
"Alah, sudah lah. Pokoknya tanda tangani saja surat ini. Aku butuh bukti, biar kamu tidak bisa ingkar," jawab Ilmi.
Yofan menggerakkan jarinya untuk menandatangani surat tersebut dengan penuh keterpaksaan. Matanya membaca setiap kalimat yang diketik dengan sangat rapi dalam selembar kertas yang sudah ditandatangani oleh Adelia dan Ilmi. Hatinya sudah benar-benar hancur dan tidak bisa berbuat apa-apa.
"Nah, gitu dong, baru adikku. Semoga langgeng dan bahagia dengan Adelia, ya." Ilmi tersenyum–merasa puas sudah menang dari Yofan. Dia lalu pergi dari rumah menuju ke rumah Adelia.
"Argkh!" Kedua tangan kekar dan berototnya, mengacak rambutnya dengan sangat kasar. Yofan juga sempat membenturkan kepalanya sendiri beberapa kali ke tembok karena merasa sangat kesal.
Ting tung! Seseorang memencet bel rumahnya. Yofan mendekati pintu dan membukanya. Dia terkejut karena yang datang adalah Emilia bersama Andi dan Puspa–sahabatnya.
Emosinya mendadak hilang dan mulai salah tingkah. Dia takut ketahuan Emilia kalau kepalanya terluka, akibat dia benturkan tembok. Yofan tak ingin Emilia merasa sedih karena ulahnya.
"Dek Lia. Kamu kok ke sini?" tanya Yofan.
"Aku mampir, Mas. Kebetulan, flashdisk kamu jatuh di rumah. Jadi aku antar ke sini." Emilia tersenyum manis.
Tak sengaja, mata cantik Emilia melihat memar di kepala Yofan. Sontak tangan kanannya menyentuh bagian memar itu, hingga Yofan meringis kesakitan. Andi dan Puspa pun terkejut melihat kondisi Yofan saat ini.
"Ini kenapa, Mas? Kok memar begini?" tanya Emilia–panik.
"Tidak apa-apa, kok. Tadi cuma lagi emosi saja, jadinya saya benturkan ke tembok."
"Pak Yofan udah gila, ya! Diri sendiri kok disiksa …" Refleks ucapan itu keluar dari mulut Andi yang tak lama kemudian dibungkam oleh Puspa.
Emilia bisa merasakan bagaimana sedihnya dan bagaimana dilemanya menjadi seorang Yofan yang harus memilih satu diantara dua hal, yang dianggap penting dan juga dia sayangi.
Kalau dia mempertahankan pekerjaannya, maka resikonya Yofan harus meninggalkan Emilia dan kalau dia memilih Emilia, maka dia harus mengikhlaskan pekerjaannya hilang.
"Mas. Aku tahu ujian ini berat buat kamu, karena kamu harus memilih satu diantara dua. Tapi asal kamu tahu, Mas. Ujian ini juga berat buat aku karena aku nggak bisa, jika jauh dari kamu. Tapi mau gimana lagi, mungkin memang Tuhan nggak menakdirkan kita untuk bersama dan kita nggak bisa berbuat apa-apa." Gadis itu menatap dengan penuh kesedihan.
__ADS_1
"Bukannya Mas Yofan dulu pernah bilang ke aku kalau segala sesuatu yang menjadi milik kita, nggak akan pernah hilang. Kalaupun pergi, dia pasti akan kembali. Namun sebaliknya, jika segala sesuatu itu bukan untuk kita, maka sekuat apapun kita mempertahankannya, suatu saat nanti juga pasti hilang," ucap Emilia lagi.
Di teras rumah, Yofan dan Emilia saling bertatap mata. Sementara Puspa dan Andi, memandangi mereka berdua dengan tatapan yang sendu. Sebagai seorang sahabat, mereka berdua sangat bisa merasakan kesedihan Emilia saat ini.
Puspa tak lagi bisa menahan air matanya, namun dia lebih memilih untuk berpura-pura kuat di hadapan Emilia– sahabatnya dengan cara membuang muka dan sesekali berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Adam pun sempat beberapa kali melirik tingkah laku Puspa. Dia paham bahwa Puspa saat ini sedang berusaha mengalihkan pandangannya dari Emilia dan Yofan yang sedang bersedih.
"Saya tahu. Tapi saya tidak kuat, Sayang. Tidak yakin bisa, jika harus pisah sama kamu. Apalagi sebentar lagi kamu akan menghadapi ujian nasional. Saya tidak ingin membuat kamu kepikiran. Saya ingin bahagiakan kamu, saya ingin tetap ada bersama kamu, saya ingin menikah dengan kamu," ujar Yofan.
"Serahkan semuanya sama Tuhan, Mas. Dia yang lebih tahu dan pilihan-Nya pasti yang terbaik untuk kita berdua. Kalaupun memang ternyata kita nggak berjodoh, bukan berarti kamu nggak bisa membahagiakan aku, kan?" Emilia menatap kedua mata indahnya.
"Kita masih bisa berteman atau sekedar menjadi kakak dan adik asuh. Aku masih bisa bahagia kok, Mas. Setidaknya kamu masih peduli sama aku dan aku masih bisa menganggap kamu sebagai kakak aku," imbuhnya.
Yofan tidak menyangka, Emilia akan bisa menjadi sedewasa itu pemikirannya. Pasalnya, dia adalah anak gadis yang cenderung manja dan susah diatur. Yofan selalu berpikir kalau Emilia tidak akan mungkin menyerah dalam hubungan mereka.
Bahkan Yofan pun sempat membayangkan Emilia akan mengeluarkan tanduknya dan memenangkan pertarungan antara dia dan Ilmi.
"Eng–nggak usah, Mas. Aku berangkat sendiri aja, pakai ojol. Aku nggak akan naik motor sendiri, kok. Tenang aja," ujar Emilia.
Emilia meminta obat dan alkohol untuk mengobati Yofan. Tetapi Yofan menolak dan memilih untuk mengobatinya sendiri. Dia menyuruh Emilia dan teman-temannya segera pulang karena khawatir Ilmi akan menyerang mereka, jika tahu mereka ada di sini.
Emilia sangat paham dengan watak Ilmi–gurunya yang mendadak jutek dan galak itu. Dia juga bisa memahami kekhawatiran Yofan yang sangat menyayanginya.
"Ya udah kalau gitu ... aku pulang dulu, ya. Mas Yofan jaga kesehatannya, aku nggak mau lihat kamu sakit," ucapnya dengan suara lirih nan manja.
"Iya … saya pasti jaga kesehatan, kok. Pokoknya besok Sabtu saya yang antar jemput, ya. Tidak boleh menolak." Mereka tertawa dan berpelukan ala teletubbies.
Terlintas sekilas dalam pikiran Emilia, saat di perjalanan pulang untuk membatalkan pernikahan Yofan dan Adelia. Dia tidak bisa membiarkan seluruh mimpinya hancur berantakan.
__ADS_1
Sejak kecil, dia selalu menuruti kehendak orang tuanya dan tidak pernah bisa bahagia dengan pilihannya sendiri. Segalanya selalu dipilihkan oleh orang tua. Kini dia sangat ingin merasakan kebahagiaan lain seperti anak muda lainnya.
"Apa iya, urusan cinta pun aku harus mengalah? Ini benar-benar nggak adil buat aku," gumamnya dalam hati.
"Mil, kita langsung pulang, 'kan?" Pertanyaan yang keluar berulang-ulang dari mulut Puspa, namun tak juga mendapat respon dari Emilia.
Gadis blasteran Jawa dan Sunda itu mengeraskan suaranya seraya menoleh ke belakang hingga membuat Emilia terperanjat kaget. Refleks, tangan kecilnya memukul pelan lengan kiri Puspa sembari menggerutu.
"Ya habisnya, kamu bengong mulu. Diajak ngomong dari tadi gak nyaut," kata Puspa.
"Ya sorry, aku lagi kepikiran soal video yang Niko tunjukin ke aku, minggu lalu." Dia berusaha membohongi sahabatnya seraya mengalihkan pikirannya.
"Video apa?" Puspa melirik Emilia dari kaca spion.
Tiinnn!!! Andi memencet klakson motornya dengan menahannya, hingga menimbulkan suara bising yang menghebohkan jalan raya.
Hampir saja Andi menabrak pengendara motor yang menerobos lampu merah. Jiwa bar-bar nya pun bertamu. Andi meneriaki pemotor ugal-ugalan itu dengan kata-kata kotor sembari berusaha mengejarnya.
"Aduh, gimana nih, Mil? Bisa keringkus Polisi nih!" Manda turut mengebut–mengejar Andi.
"Dam, berhenti! Nggak usah dikejar, Dam!" teriakan Puspa dan Emilia menarik perhatian para pengguna jalan raya.
Sayangnya, Andi tidak merespon teriakan kedua gadis dibelakangnya.
"Kalau udah ngebut sekelas setan main balapan gitu sih, harus pakai speaker ngomongnya biar kedengeran," gerutu Puspa.
Kepanikan Emilia semakin bertambah saat matanya melihat dua orang Polisi di sisi jalan.
"Mampus kita, Pus. Ada Polisi, Pus. Tamatlah riwayat kita," ujarnya berbisik di telinga Puspa.
__ADS_1
"Haduh ... ngapain sih, Malaikat Izrail pakai acara nongol segala."