Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Permohonan dan Penyesalan Ilmi


__ADS_3

"Maksud kamu apa, Mbak? Aku gak ngerti, serius." Emilia menatapnya.


"Mil, dengerin aku, ya. Kalau orang yang bener-bener cinta dan tulus, dia nggak akan punya alasan apapun untuk mencintai orang lain, apalagi meninggalkan kamu, apapun alasannya. Tapi kalau dia sudah memutuskan untuk belajar mencintai orang lain, itu artinya dia nggak sepenuhnya tulus, Mil. Bisa jadi, dia melihat sisi lain dari Adelia yang bisa menguntungkan dia, jadi dia ambil keputusan untuk coba cinta," terangnya.


Kenzie dan Niko membenarkan ucapan Fika dan sedikit memberikan tambahan pengertian tentang ketulusan cinta kepada Emilia. Namun cinta Emilia terhadap Yofan sudah benar-benar buta. Dia tidak terlalu merespon ucapan dan cerita-cerita Kenzie. Dia hanya percaya dengan kata hatinya sendiri bahwa, Yofan pasti bisa kembali kepadanya lagi seperti dulu.


***


Lima hari telah berlalu. Sore ini, Emilia kedatangan tamu dari sekolahnya. Tamu tersebut adalah Ilmi, istrinya Yofan, beserta satu wali kelasnya yang berniat menjemput Emilia untuk diajak ke rumah sakit, karena ternyata Yofan sedang sakit dan dirawat di rumah sakit sekitar tempatnya diklat.


"Emilia, ada tamu penting yang nunggu kamu di bawah. Silakan temui sebentar," ujar salah satu instruktur.


"Terima kasih, Pak." dia lantas keluar dari ruangan kampus dan turun untuk menemui tamu tersebut.


Emilia terkejut saat orang yang pertama kali dia lihat adalah Adelia– istri dari Yofan. Dia mulai over thinking, takut dimarahi dan lain sebagainya. Hampir saja dia kembali ke ruangan kampus, akan tetapi hati kecilnya menolak dan menyuruhnya untuk tetap menemui mereka.


"Mbak Adel," sapa Emilia.


Adelia, Ilmi dan wali kelasnya menoleh, sembari tersenyum tipis, lalu menyuruh Emilia duduk sebentar, karena ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan.


Emilia duduk di samping Adelia dengan jantung yang berdetak cukup kencang dan keringat dingin, dia menunggu sepatah kata yang belum terucap sama sekali dari salah satu diantara mereka.


"Mil, sebelumnya ibu minta maaf ya, sama kamu. Mungkin ibu telat kasih tahu kamu," ujar Ilmi.

__ADS_1


"Jadi, kedatangan kami kesini untuk menjemput kamu," imbuhnya.


"Maksudnya?" tanya Emilia.


"Jadi sebenarnya, beberapa hari ini Yofan sedang mengalami depresi berat, sekaligus sakit yang lain, dan terpaksa dibawa ke rumah sakit sekitar sini untuk mendapatkan penanganan dokter lebih lanjut. Tapi dari kemarin dia belum sadarkan diri, bahkan dia terus-menerus menyebut nama kamu, bukan nama Adelia ataupun nama saya." Ilmi memandang Emilia.


"Tidak ada anggota keluarga satupun yang disebut namanya, teman-temannya sekalipun. Pokoknya yang disebut cuma nama kamu. Jadi, saya minta tolong sama kamu untuk ikut saya ke rumah sakit, menemui Yofan. Siapa tahu, dia bisa siuman ketika mendengar suara kamu," imbuhnya.


Emilia terkejut dan merasa khawatir dengan kondisi Yofan saat ini. Akan tetapi dia tidak yakin, instrukturnya beserta petugas keamanan akan memperbolehkan dia untuk ke rumah sakit. Pasalnya, dia sudah izin keluar dari asrama sebanyak 3 kali untuk keperluan pribadinya. Sementara aturan di asrama tersebut, keluar dari asrama tidak boleh lebih dari 3 kali, sekalipun meninggalkan KTP.


"Maaf ya, karena saya baru kasih tahu kamu sekarang. Saya pikir, dia hanya ngigo saja dan bisa sadar, meskipun tidak ada kamu. Tapi ternyata sampai sekarang, dia belum sadarkan diri dan semakin sering menyebut nama kamu. Siang, sore, malam, pokoknya setiap jam," kata Ilmi lagi.


"Saya sih sangat mau, Bu. Tapi—"


"Masalahnya, aturan di sini gak boleh keluar dari asrama sebanyak lebih dari 3 kali. Sedangkan aku, kemarin-kemarin sudah keluar dari asrama tiga kali untuk kepentingan aku sendiri. Jadi aku gak yakin, aku bisa dapat izin untuk keluar dari asrama lagi," terang Emilia.


Namun Adelia tidak percaya dengan ucapan Emilia. Dia tersenyum miring sembari menatap Emilia dengan tatapan yang sangat tajam. Dia lantas mengutarakan kata-kata negatif yang menyerang mental Emilia, lebih tepatnya mencaci maki dia, di hadapan banyak orang, termasuk wali kelasnya Emilia sendiri.


Hingga akhirnya, wali kelas dari Emilia memutuskan untuk mencoba terlebih dulu, izin kepada keamanan dan salah satu instruktur yang melatih Emilia. Tentu saja dengan harapan, semoga diberikan izin untuk menjenguk Yofan sebentar.


Ilmi sebagai perwakilan dari keluarga Yofan, mendatangi pos penjagaan untuk meminta izin keluar bersama dengan Emilia dan meninggalkan Ktp-nya di pos penjagaan.


"Emilia dari kamar berapa, Bu? Biar saya cek dulu data keluarnya," kata Aris–satpam di kantor Kementrian Industri.

__ADS_1


"B14, Pak," jawab Ilmi.


Ilmi menunggu sekitar 2 menit untuk proses pengecekan data Emilia.


"Wah, Mohon maaf sekali ya, Ibu. Dikarenakan Emilia sudah keluar dari asrama sebanyak tiga kali, jadi dia tidak bisa lagi keluar dari asrama ini dengan alasan apapun itu," ucap Aris.


"Tapi ini sangat penting, Pak. Menyangkut nyawa seseorang yang mencari dia. Sebentar ..., saja, Pak. Saya tinggal KTP saya di sini deh, sama KTP kedua rekan saya yang saya bawa tadi."


Ilmi berusaha memohon kepada petugas keamanan agar diperbolehkan untuk membawa Emilia keluar dari asrama.


Akan tetapi usahanya tidak membuahkan hasil, seperti yang dia harapkan. Satpam tersebut tetap tidak mengizinkan Emilia keluar dari asrama, sesuai dengan aturan yang ada. Satpam itu berdalih dengan tidak ingin melanggar aturan dari atasan.


Ilmi lantas kembali berkumpul dengan Emilia, Adelia dan wali kelas dari Emilia, dengan membawa kekecewaan dan kesedihan.


"Gimana, Mbak?" tanya Adelia.


"Benar kata Emilia, Del. Emilia sudah tidak diizinkan keluar dari asrama ini lagi, dengan alasan apapun dan segenting apapun. Tadi, Mbak sudah mencoba merayu tapi tetap tidak bisa," keluh Ilmi.


Seketika itu wajah semua orang yang ada di situ, termasuk Emilia, terlihat sangat sedih dan kecewa. Terlebih, Ilmi sebagai kakak kandungnya Yofan. Ada penyesalan tersendiri diraut wajahnya, bahkan dia tidak ragu-ragu meminta maaf berulang kali kepada Emilia, karena merasa telah menyakiti hati Emilia dan adiknya.


"Saat ini saya cuman bisa berharap adik saya lekas sadar dan bisa kembali sehat. Karena dokter sempat mengatakan, kemungkinan untuk bertahan hidup sangat kecil. Saya jadi menyesal, telah memisahkan cinta kalian berdua dan saya baru sadar kalau ternyata cinta kalian berdua sangat besar dan tulus," ucap Ilmi.


"Tapi saya baru menyadarinya sekarang. Maafkan saya ya, Mil. Tolong doakan Yofan, agar dia lekas sembuh dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga di rumah, " ucap ilmi lagi.

__ADS_1


__ADS_2