Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Adelia Tak Jujur


__ADS_3

Semakin kucoba melupakanmu,


Semakin sering kumengingatmu,


Teringin rasanya bertemu denganmu,


Namun tak mungkin kulakukan itu,


Kau bukan lagi milikku,


By Emilia


***


Duduk di teras rumah dengan bertopang dagu–menatap jauh kedepan dengan tatapan sendu. Suara lirih terdengar menyapa dengan hangat. Sentuhan lembut pun ia rasakan pada bahu kanannya.


"Mil, ngapain disini sendirian?" tanya Feni.


Emilia menengok dan tersenyum tipis, "Nggak apa-apa, kok. Lagi kepengen cari angin aja. Kamu tumbenan udah rapi banget. Mau kemana?"


"Mau ketemuan sama Dokter Ken, sebentar. Tapi ... Kamu jangan ikut ya, Mil." Feni meringis, menunjukkan rentetan gigi putihnya yang gingsul.


Emilia hanya tertawa sembari manggut-manggut. Dia sangat paham kalau sahabatnya sedang berusaha PDKT dengan pria yang ditaksirnya. Emilia pun berharap, nasib sahabatnya tidak akan seperti nasib dirinya.


"Ya udah, hati-hati di jalan," ucap Emilia.


"Iya ... Siap. Berangkat dulu ya, Mil!" teriak Feni sembari melambaikan tangannya diatas motor yang sudah ia lajukan.


Gadis malang itu menghela nafas berat. Sesekali ia menyeka air matanya yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Bayangan masa lalu bersama Yofan saat bahagia selalu saja melintas di pelupuk matanya.


Sangat sulit dan berat, bagi Emilia meninggalkan Yofan apalagi merelakan dia untuk orang lain.


"Mil! Emil!" Suara teriakan seorang pria dari dalam rumah, membuatnya tersadar dari lamunannya.


"Apa? Aku di depan!" Dia pun segera menghapus air matanya hingga benar-benar kering dari pipinya.


"Kaga usah dihapus, gue sudah tahu kalau elu pasti nangis," ujar Adam yang sudah berdiri di belakangnya.


Dia sempat melihat Emilia menghapus air matanya dengan kedua tangannya secara bergantian.


"Siapa juga ..., yang nangis. Aku cuma kelilipan. Nggak ada hal yang perlu ditangisi, kok nangis."


Mereka berdua saling bertatapan mata. Adam sangat paham dengan tabiat Emilia yang selalu berusaha terlihat kuat di depan orang lain, meskipun hatinya hancur. Dia meraih kedua tangan Emilia sembari menatapnya dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


"Mil. Gue ini sahabat elu sejak beberapa tahun yang lalu. Gue sangat tahu bagaimana kebiasaan elu. Kaga ada yang harus elu sembunyikan dari gue dan temen-temen yang lain, Mil," ujar Adam.


"Aku ..., belum siap kehilangan Yofan. Lima hari lagi dia bakal nikah sama perempuan lain." Tatapan sendu kedua mata cantik Emilia, membuat Adam iba dan memeluknya.


Dia hanya bisa berusaha menenangkan hati Emilia dan membuatnya yakin bahwa jodoh pasti bertemu.


***


Sementara di tempat lain, Feni berdiri menunggu Ken di sebuah tempat yang sangat sejuk, penuh dengan wewangian dari berbagai aroma bunga. Tanahnya pun cukup hijau dengan pagar-pagar cantik yang mengelilinginya.


Sudah enam menit, dia menunggu ditemani motor kesayangannya. Namun Ken tak kunjung tiba. Kegelisahan pun muncul menyapa hati Feni.


"Feni!" teriak seorang pria perfect berkemeja merah maroon.


"Maaf ya, saya telat. Tadi sempat macet, soalnya," imbuhnya.


"Oh iya, Dok. Gak masalah. Baru enam menit, kok." Feni meringis.


Mereka duduk berdampingan di sebuah kursi putih panjang dengan model ukiran besi. Berbasa-basi dengan cerita-cerita ringan, hingga serius. Bahkan Feni tak ragu menceritakan tentang Emilia ke Kenzi–seorang Dokter muda yang biasa dipanggil 'Ken' oleh orang-orang.


"Dia sahabat baikku. Anaknya baik bahkan bisa dibilang terlalu baik, sampai-sampai banyak orang yang berlomba-lomba untuk memanfaatkan dia," ujar Feni.


"Ya, sudah biasa kalau hal seperti itu, Fen. Namanya juga hidup. Pasti ada saja orang-orang yang suka memanfaatkan orang lain untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri." Kenzi tersenyum miring.


"Fen. Kamu kenapa?" tanya Kenzi.


"I–itu … calon bininya mantan pacar Emilia yang waktu itu aku ceritain di WA …" Mulutnya sedikit menganga sembari menunjuk ke arah Adelia dan pria lain yang tidak Feni kenal.


Hatinya tergerak untuk mengikuti mereka dan merekamnya. Menurutnya, apa yang dia lihat hari ini adalah suatu hal yang bisa membuat pernikahan Yofan dan Adelia batal, lalu kembali ke Emilia. Feni berdiri dan beranjak pergi, tanpa mendengarkan panggilan dari Kenzi.


Aksinya telah ia mulai, sejak saat Adelia hendak memasuki sebuah butik didekat taman kota. Bahkan dia tak segan-segan mengikutinya sampai ke dalam butik.


"Haduh, anak jaman now tingkahnya meresahkan. Gak bisa dibiarkan, nih. Bahaya kalau sampai ketahuan," gumam Kenzi.


Dia menyusul Feni ke dalam butik dan mencarinya yang sudah tidak kelihatan hidungnya, hingga Kenzi menemukannya di samping etalase perhiasan dan tas wanita.


"Ngapain, sih? Bahaya, Feni … kalau sampai ketahuan. Sudah lah, ayo keluar." Dia menarik tangan Feni namun Feni kibaskan.


Gadis ABG itu justru memelototinya dan memberi kode diam kepada Kenzi yang membuat Dokter muda itu menjadi mati kutu. Usai merekam, Feni sengaja mengambil beberapa barang untuk dibeli agar Adelia tidak curiga. Dia sengaja berjalan mendekati Adelia dan pura-pura terkejut.


"Mbak A …, del. Udah lama, Mbak, disini?" tanya Feni.


"Kamu …" Wajah Adelia terlihat panik dan mendadak gagap, "Eng–Enggak, kok. Baru saja, beberapa menit yang lalu. Kamu cari apa, Dek?"

__ADS_1


"Aku lagi nyari daleman baju aja, buat persiapan wisuda nanti. Anyway … Mas ini siapa? Kok gak sama Pak Yofan," tanyanya dengan sengaja.


"Emm … A–anu, ini …, abang aku, baru pulang dari Thailand." Senyumnya tampak ragu-ragu, saat Feni mengeluarkan jurus keponya.


Namun gadis berusia delapan belas tahun lebih itu tidak percaya begitu saja dengan ucapan Adelia. Pasalnya, seorang pria yang dia akui sebagai kakaknya itu bereaksi lain, saat ia mendengar pengakuan dari Adelia.


Demi meyakinkan Feni, calon istri Yofan itu memperkenalkan abangnya kepada Feni dan Kenzi. Kenzi pun terpaksa ikut dalam sandiwara dadakan yang dibuat oleh gadis kecil yang baru dia kenal beberapa bulan yang lalu melalui sosial media.


"Kenalin, ini Bang Alexandrea. Orang-orang biasanya memanggil dia Andre," ujar Adelia.


"Hai, Aku Andre." Sama halnya dengan Ken. Andre pun terpaksa mengikuti sandiwara Adelia yang sama sekali tidak ia mengerti.


"Aku Feni, Bang. Ini temanku, Kenzi," ujarnya sembari berjabat tangan dengan Andre.


***


Andai saja aku bisa memutar waktu


Aku ingin kembali ke masa lalu


Andai aku bisa menyusun skenario hidupku sendiri


Kupastikan semua baik-baik saja dan tak mungkin begini


Namun semua itu hanyalah halusinasi belaka


Yang tak mungkin menjadi nyata


Dari hati yang terlukai, Emilia.


Berbeda hal nya dengan kondisi di rumah Puspa yang masih terasa menyedihkan hingga kini. Sebab, redupnya sinar keceriaan Emilia–seorang sahabat yang kehilangan sinarnya. Puspa dan Adam hanya bisa melihatnya dari jauh.


Sesosok Emilia yang hari-harinya hanya di isi dengan belajar dan mengisi diary birunya. Tak jarang pula, ia mencurahkan isi hatinya di dinding story instagram miliknya.


"Kasihan, Emilia. Mau sampai kapan dia kayak gini," ucap Puspa–lirih.


"Ya, kita doakan saja yang terbaik buat dia." Adam merangkul Puspa dan mengajaknya kembali bermain game.


Grett … Grett.. Adam mengambil Hp nya yang bergetar dari saku celana. Sebuah pesan dari Feni yang membuatnya membuka mata lebar-lebar.


Helaan berat nafasnya terdengar, "Kurang ajar," ujarnya.


Puspa terkejut dengan reaksi aneh dan menegangkan dari Adam yang tidak biasa dia jumpai dari sesosok Adam–sahabat pria paling sabar yang dia miliki.

__ADS_1


__ADS_2