
"Ada apa, Dam?" Puspa menatap mata Adam yang berdiri di depannya.
"Adelia jalan sama cowok lain. Ternyata dia cuman mempermainkan Yofan saja."
Mereka berdua saling menatap dan beranjak pergi–menghampiri Emilia untuk menunjukkan video yang dikirim oleh Feni– beberapa menit yang lalu di hp Adam. Namun, belum sempat mereka menyampaikannya, Feni tiba-tiba datang dan dialah yang menyampaikan semuanya tentang Adelia dan pria yang tak dia kenal itu ke Emilia.
"Assalamualaikum, Mil …"
"Waalaikumsalam. Udah pulang, Fen. Cepet amat," ujar Emilia.
"Gimana ketemuannya tadi, lancar?" tanya Emilia sembari tersenyum.
"Alhamdulillah lancar, kok. Cuman tadi ada sedikit peristiwa yang menegangkan dan mengejutkan, sih." Feni memandang Adam dan Puspa yang berdiri di sampingnya.
Dia segera duduk di samping Emilia, lalu mengeluarkan hp-nya untuk menunjukkan video hasil rekamannya saat di butik bersama Ken.
"Menegangkan? Maksud kamu apa, ya? Emang ada peristiwa apa?" tanya Emilia lagi.
Namun Feni tidak mengucap sepatah kata pun. Dia hanya menunjukkan sebuah video ke Emilia dan Emilia melihatnya dengan ekspresi wajah terkejut, sebelum akhirnya Emilia menanyakan kronologi dari terjadinya rekaman video itu, kepada Feni. Feni sebagai sahabat, menjelaskannya dari awal hingga akhir.
Feni sangat yakin kalau Adelia selingkuh dengan pria yang ada di dalam videonya tersebut. Sebab mereka terlihat sangat mesra. Bahkan ketika Adelia mengakui pria tersebut sebagai saudaranya, ekspresi wajah pria itu juga sangat berbeda.
Emilia benar-benar tidak menyangka, kejadian ini akan menimpa Yofan. Sementara pernikahan Yofan dan Adelia akan segera dilaksanakan, beberapa hari lagi.
"Aku harus kasih tahu Mas Yofan. Aku nggak mau dia sakit hati dan kecewa karena dibohongi oleh perempuan yang tidak pernah dia cintai itu. Aku nggak mau dia menikah dengan perempuan itu. Dia nggak baik buat Mas Yofan," ujar Emilia.
__ADS_1
"Gak usah, Mil. Kalau kamu ikut campur urusan mereka, justru akan menambah masalah baru dan nantinya juga kamu yang akan disalahin. Kamu yang akan disakiti hatimu, oleh mereka," ujar Feni.
"Lagi pula, walaupun pernikahan mereka batal, kalian juga gak bakalan direstui oleh keluarga Yofan karena mereka gak suka dengan kamu. Jadi sia-sia saja kamu melakukan semua itu," sahut Adam.
Emilia memandang Adam sesaat. Dia mulai berpikir bahwa apa yang diucapkan oleh Adam adalah suatu kebenaran. Akan tetapi di sisi lain, dia tidak bisa membiarkan orang lain menyakiti Yofan. Dia tidak bisa diam saja, sementara dirinya tahu kalau wanita itu tidak baik untuk Yofan–seseorang yang sangat dia cintai.
Emilia berusaha melepas Yofan karena dia ingin melihat Yofan bahagia dan hidup tenang bersama keluarganya, bukan untuk melihat Yofan menderita. Saat ini dia benar-benar dilema, bahkan dia tak tahu harus melakukan apa untuk mencegah pernikahan Yofan, tanpa harus ikut campur urusan Adelia dengan lelaki itu.
"Tapi aku nggak mau, lihat Mas Yofan hidup menderita karena dibohongi oleh Adelia. Aku merelakan dia menikah dengan orang lain karena aku ingin dia bahagia dan hidup tenang, bukan sebaliknya," ujarnya.
"Ya, aku tahu, Mil. Tapi percuma kamu lakukan itu karena keluarganya juga gak ada yang suka sama kamu. Mereka gak akan mungkin percaya dengan apa yang kamu katakan."
Adam bersikeras melarang sahabat tercintanya untuk memberitahu tentang perselingkuhan Adelia. Dia yakin Adelia pasti tidak mau mengaku, sekalipun sudah ada bukti video tersebut.
"Halo, ada apa, Mas?" tanya Emilia.
"Yofan sekarang di rumah, Mil. Dia nyari kamu. Katanya ada hal penting yang mau dia sampaikan."
Emilia terdiam beberapa saat untuk memikirkan jawabannya. Dia tidak sanggup bertemu dengan Yofan. Pasalnya, tiga hari lagi adalah hari pernikahannya dan Emilia tidak ingin mengganggu pernikahan mereka. Dia ingin Yofan melupakan dirinya dan fokus dengan pernikahannya dan Adelia.
"Maaf, Mas. Bilang aja aku sibuk dan nggak mau ketemu dia. Aku nggak mau dia ingat aku terus," ujar Emilia.
Namun suatu hal mengejutkan, ketika suara yang menjawab perkataan Emilia ditelepon bukanlah suara Bryan lagi. Rupanya Bryan telah memberikan telepon itu ke Yofan.
"Dek, saya mohon jangan menjauh dari saya. Saya hanya ingin bertemu, sebelum pernikahan saya. Saya mohon, izinkan saya untuk mengutarakan isi hati saya. Kasih tahu saya, kamu sekarang dimana?" tanya Yofan dengan suara merendah.
__ADS_1
Emilia memandang Manda, Feni dan Adam. Kemudian Adam menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa dia setuju jika Yofan datang ke rumah Manda untuk menemui Emilia. Hingga akhirnya gadis malang itu menyetujui dan memberikan kesempatan untuk bertemu dengannya di rumah Puspa, siang ini.
***
Yofan tiba di rumah Puspa, tepat pukul 14.00 Siang. Dia sengaja mengajak Emilia ngobrol di teras rumah, agar tidak mengganggu ketenangan orang di dalam rumah Puspa, karena sudah waktunya istirahat siang.
"Saya tahu, ini sangat menyakitkan buat kamu, begitu juga buat saya. Tapi saya datang ke sini ingin meminta maaf sama kamu, sekaligus ingin menyampaikan kalau sampai kapanpun, cinta dan sayang saya tetap hanya untuk kamu." Dia memandang lekat wajah Emilia.
"Meskipun saya sudah menikah, bukan berarti cinta saya hilang. Saya tetap mencintai kamu sampai kapanpun bahkan sampai saya mati. Saya sangat berharap kamu tidak menjauh dari saya dan kamu bisa bersikap biasa saja dengan saya. Kita masih bisa jadi kakak adik, kan?" tanya Yofan–menyambung perkataannya.
"Belajarlah mencintai Adelia, karena dia adalah istrimu. Sedangkan aku bukan siapa-siapamu, Mas. Aku nggak apa-apa kok, tanpa kamu dan aku janji sekolahku nggak akan terganggu, meskipun aku sedang kehilangan kamu. Aku janji bakal tetap seperti dulu–Emilia yang selalu berprestasi." Dia tersenyum memandang Yofan.
Namun berkali-kali Yofan memohon kepada Emilia agar dia tidak menjauhinya. Sebab Yofan tidak akan pernah bisa jauh dari Emilia. Dia hanya mencintai gadis malang yang ada di depannya saat ini, bukan orang lain. Dan dia yakin, selamanya tidak akan pernah bisa mencintai Adelia ataupun wanita lainnya.
Yofan ingin menjadi kakak asuh terbaik Emilia yang selalu menjaganya, melindunginya dan memberikan semangat hidup untuknya. Dia ingin melihat Emilia bahagia, meskipun tidak bisa memilikinya. Dia ingin menjadi seseorang yang berarti dalam hidup Emilia.
"Apa sejak saat kejadian itu …, kamu sudah tidak cinta sama saya, sehingga kamu bisa semudah itu mengikhlaskan saya dan menjauh dari saya?" tanya Yofan.
"Nggak, Mas. Sama sekali nggak seperti itu. Aku sangat sayang sama kamu, sebab itulah aku merelakan kamu. Aku ingin melihat kamu hidup tenang bersama keluarga kamu, Mas. Cinta tanpa restu dari orang tua itu akan sia-sia saja dan hanya mendapatkan rasa lelah, bukan kebahagiaan. Kita nggak bisa menjalani pernikahan tanpa restu orang tua," ujar Emilia.
Moment mengharukan itu sengaja direkam oleh Puspa dan Feni, sebagai kenang-kenangan mereka. Namun suatu kejadian menegangkan terjadi begitu saja, ketika Niko datang.
Pemuda bar-bar itu tiba-tiba memukul Yofan berkali-kali, sembari berteriak dengan keras–mencaci maki Yofan. Emilia, Puspa dan Feni sempat berteriak histeris, lalu keluar dan melerai mereka bersama dengan Adam.
"Niko, stop, Nik!" teriak Emilia sembari berusaha menarik tangan Yofan untuk menjauh dari Niko.
__ADS_1