Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Pupus Sudah 1000 Mimpi


__ADS_3

"Pasti, Bu. Tanpa ibu suruh, saya juga pasti akan mendoakan Mas Yofan. Mau bagaimanapun, saya pernah mencintai dia dan hingga saat ini sebenarnya .... Ah, ya sudahlah, lupakan. Mungkin memang dia bukan jodoh saya," ujar Emilia.


Meskipun saat ini keluarga Yofan sedang prihatin dengan keadaan Yofan, namun lain halnya dengan Adelia yang justru semakin menyebalkan, karena dia selalu membahas tentang perasaan Yofan kepada Emilia, tanpa peduli perasaan keluarga yang saat ini sedang berduka.


Bahkan dengan tanpa sengaja, Ilmi mendengar percakapan Adelia saat dia sedang teleponan dengan salah satu orang yang belum ilmi ketahui, siapa orangnya. Kejadian itu terjadi saat mereka sudah kembali ke rumah sakit.


"Pokoknya kamu tenang aja, rencana kita pasti akan berhasil. Aku yakin umur Yofan nggak akan lama lagi. Setelah dia meninggal, pasti orang tuaku memberikan semua hartanya ke aku, karena aku sudah mau menuruti mereka untuk menikah sama Yofan," ujar Adelia.


"Oh, jadi selama ini kamu menikah sama adikku hanya demi keuntungan kamu sendiri? Saya nggak nyangka ya, ternyata kamu selicik itu," sahut Ilmi dari belakangnya.


Tentu saja Adelia terkejut dan menoleh ke belakang. Dia lalu segera mematikan teleponnya dan mencari alasan agar Ilmi tidak menyuruh Yofan menceraikan dia.


"Mbak Ilmi, mbak sudah lama disitu?" tanya Adelia.


"Saya nggak butuh basa-basi kamu! Bener 'kan, kamu menikah sama adik saya hanya untuk keuntungan kamu sendiri dari keluarga kamu? iya 'kan? saya nggak salah dengar, 'kan?"


"Kalau sampai Mbak Ilmi nyuruh Yofan ceraikan aku, bisa-bisa semua harta warisan keluarga aku nggak dikasihkan ke aku sepeserpun. Aku harus bisa kasih alasan yang masuk akal ke dia, biar dia nggak menceraikan aku sama Yofan," tutur batinnya.


Adelia dan Ilmi saling bertatapan mata. Sorot tajam kedua mata Ilmi membuat Adelia ketakutan dan tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain gugup.


"Jawab! Kok malah diam!" bentak Ilmi.


"E–enggak, kok. Mbak Ilmi ini ngomong apa, sih. Aku nggak ngerti, deh."


Lagi-lagi Ilmi menatapnya dengan tatapan yang sadis. Namun kali ini Ilmi tidak mau gegabah dalam menghadapi Adelia, karena dia meyakini bahwa, perempuan yang ada di hadapannya saat ini sangat licik dan bermain dengan sangat rapi.


Dia tidak mau kalah dan tertipu oleh Adelia untuk yang kedua kalinya. Kali ini Ilmi akan berusaha percaya dengan ucapan Yofan, meski sampai saat ini dia belum sadarkan diri.


"Mah! Om Yofan kejang-kejang, Mah!" teriak Raziq–anak dari Ilmi.


Dia berlari ke dalam ruangan pasien untuk melihat kondisi adiknya. Dengan keadaan yang panik dan kebingungan, Ilmi berlari kembali keluar dan menuju ke ruangan perawat untuk meminta bantuan.

__ADS_1


Sembari menunggu para perawat dan dokter menangani Yofan, dia berusaha menelepon Emilia untuk meminta tolong kepadanya, agar bisa mengatakan sesuatu yang nantinya akan Ilmi perdengarkan di telinga Yofan.


Semua itu Ilmi lakukan untuk perwakilan karena Emilia tidak bisa hadir di rumah sakit untuk Adik satu-satunya yang dia miliki.


"Halo, Mil ..., saya minta tolong banget sama kamu, Nak. Tolong kamu bilang sesuatu, apapun itu. Nanti saya perdengarkan ke Yofan, biar dia bisa sadarkan diri. Kamu mau 'kan? Dia saat ini mendadak kejang-kejang dan sedang ditangani oleh dokter," ujarnya.


"Innalillahi. Baik, Bu. Saya mau," ucap Emilia.


Ilmi kembali masuk ke dalam ruangan dan meminta izin kepada perawat dan dokter untuk memperdengarkan suara Emilia di dekat telinga Yofan. Dia juga menjelaskan bahwa, beberapa hari di rumah sakit, hanya nama Emilia yang disebut-sebut oleh Yofan.


"Baik, Bu. Silakan," ujar sang dokter.


"Mas, aku Emilia. Maaf ya, Mas ..., aku gak bisa jenguk kamu sekarang karena gak dapat izin dari asrama tempatku diklat. Mas, aku sayang sama kamu. Kamu juga sayang 'kan sama aku? kalau Mas Yofan sayang sama aku, cepet siuman ya, Mas. Cepet sembuh, biar bisa ketemu dan tertawa bareng aku lagi. Aku yakin, kamu pasti bisa melewati semuanya karena kamu lelaki tangguh yang aku punya. Love you, Mas Yofan."


Perkataan yang lumayan panjang disampaikan dari hati oleh Emilia untuk Yofan, tanpa berpikir bagaimana perasaan Adelia yang saat itu masih berada di rumah sakit untuk menjaga Yofan– suaminya.


Tapi apalah daya, takdir berkata lain. Beberapa detik setelah ucapan Emilia selesai, dokter dan beberapa perawat menghela nafas berat.


"Maksudnya apa, Dok?" tanya Ilmi dengan air mata yang sudah menetes.


"Pak Yofan telah meninggal dunia."


Telepon yang belum dimatikan oleh Ilmi, membuat Emilia bisa mendengarkan semua ucapan mereka di rumah sakit.


"Innalillahi wa innailaihirojiun ... Gak mungkin, aku pasti salah dengar. Bu Ilmi aku salah dengar, 'kan, Bu?" tanya Emilia–histeris.


"Nggak, Nak. Kamu nggak salah dengar, Emilia. Yofan pergi meninggalkan kita semua ...," isak tangis histeris Emilia dan Ilmi menghiasi hari mereka.


Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia Emilia karena telah mendapatkan nilai yang cukup bagus dan peluang bekerja disebuah perusahaan ternama yang ada di salah satu kota di Jawa Tengah.


Berbagai rencana yang telah Emilia susun sangat rapi untuk dia jadikan kejutan untuk Yofan itu, kini telah berantakan oleh duka yang tiba-tiba saja menghampirinya tanpa permisi.

__ADS_1


Saat itu adalah saat di mana Emilia masih jam istirahat makan siang dan akan kembali melakukan pembelajaran di kampus. Namun karena dia sedang berduka dan tiba-tiba menangis histeris, membuat ratusan peserta diklat, termasuk instruktur dan pegawai kantor diklat tersebut bertanya-tanya.


Lalu tentu saja mereka menghampiri Emilia dengan berbagai pertanyaan seputar keadaan Emilia saat ini.


"Kamu kenapa, Mil?" tanya Puspa–sahabatnya.


"Mas Yo–fan, Pus." Terbata-bata, Emilia menyebutkan nama Yofan, sembari menangis tersedu.


"Kenapa sama Yofan?" tanya Puspa.


"Di–dia—"


Namun Emilia kesulitan untuk menginformasikan kepada teman-temannya bahwa, dia telah kehilangan sosok yang paling dia cintai, yaitu Yofan.


Hingga salah satu instruktur perempuan menenangkan Emilia dan memberinya segelas air putih dingin, sebagai penenang hati, sebelum dia menjelaskan 'apa yang sedang terjadi' menimpanya saat ini.


"Yofan meninggal, Pus," ucapnya lirih.


Tidak lama kemudian, dia memeluk erat sahabatnya– Puspa dan kembali menangis tersedu karena merasa hatinya begitu hancur dan sakit. Dia teringat begitu banyak impian yang dia rangkai dengan Yofan, yang belum sepenuhnya dia wujudkan. Namun kini berakhir begitu saja.


Niko yang terkenal egois dan penuh emosi, seketika itu mendadak menjadi sahabat lelakinya yang sabar dan bijak, menasehati serta menenangkan hati Emilia yang sedang kalut.


"Sabar, Mil. Ikhlasin dia, Mil. Gue tahu kagak mudah buat lo, tapi gue yakin Yofan juga kagak mau lo tangisin kayak gini," ujar Niko.


"Bu, saya izin ke rumah sakit sehari ini, saja. Boleh ya, Bu ... Saya mohon," rengek Emilia kepada salah satu instruktur.


"Maaf, Mil. Ini sudah aturan kantor. Kami tidak ada yang berani melanggar, kecuali kalau kamu izin ke atasan kami," ujarnya.


"Bapak ada? Saya mau kok, izin ke beliau sendiri secara langsung. Saya berani, Bu," ucap Emilia lagi.


"Tapi kalau sekarang tidak bisa, Mil. Bapak tidak ada disini, dia sedang di luar kota. Besok baru ada," ucap Pak Jay–Instruktur asli Sunda.

__ADS_1


__ADS_2