Cinta Yang Terkikis

Cinta Yang Terkikis
17. hari bahagia


__ADS_3

Hari yang kunanti telah tiba, hari ini akan berlangsungny acara akad nikah dan diteruskan dengan resepsi pernikahan. Pikiranku tambah tak menentu. Rasa khawatir dan cemas itu tetap ad. Pagi ini ibu tukang perias pengantin menunjukkan keahlianny dr habis shubuh sampai jm 7 pagi, wajahku didandani, dimake over menjadi ratu ala adat Solo. Rambutku disanggul ala pengantin adat Solo, untaian kembang melati menghiasi rambutku. Sanggul beserta asesoris yg berat sudah aq kenakan. Baju kebaya putih yg dipersiapkan untuk acara akad telah membalut tubuhku. Sempurna. Satu kata dari ibu tukang rias pengantin, wallaupun sdh setengah baya, tpi tidak diragukan keahlianny dalam merias pengantin. Sudah banyak yg menjadi pelangganny.


Pagi ini, waktu ini, jam ini, detik ini, aq akan mengakhiri masa gadisku. Jam menunjukkan pukul 8 pagi, penghulu sudah datang dari tadi, tapi rombongan dari keluarga calon suamiku belum datang, untungny mas Anto sudah disini, ini jga yg sudah dikhawatirkan Mas Anto, makany mas Anto tinggal disini ditemani salah satu kerabat keluarga mas Anto.


"Sah" terdengar hampir serentak semua yang hadir ditempat mengucapkan kata itu. Rasa haru, senang dan bahagia, jadi satu dalam dada. Tangis bahagia akhirnya tumpah juga. Mas Anto lancar mengucapkan ikrar Ijab, diawali dengan Bismillah didepan penghulu hanya dengan satu helaan, tanpa dihadiri anggota keluargany. Sebenarny kami pihak keluarga mempelai pengantin wanita pengen menunggu tapi, tapi keluarga mas Anto tdk kunjung datang jga. Sedangkan pak penghulu tak bisa menunggu karena banyak yg sudah mengantrinya. Doa dilantunkan untuk kami berdua mempelai pengantin.

__ADS_1


Akhirnya aq sah menjadi istri mas Anto. jam 10 siang ini dilangsungkan resepsi pernikahan kami. Aq memakai baju kebaya pengantin adat keraton Solo. Diruang ganti Mas Anto terus tak berkedip menatapku.


"Kamu cantik banget, Dek." puji mas Anto kepadaku. Kucubit pinggangny karena aq ga bisa banyak gerak, karena banyak asesoris pengantin ad di rambutku.


Tak berapa lama rombongan keluarga suamiku dari Semarang datang. Bapak mertua dan mbah kakung dari suamiku, meminta maaf karena keterlambatan rombongan. Sedangkan ibu mertuaku dengan entengny bilang, "Kami tadi ke salon dlu. Ya malulah kalau menyambut tamu dengan tidak dandan."

__ADS_1


Prosesi demi prosesi pernikahan adat jawa Solo kami jalankan, dari lempar-lemparan daun sirih, menginjak telur, menuang beras, sungkeman hingga ritual suap-suapan. Diiringi lantunan gending jawa, suasana menjadi begitu sakral. Kalau boleh aq teriak bahagia, aq akan teriak meneriakan kebahagian. Tamu undangan juga ikut merasakan kebahagianku. Banyak yang ikut foto bareng aq dan suamiku.


Acara demi acara kulalui sampai akhir resepsi. Keluarga rombongan suamiku pamit pulang, banyak yang mengucapkan selamat kepadaku karena telah menjadi anggota keluarga mereka. Tapi yang aneh dengan ibu mertuaku, tanpa pamit langsung melenggang pergi. Bapak mertuaku akhirny bilang "Ga usah dipikirin ibumu, dia emang begitu, seiringny waktu, sikap dewasamu nanti yang bisa menyikapi dengan bijak. " nasehat bapak mertua menyejukkan aq.


"Inggih pak." jawabku. Aq berusaha menyikapi kelakuan ibu mertuaku dengan sabar. Walaupun begitu seenggakny dia adalah ibuny suamiku, yang telah melahirkan dan yang merawat suamiku dengan kasih sayang.

__ADS_1


Sepeninggal rombongan keluarga suamiku, keluarga besarku ngumpul makan bareng, bercanda bareng tak celah yang terpisah. "Inilah keluargaku mas, membaurlah." jelasku kepada suamiku. Kuperkenalkan keluarga besarku satu persatu kepada mas Anto, dari adik-adikku, mbah putri, budhe, pakdhe, bulik, paklik dan semua keponakan-keponakan.


Keponakan-keponakanku banyak yg menggoda mas Anto. mengajakny guyon agar mas Anto mau ikut membaur. Dan akhirny usaha keponakan-keponakanku berhasil.


__ADS_2