku ngantuk banget?" tanya mas Anto
"Ga pa-pa mas. Ya sudah kamu istirahat saja. O iya mas aku ga masak, ntar kalau kamu lapar bikin indomie goreng sendiri ya!" kataku pada Anto. Tanpa menghiraukan jawaban Mas Anto, aku pakai sepatu dan seragamku.
__ADS_1
"Aku berangkat mas." pamitku tanpa mencium tangannya aku berangkat kerja. Daripada buat naik ojeg online, mendingan aku jalan kaki, selain hemat dan bikin sehat.
Mata bengkakku masih kelihatan walaupun kututupi pakai consuler dan bedak. Tapi akupun tak peduli. Tetap kulangkahkan kakiku dengan santai. Sampai ditempat kerjaku tepat waktu. Eh masih ada waktu istirahat 10 menit.
"Kamu ada lagi masalah Aliva?" tanya mbak Elin. Mbak Elin memang selalu peduli kepadaku.
"Matamu bengkak, semalam kamu habis menangis ya?" tanya mbak Elin lagi.
"Iya mbak, nonton drakor ceritanya tragis sampai kebawa perasaan mbak." kataku pada mbak Elin. Aku mencoba menutupi masalah di dalam keluarga baruku. Akan kuselesaikan masalah ini dengan caraku. Tanpa campur tangan orang lain.
"Soalnya kemaren kamu ga dijemput pulangnya kan, mungkin trus kamu marah sama suamimu." tebak mbak Elin lagi.
"Tidak mbak, kemaren suamiku lembur. PT nya beli mesin baru dari Jerman, kebetulan kemaren mesinnya sudah datang. Jadi ceritanya Unboxing gitu loo mbak." jawabku sekenanya.
"O syukurlah kalau ga ada masalah, Aliva. Aku ikut tenang." ujar mbak Elin.
__ADS_1
"Makasih mbak sudah perhatian dan sudah peduli kepadaku." kataku terharu.
"Aku berasa punya kakak sekarang." kataku dengan rasa senang pada mbak Elin.
"Berumah tangga itu nanti banyak masalah Aliva, tergantung kita menyikapinya. Apakah dengan kesabaran, atau dengan kemarahan.
Kalau dengan kesabaran dan kepala dingin kita dalam menyelesaikan masalah dalam rumah tangga kita, maka keputusan yang didapat biasanya akan yang baik-baik.
Tapi keputusan yang kita ambil karena dasar emosi dan amarah, akan timbul penyesalan dikemudian hari.
Yakinlah semua keputusan yang diambil karena terburu-buru itu tidak baik hasilnya." nasehat mbak Elin panjang.
"Kamu juga sudah kuanggap adikku, dukamu juga dukaku, kalau ada masalah apapun jangan sungkan cerita kepadakuu ya. Nanti kita cari solusi bareng-bareng. " kata mbak Elin lagi.
Hari ini aku dapat pelajaran hidup, banyak nasehat yang kudapat. Aku harus kuat. Dan tetep semangat, menghadapi ujian dan cobaan dalam rumah tanggaku. Aku harus banyak belajar. Belajar sabar, belajar mengendalikan diri, dan belajar mengendalikan nafsu. Akan kubuat kamu melupakan pacarmu, Mas. Itu tekatku.
__ADS_1