Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Kecemburuan Seorang Sahabat


__ADS_3

"Tapi gak, deh. Aku gak boleh pakai cara kotor kayak gitu," tutur batin Emilia.


Tidak lama kemudian, dia kembali menemui Yofan dan Adam di depan kantin atau tempat makan bersama untuk para peserta diklat.


Disana, ada satu Satpam dan satu Instruktur yang mengobrol bersama Yofan dan Adam.


"Hai, lagi pada ngomongin apaan sih, kok serius amat kayaknya?" Emilia duduk disamping Puspa.


"Ini loh, Pak Aris bernostalgia sama Pak Yofan. Ternyata mereka pernah kenal, Mil," ucap Feni.


"Oh ya? Kok bisa?"


Mereka saling berbincang santai, menceritakan awal mula Aris–Satpam yang bertugas itu mengenal dan bertemu Yofan. Hingga bel makan malam berbunyi dan seluruh peserta wajib memasuki ruangan untuk makan bersama.


"Mas, mari silakan masuk, ikut makan-makan," ujar sang Instruktur.


Awalnya Yofan merasa sungkan dan hanya tersenyum, tanpa segera memasuki kantin. Namun Pak Yunus, selaku pemimpin di kantor tersebut turut mempersilakannya, sehingga Yofan dan Adam menjadi mau.


Selesai makan malam, sesuai dengan perjanjiannya, Yofan dan Adam memutuskan untuk kembali pulang.


"Kamu jaga diri baik-baik disini, ya," ujar Yofan.


"Pasti, Mas. Makasih ya, udah perhatian dan peduli banget sama aku, sampai jauh-jauh belain kesini buat ketemu aku doang," ucap Emilia.


"Apapun akan saya lakukan, demi bisa sama kamu, Lia. Termasuk menceraikan Adelia secepatnya," tegas Yofan.


Emilia terkejut mendengar perkataan Yofan. Mereka saling pandang, sebelum akhirnya Yofan benar-benar pergi dari hadapan Emilia dan teman-temannya.


***


Kau tahu?


Aku merindumu setiap waktu


Aku ingin kembali bersamamu


Tapi aku takut dengan keegoanku


Aku takut merusak kedamaian hidupmu


Takut merusak cita-cita yang kau bangun


Bisakah kau beri tahu aku,

__ADS_1


Tentang bagaimana aku harus bersikap?


Tentang bagaimana cara melupakanmu?


Sementara aku sendiri,


Tidak yakin akan bisa bahagia tanpamu


Pukul dua belas malam, puisi itu Emilia tulis dan kirimkan ke nomor hijau milik Yofan. Pesannya masih centang abu-abu satu, pertanda bahwa pesan tersebut belum masuk dan tersampaikan ke Yofan, karena ponselnya sedang tidak aktif.


Sementara itu, sembari menunggu balasan dari Yofan, Emilia memutuskan untuk tidur sejenak karena setelah subuh, dia sudah harus beraktivitas kembali sesuai dengan aturan asrama yang dia tempati saat ini.


Masih banyak kegiatan di asrama yang harus dia lalui dengan fokus, tanpa bercampur aduk dengan urusan pribadinya.


***


Usai jamaah subuh, Emilia berkegiatan seperti biasa dengan teman-temannya. Mencuci pakaian, mengantre kamar mandi untuk membersihkan diri dan dilanjutkan lagi dengan sarapan pagi, bersama teman-temannya yang lain.


Di kantin tempatnya berkumpul dengan teman-teman untuk makan bersama, dia bertemu dengan seorang pria muda yang bertubuh gagah atletis dan cukup tampan layaknya artis Korea, sedang berdiri di depan pintu dapur. Emilia terus memandangnya karena merasa tidak asing dengan wajah tersebut.


"Mil, lo kenapa?" tanya Niko.


"Gak papa. Aku kayak gak asing sama cowok itu, Nik." Dia menunjuk ke arah pria tersebut.


Niko memandang pria tersebut cukup lama, sebelum akhirnya dia menyatakan bahwa pria itu adalah Dokter Kenzie. Seorang dokter kenalan Feni yang beberapa waktu lalu pernah bertemu dengan Emilia dan teman-temannya.


Feni sebagai pengagum berat Dokter Kenzie, tentu saja terkejut melihat kehadiran seorang pria yang dia idamkan dan idolakan, ada di tempat diklatnya, saat ini. Perasaan yang berbunga-bunga tentu saja hadir di dalam hatinya. Dia lantas segera menemui Dokter Kenzie dan menyapanya.


"Hai, Dok! Kamu kok disini?" tanya Feni.


"Kamu ...," ujar Kenzie dengan wajah terkejutnya.


"Aku kerja disini, Fen. Kamu ngapain disini? Diklat?" tanya balik Kenzie.


Feni menganggukkan kepala, "Iya, aku diklat disini. Udah ada hampir dua minggu."


"Sendirian? Maksudku, teman-temanmu nggak ikut?"


"Lah itu, mereka ...," Feni menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang mengambil makanan.


Lalu Kenzie tersenyum dan mengajak Feni menghampiri teman-temannya. Di meja dekat dengan pintu keluar, Kenzie menghampiri Niko, Puspa dan Emilia. Namun lagi-lagi, mata Kenzie selalu tertuju fokus kepada Emilia yang membuatnya terpesona dari awal bertemu.


"Emil kok nggak bilang-bilang kalau ikut diklat disini?" tanya Kenzie.

__ADS_1


"Maksudnya? Kemarin 'kan kamu yang—"


Kenzie memelototi Emilia yang hampir saja kelepasan menceritakan tentang kepergiannya dengan Kenzie, beberapa hari yang lalu untuk membeli koper. Kenzie merahasiakan peristiwa itu karena dia merasa kurang enak hati, kalau teman-temannya yang lain mengetahui bahwa diam-diam Emilia dekat dengannya.


"Kenapa, Mil? Kok kagak dilanjut ngomongnya?" tanya Niko.


"Ah, gak papa. Maaf ya, seingatku tadi, Kenzie itu Yofan. Jadi kemarin aku sempat beli koper baru, diantar Yofan," ucap Emilia.


"Oh, gitu. Serius?" tatapan mata Niko penuh menyelidik.


"Iya, serius. Maaf ya gaes ..."


Setelah selesai sarapan, tentu saja semua peserta kembali ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri, menuju aula belajar yang berada di lantai dua.


"Emil!" teriak Kenzie dari tangga.


"Ada apa?" Emilia berhenti di tangga paling bawah.


Dokter muda–Kenzie Aldiano mendekatinya. Dia memberikan sebatang coklat mete kepada Emilia.


"Buat aku? Dalam rangka apa?" tanya Emilia.


"Pengen ngasih saja, Mil. Kamu nanti setelah selesai kelas, ada acara nggak?" Mereka berdua jalan beriringan.


Saat mereka asyik berbincang sambil berjalan menuju ke kamar mereka masing-masing, Feni tidak sengaja melihat mereka berdua dari tangga atas. Tentu saja Feni merasa cemburu dengan Emilia–sahabatnya. Sebab sudah lama, Feni mengincar dokter muda itu dan berharap bisa mendapatkannya.


"Kenzie kok deket banget ya, sama Emilia. Apa dia suka sama Emil?" tanya batin Feni.


"Gak. Ini gak boleh terjadi. Cinta matinya Emilia 'kan, Yofan bukan Kenzie. Pokoknya Emilia gak boleh deketin Kenzie, karena dia harus jadi milikku."


Feni turun dari tangga dan mengikuti Emilia dari jauh. Dia sengaja berjalan pelan-pelan, agar langkah kakinya tidak terdengar telinga Emilia ataupun Kenzie. Dia juga berusaha menguping pembicaraan Kenzie dan Emilia, sampai di depan pintu pembatas asrama putra dan putri.


"Nanti japri aku aja Dok, kalau udah siap di depan. Biar aku keluar!" teriak Emilia.


"Oke, jam tujuh ya, Mil!" teriak Kenzie.


Mereka berpisah dan masuk ke kamar masing-masing. Lain hal nya dengan Feni yang masih berdiri di balik tembok depan pintu masuk kantin atau ruang makan peserta.


"Jadi mereka mau keluar berdua, to. Gak salah lagi. Kenzie pasti ada hati sama Emilia. Ini 'kan hari Sabtu, mana mungkin gak ada hati tapi ngajakin kencan," tutur batin Feni.


Dia lalu melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Tampak disana, Puspa dan Emilia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan kondisi hijab yang dilepas.


"Nah, itu Feni. Dari mana aja, Fen?" tanya Puspa.

__ADS_1


"Dari kantin," jawabnya singkat.


"Ha, kantin? Bukannya kantin cuma buka di jam makan doang, ya?"


__ADS_2