
"Terus kita harus gimana, Mil?"
"Ya udah, biarin aja ... gak usah dikejar. Daripada kita yang kena teguran cinta dari polisi," ujar Emilia.
***
Seperti batu kali. Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan seorang Yofan dan Emilia. Sama-sama keras kepala dan susah untuk disuruh menyerah. Sesuasi moment heboh dengan kedua sahabatnya, Emilia jadi berpikir untuk tetap perjuangkan Yofan, bagaimanapun caranya.
Pagi ini, Yofan sengaja datang ke rumah Emilia untuk mengantar sekolah di hari pertamanya Emilia ujian praktek. Dia berharap Emilia bisa tetap semangat meskipun hubungannya sedang dilanda ujian yang cukup menyakitkan hati.
"Mas Yofan …" Bibir tipisnya sedikit menganga akibat terkejut.
"Pagi, adik saya yang cantik," ujar Yofan.
"Mas Yofan ngapain kesini? Aku kan mau berangkat sekolah, Mas. Hari ini aku ada ujian praktek sama Kemendikbud."
"Iya, saya paham, kok. Saya hanya ingin antar kamu sekolah saja, boleh dong …"
Senyumnya tak pernah gagal membuat Emilia klepek-klepek bagaikan nyamuk tersemprot baygon.
Gadis SMK yang baru genap tujuh belas tahun–beberapa bulan yang lalu itu tersenyum dan tak menolak tawaran Yofan. Dia memang tidak bisa jauh dari Yofan dan tidak pernah menginginkan perpisahan dengan Yofan. Perkataannya beberapa hari yang lalu bahwa dia bisa 'ikhlas' hanyalah suatu kedustaan belaka.
***
Mereka berdua sampai di sekolah, tepat pukul setengah tujuh. Beberapa siswi yang masih ada di luar sekolah, semua memandangi Emilia dan Yofan. Mungkin karena berita yang sudah di informasikan oleh Della tentang hubungan Yofan dan Emilia yang sudah berakhir, namun hari ini justru berboncengan untuk antar jemput lagi.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Yofan.
"Jam dua belas, Mas. Nanti jemput di tempat biasa aja, ya …" ujar Emilia dengan suara lirih.
"Dek, kamu yang semangat ya, ujiannya. Jangan mikirin yang aneh-aneh dan jangan lupa berdoa, agar bisa lulus ujian dengan nilai yang memuaskan."
Emilia hanya tersenyum dan bercium tangan dengan Yofan. Dia juga tidak pernah lupa melambaikan tangannya ala-ala Miss Indonesia di atas panggung, sambil berjalan–masuk ke halaman sekolah. Sementara Yofan hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
Keceriaan Emilia lah yang mampu membuat Yofan jatuh cinta. Pasalnya, sejak mamanya meninggal, Yofan tidak lagi mendapat kebahagiaan karena Ilmi yang cenderung serius. Tetapi sejak bertemu dengan Emilia, dia bisa menemukan kebahagiaannya kembali.
Sampai di depan tangga–menunggu ke kelasnya, Della dan kedua temannya sengaja menghadang Emilia dan mencaci makinya. Mereka tahu kalau Emilia diantarkan oleh Yofan, hari ini.
"Heh. Kamu kok bisa diantar Yofan, sih. Bukannya kalian udah putus, ya?" tanya Della.
"Itu kan bukan urusan kamu, Mbak. Mau aku diantar Yofan, kek. Diantar anak Presiden sekalipun ya suka-suka, aku," jawab Emilia.
__ADS_1
"Oh, begitu … jadi sekarang alih profesi jadi pelakor, ya? Kamu jadi cewek murah banget, sih. Bisa-bisanya jalan sama calon suami orang. Gak tahu malu, banget."
Emilia tersenyum miring, "Terserah kamu, mau ngomong apa." Alisnya berkerut dan tangan kirinya sedikit mendorong Della–menyingkirkannya dari barisan yang menutup jalan.
Sampai di kelas, Puspa dan Feni menyapanya seperti biasa. Namun kali ini mereka memasang wajah-wajah penuh heran, saat melihat wajah Emilia yang meletakkan tasnya di meja sampingnya.
"Kamu kenapa, Mil? Masih pagi udah butek aja, itu muka, kayak air comberan," ujar Feni.
"Nggak apa-apa. Lagi males ngomong aja," jawab Emilia.
Puspa dan Feni saling bertatapan dan kembali ke bangku masing-masing karena guru dan pengawas sudah memasuki kelas. Berulang kali Emilia menghela nafas kasar dan berusaha menghilangkan emosinya, menenangkan hatinya agar bisa fokus.
Setelah berdoa, guru dan pengawas membagikan selembar kertas yang berisi soal alias tugas yang harus Emilia dan teman-temannya kerjakan. Ujian praktek kejuruan di hari pertamanya adalah membuat drapping (merancang busana tanpa pola dan tanpa potongan)
"Gile bener …, yakin nih, ini tugasnya. Duh, bisa nggak, ya …" ujarnya dalam hati.
Mata Emilia mulai lirik kanan dan kiri bahkan tak jarang, ia menoleh ke belakang–ke bangku Puspa.
"Mil, gambarnya ruwet banget, kayaknya," bisik Puspa.
"Iya, nih. Bisa nggak ya, Pus?" tanya Emilia dengan muka tegang.
"Sekarang silahkan mulai mengerjakan tugas kalian dengan baik. Waktu pengerjaan dua jam, dimulai dari sekarang!" ujar sang pengawas dengan suara yang keras dan jelas.
***
"Ya udah, nggak apa-apa. Kalau gitu aku makan siang dulu di kantin sama teman-teman ya, Mas. Nanti kalau sudah sampai, Mas hubungi aku aja," ujarnya.
Baru selesai telepon, ada seorang gadis yang merupakan adik kelasnya–menghampirinya. Dia menyampaikan informasi bahwa Emilia disuruh menemui Ilmi di taman belakang sekolah–depan mushola.
"Oke, habis ini aku kesana. Makasih, ya …" Emilia tersenyum, lalu saling bertatapan dengan Puspa dan Feni, sesaat.
Gadis itu segera melangkahkan kakinya–menemui sang guru–kakak kandung Yofan. Saat itu, Ilmi sedang duduk di kursi taman sembari mamainkan ponselnya. Dia tak sadar kalau Emilia sudah ada di belakangnya sedikit kesamping.
"Bu Ilmi manggil saya?" tanya Emilia. Sontak, Ilmi menoleh lalu berdiri menghadap Emilia.
"Ya, saya mau menanyakan sesuatu hal sama kamu." Matanya sangat tegas–memandang Emilia.
"Apa, Bu?" tanya gadis malang itu lagi.
"Apa kamu masih berhubungan dengan adik saya?"
__ADS_1
Emilia terdiam hingga beberapa menit. Dia dilema ingin memberikan jawaban apa kepada Ilmi. Emilia sangat mencintai Yofan dan tidak ingin berpisah darinya. Namun dia tidak yakin bisa melawan Ilmi sebagai gurunya di sekolah.
"Tidak, Bu. Saya dan Mas Yofan sudah putus sesuai keinginan Bu Ilmi," ujarnya.
"Bohong!" bentak Ilmi, "Kamu pikir saya tidak tahu kalau hari ini Yofan antar jemput kamu? Berani kamu ya, bohongi saya. Adik saya itu seorang polisi, bukan sopir yang bisa kamu suruh-suruh seenaknya. Lagian kamu itu siapa, mengharap bisa dapatkan Yofan …?" sambungnya.
Emosi gadis ABG itu pun tak lagi bisa terkontrol. Bergemuruh di dalam hatinya dan sudah bosan mengalah, apalagi menghormati orang yang tidak pernah menghargainya. Dia menatap tajam kedua mata Ilmi dan memberanikan diri untuk menjawabnya.
"Saya tahu, saya memang hanya rakyat kecil, Bu. Tapi bukan berarti Bu Ilmi bisa dengan seenaknya merendahkan saya dan keluarga saya dengan tuduhan-tuduhan Bu Ilmi. Saya tahu, Bu Ilmi dan orang tua Ibu sangat marah dengan orang tua saya atas kejadian di masa lalu. Tapi semua itu karena kesalahan papanya Bu Ilmi, bukan kesalahan orang tua saya."
Saat Emilia membantah semua perkataan Ilmi, dua siswa laki-laki tengah asyik merekam perdebatan mereka. Kedua siswa itu adalah Adam dan Niko. Mereka berencana menyimpan rekaman itu untuk membela Emilia, jika suatu hari nanti Ilmi berbuat macam-macam dengan Emilia.
Kejadian itu berlangsung tidak cukup lama. Ilmi pergi meninggalkan Emilia setelah dia merasa kalah berdebat dengan murit yang selalu dia pandang remeh dan dia sepelekan. Emilia pun pergi ke kantin–menghampiri sahabatnya yang sudah menunggu disana.
"Mil … Emilia!" teriak Niko. Emilia menoleh dan berhenti.
"Mau ke kantin?" tanya Niko.
"Iya, nih. Kalian kok disini? Nggak ikutan ke kantin?" tanya Emilia.
"Iya, ini baru mau kesana. Ya udah, ayo barengan kalau begitu." Niko merangkul bahu Emilia seperti biasa.
Mereka berjalan bertiga dengan Adam, sembari ketawa-ketiwi.
Sampai di kantin, jiwa kepo Puspa dan Feni meronta-ronta. Pertanyaan-
pertanyaan yang selalu menjurus, mereka keluarkan untuk Emilia. Gadis malang itu awalnya hanya tersenyum, lalu akhirnya menceritakan semuanya tentang obrolannya dengan Ilmi.
Kring! Kring! Suara telepon Emilia dari Yofan.
"Halo, Dek. Saya sudah di depan," ujarnya.
"Oke, habis ini aku keluar. Tunggu sebentar ya, Mas. Aku mau bayar dulu." Emilia lekas menghabiskan minumannya, lalu membayarnya.
Dia tergesa-gesa meninggalkan keempat sahabatnya bahkan tak sempat berjabat tangan dengan mereka. Namun, keempat sahabatnya tidak pernah heran dengan tingkah laku Emilia kalau sudah menyangkut Yofan. Dia pasti selalu heboh sendiri.
Saat bertemu dengan Yofan, Emilia menjadi sering diam–tidak seperti biasa. Yofan pun menyadarinya dan berusaha menanyakan alasannya, kenapa Emilia diam.
"Tadi Bu Ilmi marah karena aku masih jalan sama kamu, Mas." Emilia menceritakan semua obrolannya dengan Ilmi.
"Tuh orang maunya apa, sih. Tidak bisa dibiarkan, ini …" gerutu Yofan.
__ADS_1
Dia berniat ingin memaki Ilmi sebagai pelajaran untuk Ilmi yang sudah melampaui batas wajar dalam ikut campur urusannya.
Namun sayangnya, saat sampai di rumah, ternyata Ilmi sudah pergi ke luar kota untuk beberapa hari mengikuti Diklat.