
"Iya, betul." Puspa dan Emilia memandang Feni.
"Iya ..., aku tadi tuh lupa kalau kantinnya gak buka. Jadi aku kesana, terus pas mau balik malah ketemu sama Niko dan dia ngajakin ngobrol dulu," ujar Feni.
Meskipun Emilia dan Puspa tidak begitu yakin dengan jawaban yang Feni berikan, tapi mereka mencoba percaya.
"Ya udah lah, jangan dibuat pusing. Aku mandi duluan ya? Soalnya nanti malam aku mau keluar," ucap Emilia.
"mau keluar ke mana mil malam-malam apalagi ini kan bukan kota kita lo jangan macam-macam deh ntar kalau elo kan apa kenapa gimana?" tanya Puspa.
"Insya Allah aman, kok. Aku tadi diajak keluar sama Dokter Kenzie, habis Maghrip. Gak papa 'kan, kalau aku pinjem Kenzie nya dulu?" tanya Emilia menggoda Feni.
Feni meringis dengan sedikit perasaan kesal, namun dia terpaksa mengatakan bahwa dirinya tidak masalah, sahabatnya keluar dengan lelaki yang dia idam-idamkan. Namun dibalik perkataan tidak papanya itu, dia merencanakan sesuatu untuk menggagalkan acara Emilia dan Kenzie malam ini.
Saat Emilia pergi mandi, dia berusaha mengirim pesan ke Adam dan Yofan. Dia mengadu kepada mereka kalau Emilia akan keluar dengan lelaki yang tidak Emilia kenali.
__ADS_1
Feni (17.30) : Aku serius, Dam. Tadi aku gak sengaja dengar obrolan mereka di telpon dan Emilia mau nemuin cowok tak dikenal itu di taman kota.
Adam (17.31) : Kalau begitu, gue harus kasih tahu Niko, biar dia ikutin Emil.
Selang beberapa detik, Yofan menelpon Feni dan berekspresi yang sama dengan Adam. Tentu saja ekspresi Yofan adalah ekspresi kekhawatiran dengan tindakan Emilia yang akan dia lakukan malam ini. Ekspresinya terdengar sangat jelas dari suaranya.
Yofan menyuruh Feni untuk melarang keras Emilia keluar dengan lelaki yang Feni maksud dalam ceritanya tersebut, karena kondisi Kota Pahlawan tidak seperti kotanya sendiri. Apalagi ketika Sabtu malam Minggu. Sebagai seorang polisi, tentu saja Yofan sudah sangat hafal dengan kondisi setiap daerah yang berada dalam satu provinsi, apalagi hanya di kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota kelahiran Emilia.
"Pokoknya saya tidak mau tahu, kamu harus bisa menggagalkan rencana Emilia," ujar Yofan.
"Tadi sih, saya sudah menyampaikannya sama Adam. Ya ..., semoga aja omongan mereka bisa didengar dan diterima sama Emilia," ujar Feni lagi.
Dia berusaha menghasut, hanya karena cemburu dengan Emilia.
Setelah selesai jamaah salat magrib, Emilia mengambil tasnya dan hampir saja melangkah keluar dari kamarnya. Namun tiba-tiba Niko datang dengan wajah yang sedikit kusut karena menahan emosinya, setelah beberapa menit yang lalu diberitahu oleh Adam tentang aduan Feni kepadanya.
__ADS_1
"Mau kemana, Mil?" tanya Niko.
"Mau keluar sebentar. Mau nitip, gak?"
"Sama siapa?" tanya Niko lagi.
"Emang kenapa, sih? Kok aneh gitu nanyanya?" Emilia menatap Niko.
"Bukannya aneh. Tapi lo nya aja yang susah untuk dikasih tahu. lo tuh lagian ngapain sih, gampangan banget sama cowok? lo 'kan belum kenal sama cowok itu, terus kenapa lo mau dengan gampangnya, diajak ketemuan malam-malam gini? Sendirian, lagi." Niko memandang tajam mata Emilia.
"Kalau emang lo mau ketemuan, lo 'kan bisa ngajakin gue. Ya, setidaknya biar ada cowoknya, gitu. Kagak sendiran. Nah ini, lo mau nemuin dia sendirian, kalau ada apa-apa gimana? Siapa yang mau nyari lo?" tanya Niko dengan nada tinggi.
Seketika itu Emilia merasa semakin kebingungan. Dia memandang Niko dan sesekali memandang kedua sahabat perempuannya yang berada di tempat tidur mereka masing-masing.
Karena kebingungan, dia pun akhirnya memutuskan untuk bertanya tentang maksud ucapan Niko kepadanya. Namun bukan jawaban yang jelas, yang Niko berikan kepada Emilia, melainkan kemarahan yang semakin menjadi-jadi dan membuat Emilia pun tersulut emosi.
__ADS_1
"Lo kenapa sih, Nik? Aku beneran gak tahu apa yang kamu omongin. Aku tuh udah gede, bisa jaga diri. Lagian aku keluar juga gak jauh dari sini, kok. Dan aku kenal sama cowok itu," bantah Emilia.