Cinta Yang Terkikis

Cinta Yang Terkikis
33. misi pulang kampung


__ADS_3

Seiringnya waktu perubahan mas Anto tanpa terlihat sekarang sudah mau mengajak jalan-jalan Syifa walau cuman muter-muter di gang, mau bantuin pekerjaan rumah walau cuma ngepel saja.


"Mah, kapan-kapan kita mudik yuk!" seru mas Anto waktu itu. "Kita lama ga mudik, Syifa jga blm pernah pulang kampung." jelas mas Anto.


"Ayo... kapan?" tanyaku saat itu.


"Nanti Mah, aq lagi mengurus cuti liburku, semoga cepat diAcc yaa." jelas mas Anto lagi.


"Aku juga sudah kangen ibu bapak, Syifa juga belum ketemu nenek dan kakeknya yg ada di Semarang dan Solo kan?" kata mas Anto.


"Aamiin." jawabku kemudian. "Tapi nanti dari Semarang langsung mampir ke Solo kan, mas?" tanyaku pada mas Anto.


"Iya sayang." jawab mas Anto.


Seminggu setelah percakapan itu, Mas Anto pulang kerja dengan wajah yang sangat ceria.


"Mah cuti liburku sudah di Acc, kita jadi pulang kampung, siapin semua yang akan dibawa pulang kampung." kata mas Anto.


"Siaap Yah." jawabku sambil tersenyum, aku packing baju-baju Syifa, susu, dan semua perlengkapan bayi pada umumnya. Dengan hati riang aku persiapkan semua itu, berharap dengan sangat dua hari lagi ketemu ibu dan bapak di Solo.


"Aku mau pesen tiket kereta api dulu ya, Mah. Kamu dirumah saja ga usah ikut, panas juga." kata mas Anto.


"Memang pesan tiketnya kemana mas?" tanyaku pada mas Anto.

__ADS_1


"Ke stasiun Jatinegara." jawab mas Anto.


"O ya sudah kalau begitu, hati-hati dijalan ya." kataku kemudian.


Kuambil koper dari atas lemari, mulai aku packing baju-bajuku dan baju-baju mas Anto. Tidak banyak sih yang dibawa, soalnya izin cutinya cuma 5 hari. Yang paling banyak barang-barang Syifa.


Belum selesai aku packing Syifa sudah bangun dari tidurnya, kucium dengan gemas pipi gembulnya. Kulanjutkan membuat susu buat anakku. Aku tidak menyusui anakku karena air susuku tidak keluar, produksi air susuku mungkin sedikit. Susu pun sudah siap didalam dot kesukaan Syifa, walaupun baru 4 bulan sudah bisa memegang botol dot sendiri walaupun tidak kencang. Dengan lahap anakku minum susu melalui dot itu. Tak membutuhkan waktu yang lama susu pun sudh kandas tak tersisa lagi.


"Gimana kamu ga tambah gembul nak, susu segini penuhnya cepet banget habisnya?" tanyaku pada Syifa. Walaupun aku tau anakku belum bisa menjawabnya tetap saja aku ajak ngobrol. Mungkin karena kekenyangan Syifa ga rewel, dan mau main guling sendiri. Sambil ngoceh-ngoceh dengan bahasa dari planetnya.


Tak berapa berapa lama kudengar suara motor mas Anto dari luar.


"Assallamualaykum." salam dari mas Anto


"Sudah Mah, nanti sore kita berangkat, jam 2 kita harus sudah ada di stasiun kereta api Jatinegara." jelas mas Anto.


"Padahal sekarang sudah hampir jam 12an mas." kataku.


"Kamu sudah packing semuanya kan, baju Syifa, susunya, packing bajuku?" tanya mas Anto.


"Sudah tinggal packing handuk dan perlengkapan mandi." jawabku.


Setelah selesai packing, aku mandi sebentar biar ga gerah, kubawa nasi dan telur dadar untuk bekal di perjalanan. "Lumayan daripada jajan." pikirku.

__ADS_1


Waktunya berangkat kami pamit sama mbak Lia, sekalian menitipkan kunci.


"Assallamualaykum, mb Lia, kami pamit mau pulang kampung dulu ya, nitip kunci ya mb." kataku pada mb Lia.


"Waalaykum salam. Syifa mau pulang kampung ya? Hati-hati dijalan ya. jangan lupa oleh-olehnya nanti ya." jawab mbak lia


"Siaaap mbak. kalau ga lupa ya." kataku bercanda.


Sampai distasiun Jatinegara jam sudah menunjukkan setengah 2, ga lama menunggu kereta api. Walaupun sering pulang kampung naik kereta api, kenapa pas pulang saat ini kok dadaku berasa berdebar-debar ya, ada apa ya. Kutepiskan perasaan itu, kubikin santai saja.


Suara peluit kereta memekakkan telinga. bertanda kereta sebentar lagi sampai semuanya pada mempersiapkan diri masing-masing. Aku gendong Syifa, mas Anto yang membawa 2 koper baju.


Sudah sampai di gerbong yang sama di tiket kereta, kami pun duduk, Syifa sudah ga sabar, tidak rewel, mungkin Syifa paling seneng kalau jalan-jalan. Aku dengarkan celotek anakku.


"Mah aku tidur sebentar ya." kata mas Anto.


"Iya Yah." jawabku.


"Tari sebentar lagi kita ketemu, tunggu aku." gumam mas Anto lirih, tapi aku masih bisa mendengarnya. Terkejut aku mendengar semua itu, pantasan kamu semangat mengurus semuanya, ternyata ada motif dibalik semua ini.


"Tari siapa mas?" Aku coba bertanya sama mas Anto, tapi mas Anto tak menjawabnya, benar-benar tidak mendengar, atau hanya pura-pura tidak mendengar, aku tak tau.


Ternyata oh ternyata misimu ini toh mas, mau temu kangen sama mantan pacarmu.

__ADS_1


Luruh semua persendianku, lemas semua tulangku, aku dan anakku cuma dijadikan tameng dengan dalih, kekek dan neneknya kangen, agar suamiku bisa pulang kampung untuk menemui pacar pertamanya. Ternyata yang kangen suamiku, kangen dengan cinta pertamanya.


__ADS_2