
Yofan sama sekali tidak memedulikan pertanyaan Adelia. Dia terus berjalan menuju ke ruang keluarga dan tidur di kasur lantai yang sudah tergelar.
"Sayang, kok tidur disini, sih. Kalau kamu gak mau tidur di kamar, biar aku aja yang tidur disini," ujar Adelia.
"Berisik! Kamu bisa diam, tidak?!" bentak Yofan.
"Balik ke kamarmu, sana. Terserah saya mau tidur dimana, itu bukan urusan kamu," imbuhnya.
Wajah Adelia memerah dan kedua matanya berair. Dia menahan sakit hati dan tangisnya, di hadapan Yofan–suaminya yang tidak pernah mencintainya sama sekali. Penyesalan berkecamuk di hati Adelia.
"Gak. Aku gak boleh nyerah gitu aja. Pokoknya aku harus bisa dapatkan hati Yofan, demi balas dendamku," tutur batinnya.
***
20 April. Merdu suara kokok ayam di kebun samping rumah Emilia pagi ini, membuat suasana hati gadis pelajar itu sedikit tenang. Dia tidak lagi memikirkan Yofan terlalu berlebihan, sebab dia yakin Yofan akan baik-baik saja, begitu juga dengannya.
Ujian nasional hari ini digelar di seluruh Indonesia untuk tingkat SMK sederajat. Berbekal kesiapan mental dan keyakinan, Emilia pamit berangkat sekolah.
"Hati-hati, Mil. Jangan lupa berdoa sebelum mengerjakan ujian," ujar sang ibu.
__ADS_1
"Iya, siap ..."
"Kamu juga kalau bawa motor jangan ugal-ugalan, Yan!" teriak sang ibu kepada Bryan–anak sulungnya.
Bryan mengantar jemput Emilia sekolah dengan motor beaty kesayangannya. Tiba di depan sekolah, mereka berdua melihat Yofan sedang berjalan menghampiri mereka. Bryan melirik adiknya yang tidak kabur dan menghindar dari Yofan seperti dulu lagi. Baginya, ada sikap Emilia yang layak untuk dipertanyakan.
"Mil. Tumben kamu nggak menghindar? Yofan mau kesini, tuh," ujar Bryan.
"Biarin, Mas. Mungkin ada sesuatu yang mau disampaikan."
Yofan berhenti dihadapan Bryan dan Emilia sembari menyapa mereka dengan santun.
"Saya mau ngasih ini buat Lia, Mas." Dia memandang Emilia dan Bryan bergantian sembari memegang sebuah gelang.
Emilia tersenyum lalu menanyakan, "Apa yang kamu bawa itu, Mas?"
Yofan pun tersenyum, lalu memberikan gelang itu ke Emilia sembari memasangkannya di tangan kanan Emilia. Dia berharap Emilia bisa menjaga gelang itu, sebagai tanda persahabatannya. Yofan benar-benar tidak ingin kehilangan Emilia sampai kapanpun.
"Cantik, gelangnya. Makasih, ya," ujar Emilia–lirih.
__ADS_1
Ada sesuatu hal penting yang ingin Yofan sampaikan, namun dia tidak memiliki kesempatan banyak waktu, karena bel sekolah sudah berbunyi–pertanda seluruh siswa sudah harus memasuki kelasnya masing-masing, termasuk Emilia yang masih berada di luar sekolah.
"Aduh, Maaf ya, Mas. Sudah bel, nih. Aku mau masuk ke kelas dulu ya .." ujar Emilia.
"Mas Bryan sama Mas Yofan kalau pulang hati-hati ya ..." Emilia beranjak pergi.
Namun Yofan menarik tangan Emilia, "Semangat ya, Dek. Jangan mikir yang aneh-aneh. Kamu pasti bisa dapat nilai bagus."
"Siap, Boss." Sikap tangan hormat seraya meringis, Emilia berikan untuk Yofan.
Yofan terkekeh, "Ya sudah, sana masuk ..."
Kini tinggal Yofan dan Bryan yang masih berdiri di depan sekolah Emilia. Keduanya saling canggung, seperti awal kenal dulu lagi. Kesalahan, yang selalu menghantui pikiran Yofan.
"Mas, saya minta maaf ya, Mas. Saya sudah melukai hati Lia dan keluarga. Apalagai papah dan kakak saya yang keterlaluan dengan keluarganya Mas Bryan," ujar Yofan.
Bryan menghela nafas berat, "Sudah lah, Bro. Lupakan, masalah itu. Itu 'kan masa lalu, biarkan berlalu. Yang terpenting sekarang, tolong jangan sakiti Emilia lagi." Bryan menepuk bahu Yofan.
Pemuda berusia hampir tiga puluh tahun itu meninggalkan Yofan dan kembali pulang. Lain hal nya dengan polisi muda yang masih enggan meninggalkan sekolah Emilia. Dia terus mengawasi kelas Emilia yang berada di lantai dua. Sembari berdoa 'semoga segala impian Emilia terwujut' sebelum akhirnya, dia pun pergi meninggalkan bangunan kokoh penuh cerita.
__ADS_1
"Maafkan saya yang telah mengecewakan dan hancurkan mimpi-mimpimu," tutur batinnya.