
"Kamu dimana? Maksud kamu apa?" tanya Puspa.
"Kamu gak perlu tahu, aku di mana. Sekarang yang penting, jauhin Emilia dengan Yofan atau kalau gak, rahasia kalian bakalan aku bongkar dan Emilia bakalan lebih susah dari sekarang," ujar Della.
"Emangnya kamu siapa? maen nyuruh-nyuruh dan ngancam segala, ha?"
"Ya itu terserah kamu, lah. Aku cuma peringatin aja. Oke, Cantik ..." Della menutup teleponnya.
Puspa menghela nafas kasar, lalu kembali masuk untuk menemui Emilia, Yofan dan Adam. Dia menyuruh Yofan untuk segera pulang, tanpa mau menceritakan penyebabnya.
"Memangnya kenapa? Ada apa, kok saya disuruh cepet pulang?" tanya Yofan.
"Emm ... anu, Pak. Emm ..."
Reaksi Puspa membuat Emilia dan Yofan curiga. Bagi Emilia, bibir memang bisa berbohong, akan tetapi mata, tidak bisa membohongi dirinya. Gadis malang itu lantas meminta agar Puspa berterus terang dengannya.
"Telepon dari siapa, tadi?" tanya Emilia.
"Jujur saja, Dek. Ada apa?" sahut Yofan.
"Dari Della. Dia tahu kalau Pak Yofan ada disini. Dia mengancam akan membongkar rahasia ini, kalau Pak Yofan masih dekat dengan Emilia," ujar Puspa.
Namun lagi-lagi, Yofan mengatakan kepada ketiga siswa yang ada di hadapannya saat ini, kalau tujuan dia memang, agar dibenci oleh keluarganya dan bisa menceraikan Adelia secepatnya.
Dengan begitu, Yofan bisa menunggu Emilia lulus dan menikahinya. Tetapi Emilia tidak setuju dengan tindakan dan ide gila Yofan tersebut. Dia menyuruh Yofan untuk kembali ke rumah menemui keluarga dan istrinya, karena mereka berdua sudah menikah dan Yofan tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya.
"Iya, saya tahu. Tapi bagaimana bisa, saya hidup bersama dengan orang yang tidak saya cintai? Apalagi sekarang kamu sedang sakit," ujar Yofan.
"Apapun alasannya, kamu harus bisa, Mas. Kamu harus bisa mencintai istrimu sepenuh hati, bagaimanapun caranya. Itu pun kalau kamu memang benar-benar mencintai aku."
Kedua mata itu saling menatap dengan tatapan yang sangat dalam. Terbesit di dalam hati Yofan, untuk menggunakan cara terang-terangan menceraikan Adelia secepatnya.
__ADS_1
Sebelum dia kembali pulang, dia menelpon temannya untuk meminta tolong menjaga Emilia di rumah, sampai dia benar-benar sembuh. Namun teleponnya tidak kunjung diangkat oleh temannya tersebut, hingga dua kali menelpon.
Kondisi itu membuat Yofan bingung dan semakin tidak ingin meninggalkan Emilia, hanya bersama dengan kedua temannya yang sama-sama masih kecil, di rumah tanpa orang tua satupun.
"Halo, Vi. Kamu hari ini sibuk, tidak?" tanya polisi muda itu kepada Vivi–rekan sekantornya.
"Tidak, Bang. Kenapa?"
"Saya mau minta tolong untuk jagain adik saya yang sedang sakit, di rumah. Bisa? Karena orang tuanya sedang tidak ada di rumah dan hanya ada kedua temannya yang masih sama-sama SMK," ujar Yofan.
"Siap, Bang. Bisa. Share lok saja, nanti saya meluncur segera," jawab Vivi.
Yofan mengucapkan terima kasih dan hatinya begitu lega, mendengar jawaban dari Vivi. Dia segera mengirim peta lokasi rumah Emilia saat ini dan sengaja menunggu sampai Vivi datang, baru dia bisa kembali pulang.
***
Lain halnya dengan kondisi di rumah Yofan yang kedatangan Della saat itu. Della sengaja menemui Adelia untuk membongkar semua rahasia Emilia dan Yofan yang masih berhubungan dan saling bertemu. Della yang masih menjadi bahan pertanyaan sekaligus perbincangan teman-teman Emilia itu rupanya mengenal Adelia cukup lama dan akrab, sehingga wajar saja jika Adelia sangat baik dengan Della.
"Ah, gak penting itu. Yang penting sekarang, aku datang ke sini mau kasih info yang sangat penting dan genting buat rumah tangga kamu." Della tersenyum tipis.
"Maksudnya?"
Della menunjukkan beberapa foto, saat Yofan berada di depan rumah Emilia dan beberapa foto lagi, saat Yofan bertemu dengan Emilia dan teman-temannya di depan pintu rumah Emilia. Tentu saja foto-foto tersebut menunjukkan beberapa ekspresi dari Yofan yang terlihat sangat panik dan cukup perhatian dengan Emilia.
Adelia yang merupakan gadis cantik dengan tabiat mudah tersulut emosi itu tentu saja marah besar, ketika Della menunjukkan foto-foto tersebut di depan matanya, secara langsung. Dia lantas segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Yofan dan menyuruhnya kembali pulang.
Akan tetapi Della melarangnya, karena dia memiliki satu permainan yang cukup menarik untuk Adelia mainkan. Tentu saja untuk menyingkirkan Emilia, serta permainan agar Yofan bisa mencintai Adelia sepenuhnya dan melupakan Emilia dengan segera.
"Gimana caranya?" tanya Adelia, "aku gak mau ya, kalau aneh-aneh," sambungnya.
"Enggak, gak aneh, kok. Kamu harus bisa jadi kayak Emilia dan kamu harus bisa segera punya anak dari Yofan," ujar Della.
__ADS_1
"What! Aku jadi Emilia?" Seketika itu, pramugari cantik–Adelia sangat syok.
"Ieuh ... Gak banget, Del. Mana mungkin aku bisa jadi kayak Emilia yang modelnya kayak begitu? udah jelas-jelas cantikan aku, modis aku ..." Adelia menatap sinis Della.
"Iya, aku tahu ... Aku belum buta, kok. Tapi Yofan sukanya model kusut kayak si tengil, itu .. Mau gimana dong? Emilia itu penurut kalau sama Yofan. Jadi kamu harus bisa kayak dia," ujar Della.
Adelia dan Della saling bertatapan. Gadis pramugari cantik itu kembali memikirkan apa yang dikatakan oleh Della. Dia mempertimbangkannya cukup lama, sebelum akhirnya memutuskan untuk setuju dengan tips dari Della.
Sembari menunggu Yofan pulang, Adelia sengaja membuatkan sebuah makanan kesukaan Yofan dan berharap dia mau memakan masakannya. Semua itu adalah ide dari Della tentunya. Della pun turut membantu Adelia memasak.
"Mbak, aku pamit pulang ya," ujar Della setelah masakannya selesai.
***
Namun sesuatu hal membuat Adelia menjadi kesal kembali. Sebab hingga pukul sepuluh malam, Yofan belum juga pulang. Hatinya menjadi panik karena teleponnya tidak diangkat dan pesannya juga tidak dibaca. Ingin sekali Adelia menghubungi Emilia dan menanyakan keberadaan suaminya, akan tetapi dia tidak memiliki nomor Emilia.
"Apa aku minta Della aja, ya. Dia pasti punya nomornya," tutur batinnya.
Namun tiba-tiba saja, telinganya mendengar suara motor Yofan dan dia segara berlari ke depan untuk membukakan pintu rumah, sembari mematikan sambungan teleponnya ke Della yang belum sempat diangkat oleh Della.
"Dari mana saja, Sayang? Aku khawatir tahu, sama kamu. Dihubungi juga susah banget," ujar Adelia.
"Aku masakan ayam kecap kesukaan kamu, Sayang. Makan dulu ya, aku ambilin," imbuhnya.
Dia berusaha merayu dan mengambil hati Yofan dengan menggandeng tangan Yofan dan mengajaknya untuk masuk ke rumah. Akan tetapi, tangannya dikibaskan oleh Yofan.
"Tidak usah sok peduli dengan saya. Ingat ya, kamu jadi istri saya itu hanya sebatas status saja. Dihati saya, selamanya tetap Emilia. Paham kamu!" bentaknya.
"Ya gak bisa gitu dong sayang! Mau gimanapun aku ini istri SAH mu, Sayang!" teriak Adelia di teras rumah.
Yofan mengunci pintu kamar nya dan berganti pakaian. Tak lama, dia kembali keluar dengan membawa bantal dan selimut.
__ADS_1
"Loh, kamu mau tidur dimana?" tanya Adelia.