
"Gue emosi sama Yofan. Gue belum puas, jontor dia kalau belum bonyok," ujar Niko.
"Bisa-bisanya dia ngeles soal tanggal pernikahan itu. Dia bilang kaga ngerti apa-apa," imbuhnya.
Puspa terkejut dan mendadak turut emosi. Suaranya melengking, hingga Emilia mendengarnya dan menghampiri mereka. Namun Puspa dan Adam menyembunyikan kisah yang sebenarnya dari Emilia, agar dia tidak kepikiran dengan keadaan Yofan.
"Gak papa kok, Mil. Ini loh, si Niko habis labrak Pak Yofan di kantor." Gadis itu menatap sinis wajah Niko.
"Ngapain sih, pakai acara labrak-labrakan segala. Kalian nggak ada yang mau ajakin aku menghibur diri?" tanya Emilia.
Puspa, Adam dan Niko saling memandang secara bergantian. Tak lama, Adam menyampaikan usulnya untuk berkaraoke bersama. Mereka setuju dan berkumpul diruang tengah.
"Pus, gue haus banget, nih. Bagi minum ya …" ujar Niko.
"Yaelah, Nik. Kayak sama siapa aja, kamu ini. Bukannya dari dulu udah terbiasa ambil apa-apa sendiri, ya." Puspa dan Emilia tersenyum.
"Banyak gaya, emang …" sahut Adam.
Keempat remaja yang sebentar lagi akan lulus itu, berkaraoke ria secara bergilir sembari menunggu Feni datang.
Ting tung!
"Nah, itu kayaknya Feni, deh." Emilia menunjuk ke arah sumber suara. Mana lagi kalau bukan pintu rumah Puspa.
Dia berlari membukakan pintu. Namun hal mengejutkan yang dia hadapi. Feni datang dengan pakaian yang basah kuyub dan wajah yang cemberut disertai warna wajah semburat merah. Dengan nada suara ketus, dia meminta tolong Emilia mengambilkan handuk.
"I–iya, Fen. Tunggu sebentar, ya." Emilia berlari masuk dan menceritakannya ke Puspa yang membuat Adam beranjak pergi menemui Feni di luar.
"Lu kenapa, Fen? Habis nyelam, Lu?" Tawa ledekan pun keluar dari mulut Adam. Ya, memang tujuan Adam menghampiri Feni adalah untuk meledek.
"Habis kehujanan di jalan, ditambah lagi kena serangan Mak Lampir. Apes banget pokoknya aku hari ini," gerutunya.
Tak sengaja, Emilia mendengar percakapan mereka berdua dan turut penasaran dengan cerita singkat Feni. Selesai mengeringkan rambut dan kakinya, Feni masuk dan mengunci pintu rumah Puspa. Dia berniat menginap, sehingga sudah membawa pakaian di dalam tas ranselnya.
"Ganti dulu, gih. Basah semua gitu," ujar Puspa sembari mengantarnya ke kamar.
Cklek. Tepat tiga menit, Feni keluar dari kamar dan menceritakan kronologinya saat dia bertemu dengan Della di jalan–menuju ke rumah Puspa.
__ADS_1
"Aku tuh bener-bener gak ngerti ya, sama Della. Dia tuh kayak dedemit yang tiba-tiba nongol, gitu. Udah gitu jahatnya setara Mak Lampir. Pantesan, gak laku-laku." Omelan Feni tiada habisnya, hingga acara karaoke kini terhenti dan berubah menjadi acara ghibah.
Begitu pula dengan Niko yang baru pertama kalinya mau mencurahkan isi hatinya. Pasalnya, dia adalah sahabat laki-laki yang tidak pernah curhat dalam hal apapun bahkan saat dia sedang berduka cita sekalipun.
Sehingga wajar saja jika kali ini teman-temannya merasa heran dan menjadi sangat serius mendengarkan cerita Niko.
"Dengerin ya dengerin …, tapi kaga gitu juga kali, mukanya. Heran, gue." Niko membuang muka sedangkan empat temannya justru tertawa–kompak.
"Btw, rasanya kok kurang lengkap ya, kalau nggak ada cemilannya," kata Emilia.
"Iya, nih. Jajan yuk, ke mini market depan." Feni memainkan alisnya keatas dan kebawah dengan senyuman jahilnya.
Feni dan Emilia akhirnya keluar dengan menggunakan motornya untuk mencari cemilan. Keduanya berencana tidak memakai helm karena lumayan dekat dengan rumah Puspa.
Namun sebuah peristiwa terjadi secara tiba-tiba di depan mata mereka, ketika Emilia memasukkan kedua helm ke ruang tamu. Seorang ibu-ibu sedikit tua yang melintas di depan rumah Puspa, tiba-tiba terjatuh dan tertimpa motornya.
Kecelakaan tunggal itu membuat Emilia refleks berteriak memanggil nama Puspa, hingga ketiga sahabatnya keluar.
"Tolongin, dong. Ibu ini kayaknya punya asma, gaes!" teriak Feni.
"Ibu sakit asma?" tanya Emilia.
"Lah, kok gue? Gue gak punya SIM, Bestie …"
"Alah, gak usah mikirin itu, Dam. Emergency, nih. Kasihan ibu ini kalau gak cepet di tolong."
Puspa memberikan kuncinya ke Adam, sehingga pria ABG itu terpaksa menuruti perintah Puspa, meski dengan hati yang was-was karena dia belum terlalu berani membawa mobil di jalan raya.
***
Mereka tiba di rumah sakit pukul lima sore. Mengurus administrasi dan lain sebagainya hingga urusan mereka selesai. Namun ada satu permasalahan yang masih mereka pikirkan, sebab keluarga Bu Eni belum juga datang ke rumah sakit.
"Emm … Fen. Ikut aku, yuk. Cari cemilan didepan. Tadi kan nggak jadi beli, tuh. Ya …, siapa tahu aja ada keluarganya di depan," kata Emilia.
"Okey, ayo …"
Baru sampai di depan tempat administrasi, mata Emilia kembali dikejutkan dengan sesuatu hal. Dia melihat ada Ilmi dan suaminya disana.
__ADS_1
Dengan penuh penasaran, namun tanpa rasa ragu, Emilia menyapa Ilmi dan suaminya dengan senyuman ramahnya. Tetapi lirikan mata bag Nyi Pelet dari Ilmi, yang dia dapatkan sebagai balasan atas keramahannya.
Feni menarik tangan Emilia cukup kencang dan menggandengnya keluar dengan langkah kaki yang cepat. Mulutnya bergeming karena tak suka dengan reaksi judes Ilmi kepada sahabatnya.
"Bu Ilmi ngapain ya, disini. Apa jangan-jangan …, Mas Yofan sakit, Fen." Matanya memandang Feni–tajam.
"Ngapain sih, masih ngurusin cowok itu? Dia aja gak mau perjuangin cintanya buat kamu, Mil. Ingat ya, kita disini tujuannya nolong orang bukan ngurusin urusan mereka," gerutu Feni.
Mereka berdua menikmati kegiatan belanjanya dengan sangat santai.
Sementara Niko dan Adam melayani seorang bapak-bapak muda yang merupakan anak dari wanita yang mereka tolong di rumah sakit.
"Bapak kerabatnya?" tanya Niko.
"Iya, betul. Saya anak kandungnya."
"Alhamdulilah, mari saya antarkan ke kamar beliau, Pak."
Tak lama, Niko kembali keluar dari kamar pasien untuk menemui Adam dan duduk di kursi depan kamar pasien–menunggu Feni dan Emilia kembali.
"Nah, itu mereka sudah balik." Adam menunjuk kedua sahabat perempuan mereka yang sedang menuju ke arah mereka.
Adam menceritakan bahwa anak dari wanita itu sudah datang–beberapa menit yang lalu dan masih berada di dalam kamarnya. Adam lalu mengajak Feni, Emilia dan Puspa untuk kembali pulang.
Namun saat mereka ingin melangkah–membuka pintu kamar untuk berpamitan dengan Bu Eni dan anaknya, tiba-tiba saja mereka mendengar suara wanita yang tidak asing di telinga mereka. Wanita tersebut memanggil nama Emilia dengan melontarkan kata-kata yang kurang enak di hati.
Ya ... Siapa lagi wanita itu kalau bukan Ilmi–kakak dari Yofan sekaligus guru mereka. Emilia dan teman-temannya menoleh lalu menghentikan langkahnya sampai posisi Ilmi berada dekat dengan mereka.
"Kalian ngapain disini?" tanya Ilmi.
"Kami—"
Cklek. Suami dari Ilmi membuka pintu. Dia lalu keluar dan menceritakan kepada Ilmi kalau Emilia dan teman-temannya ada di TKP saat itu.
"Anak-anak ini yang ada di TKP dan membawa ibu kesini," ujarnya.
"Oh, jadi begitu ceritanya. Jangan-jangan kamu Emilia, yang sengaja menabrak ibu saya karena kamu 'kan belum punya SIM. Mungkin juga kamu lagi frustasi karena gak bisa mendapatkan adik saya, makanya kamu dendam."
__ADS_1
Mata Emilia terbelalak–menatap Ilmi. Rasanya bagai tersambar petir di tengah terik mentari. Hatinya sangat sakit dan ingin marah besar. Namun dia belum diberikan kesempatan sedikit pun oleh Ilmi untuk bicara.
"Saya tidak menyangka, kamu sejahat itu."