
Baru lima hari, Emilia menjalani diklat bersama teman-temannya, namun sudah ada banyak orang yang merindukannya. Salah satunya adalah Yofan.
Sore ini, dia sengaja diam-diam datang ke asrama tempat Emilia tinggal saat ini, hanya karena rindu. Tentu, dia tidak sendirian, melainkan ditemani oleh Adam–sahabat Emilia yang tidak ikut kloter pertama.
Jam empat sore, bel pulang berbunyi. Seluruh peserta diklat mulai berbondong-bondong turun ke lantai bawah untuk menuju ke kamar masing-masing. Namun, baru sampai di depan pintu kamar, Emilia mendengar suara teriakan dari seorang lelaki dewasa yang memanggil namanya.
"Emilia!"
Emilia menoleh, "Iya, Pak. Ada apa?"
"Ada kunjungan buat kamu. Mereka sedang menunggu di depan kantin," ujar Pak Eko–Satpam asrama.
"Oh, iya, Pak. Nanti saya segera kesana. Terima kasih ya, Pak." Emilia tersenyum.
Dalam hatinya penuh tanya. Sebab dia sedang tidak ada janji dengan siapa-siapa, bahkan tidak ada yang mengirim pesan atau telepon.
"Ah, daripada penasaran, mendingan aku samperin sekarang aja, deh. Mandinya nanti aja," gerutunya–lirih.
Tiba di depan kantin, Emilia sangat terkejut, hingga tanpa sadar menjerit bahagia karena melihat kehadiran Yofan dan Adam.
"Kalian kesini kok gak ngomong-ngomong, sih." Dia duduk di depan Yofan dan Adam.
__ADS_1
"Memang sengaja, biar surprise ..." Adam dan Yofan terkekeh.
"Nih, buat kamu. Kamu bagi sama teman-teman juga boleh," ujar Yofan.
Aneka makanan ringan, kue dan susu. Yofan memang selalu peduli dengannya, sama persis dengan Ardian–kakak asuh Emilia yang tidak pernah absen memedulikan kesehatan Emilia.
"Mas Yofan sebenarnya gak perlu repot-repot begini, Mas. Kamu datang kesini aja, aku udah seneng," tutur Emilia.
"Masa jenguk adiknya yang cantik ini, tidak bawa apa-apa. Sudah lah, tidak apa-apa, Sayang. Kamu betah tidak, disini?" tanya Yofan.
Emilia menceritakan semua hal yang dia alami di asrama selama hampir satu minggu ini. Mulai dari kegiatan belajar hingga bangun tidur. Keseruan-keseruan yang ia alami, membuat Adam menjadi ingin segera menjalani diklat.
"Terus, kalau malam minggu kita biasanya jalan-jalan ke taman dekat Masjid Agung sana, Dam, Mas. Rame-rame anak sekian banyak nya, sampai banyak orang yang ngira mau ada demo." Emilia, Adam dan Yofan tertawa.
Tawa canda dan cerita dari Emilia, membuat Yofan merasa lega karena menurutnya Emilia sedang bahagia dan lukanya sudah sembuh.
"Happy banget ya, sepertinya. Saya pasti disini mengganggu kebahagiaan dan ketenangan kamu," ujar Yofan yang berusaha tes Emilia.
"Apaan sih, Mas. Ya gak, lah. Justru Mas Yofan dan Adam kesini itu, bikin aku makin seneng, karena ternyata kalian masih ingat dan mikirin aku," ucap Emilia.
Waktu berputar cukup cepat dan kini Yofan sudah harus pulang karena sudah memasuki waktu Magrib. Namun Emilia menahannya. Gadis kecil itu menyuruh Yofan makan bersamanya di asrama dan pulang jam tujuh malam.
__ADS_1
Yofan berulang kali menengok Adam–tanda bahwa dia kebingungan dan berusaha meminta pendapat Adam mengenai hal tersebut.
"Emm, kayaknya pulang habis Magrib deh Mil, bisanya. Kalau jam tujuh kagak bisa, soalnya takut ketahuan bininya dia." Adam sedikit nyengir.
"Kamu bodoh banget sih, Mil. Bisa-bisanya, kamu lupa kalau Yofan udah nikah sama Adelia," tutur batin Emilia.
"Dek, kok bengong? Kamu tidak apa-apa 'kan, saya tinggal pulang habis jamaah nanti?" tanya Yofan.
"Ah, iya ..., gak papa kok. Maaf ya, aku lupa kalau Mas udah nikah." Namun Emilia masih berusaha untuk tetap tersenyum di depan Yofan dan Adam.
"Ya udah, kalian tunggu disini sebentar, ya. Aku mau mandi dulu," ujar Emilia.
Dia lantas pergi, meninggalkan dua pria muda tersebut dan kembali ke kamarnya. Disana, Feni dan Puspa menegurnya karena ber jam-jam mereka mencarinya, namun tidak ketemu.
"Dari mana aja sih, Mil? Nyusahin orang aja," tanya Puspa.
"Apa, sih. Marah-marah mulu, deh. Habis dari luar, depan kantin. Ada Adam sama Yofan di depan," jawab Emilia.
"Wah, kebangetan tuh si Adam, kesini gak bilang-bilang," sahut Feni.
Feni dan Puspa cepat-cepat keluar dari kamarnya untuk menemui sahabatnya yang paling keren dan sabar.
__ADS_1
Sementara Emilia, sibuk memilih pakaian yang akan dia pakai untuk makan malam bersama Yofan.
"Aku harus bisa dapatkan cintanya Yofan lagi. Pokoknya Yofan sama Adelia harus cerai. Lagian Yofan 'kan cintanya sama aku, bukan Adelia. Apa perlu pakai guna-guna aja, ya ..."