
Emilia (18.10) : Lagi jalan-jalan sama keluarga aja, Mas
Yofan lantas menelponnya dan berusaha menjelaskan kepada Emilia tentang perasaannya saat ini.
"Saya sepertinya akan mencoba mencintai Adelia, seperti yang kamu bilang," ujar Yofan.
Mata Emilia berembun. Tidak sanggup mendengar kalimat itu dari Yofan. Tetapi dia berusaha keras untuk menutupinya dari Yofan.
"Oh, iya .., Mas. Kamu benar," jawabnya.
"Mas, besok lusa aku diklat di Kota Pahlawan."
Obrolan itu tidak berlangsung lama, sebab Ardian dan rombongan keluarga Emilia sudah kembali. Gadis kecil tersebut memutuskan sambungan teleponnya tanpa mengakhirinya. Ketakutannya adalah dengan Ardian–orang yang sudah dia anggap kakaknya sendiri.
"Telponan sama siapa, Mil?" tanya Ardian.
"Sama Niko, Mas. Biasa lah, dia mau ngajakin jalan-jalan." Emilia terpaksa berbohong dan Ardian hanya manggut-manggut saja, berusaha percaya dengan ucapan Emilia.
Sementara di rumahnya, Yofan merasa aneh dengan sikap Emilia yang tidak seperti biasanya. Dia masih menggenggam erat ponselnya dengan tangan kanannya, sembari berdiri di depan cermin kamarnya.
"Jangan-jangan dia marah dan kecewa de ngan keputusan saya," tutur batinnya.
Yofan (19.00) : Dek, kenapa kok ditutup? kamu marah ya, sama saya?
__ADS_1
Yofan lantas segera mengirimkan pesan pribadi kepada gadis kecil pujaan hatinya, seraya berharap mendapatkan jawaban yang melegakan hatinya dan tidak membuatnya menjadi kembali bimbang.
Emilia (19.10) : Nggak papa, Mas. Aku cuma nggak enak aja sama Mas Ardian dan istrinya, karena mereka sudah tahu kalau hubungan kita sudah berakhir.
Yofan (19.11) : Tolong kasih tahu saya, bagaimana caranya agar saya tidak mengecewakanmu terlalu berlebihan? saya tahu, keputusan saya pasti membuatmu kecewa.
Hilang. Tidak ada balasan apapun lagi dari Emilia. Pesan itu hanya centang abu-abu yang tidak kunjung membiru, sampai Adelia masuk ke kamar Yofan untuk menemaninya tidur.
Malam ini, sengaja Yofan menyuruh Adelia untuk tidur sekamar dengannya, sebagai awal dari prosesnya belajar menerima kehadiran Adelia, meskipun sulit. Tentu saja, Adelia si gadis cantik itu sangat bahagia, sebab pelan-pelan keinginannya akan terwujut.
"Kamu boleh tidur disini, tapi jangan aneh-aneh," ujar Yofan.
"Iya, tenang aja. Lagian aku 'kan cewek, Sayang ..., mau aneh-aneh gimana? Caranya bikin dede bayi aja belum tahu." Adelia meringis–menggoda Yofan.
***
Bagaimana mungkin saya bisa tidur nyenyak, kalau yang berada disamping saya bukanlah orang yang saya cintai?
Saya tahu ini berat untuk saya lalui. Tapi, kenyataannya dia sudah SAH menjadi istri saya. Andai waktu dapat saya putar kembali. Saya tidak ingin mengalami hal bodoh seperti ini.
Sebuah kalimat ungkapan hati tersebut, Yofan tulis di story WA pribadinya. Tentu saja, akan ada banyak orang yang bisa melihat dan membacanya, termasuk keluarga, Emilia dan rekan kerjanya.
Berulang kali ia pejamkan matanya, tetapi ia selalu teringat dengan gadis pujaan hatinya. Kenangan-kenangan masa lalunya dengan Emilia selalu terlintas di pelupuk matanya.
__ADS_1
Saat ia membuka kembali galeri di ponselnya, dia menemukan satu video Emilia yang mengutarakan perasaannya, tepat di hari ulang tahun Yofan.
"Video ini, saat saya ada di kantor. Dia mengirimkan kue tart mini untuk saya dengan ketulusannya. Tapi ternyata justru saya yang tidak bisa membahagiakannya," tutur batin Yofan.
Tung. Sebuah pesan masuk.
Emilia (20.33) : Mas Yofan harus bisa lupain cinta kita, Mas. Kamu harus bisa mencintai Adelia yang sangat mencintai kamu. Aku yakin, dia bisa membuatmu bahagia, lebih dari aku. Mas tidur, gih. Besok 'kan, masih harus berangkat kerja.
Pesan sederhana yang tidak pernah gagal membuat Yofan tersenyum dan tenang. Cinta memang terkadang terasa begitu aneh. Sulit diartikan, namun sangat mudah dirasakan susah dan senangnya.
Yofan (20.34) : Saya bisa tidur kalau kamu mau janji dulu sama saya.
Emilia (20.34) : Janji apa?
Yofan (20.35) : Jangan benci sama saya, ya. Saya tidak tahu akan sehancur apa hidup saya, kalau kamu membenci saya.
Emilia (20.36) : Haha .. Lebay banget, sih. Emangnya aku mau ngapain kamu, Mas? Kok hidupnya bisa sampai hancur?
Yofan (20.36) : Saya serius, Dek.
Emilia (20.37) : Mas, gimana aku mau benci sama kamu, kalau kenyataannya kamu itu cinta pertamaku? Sebelum ada kamu, hidupku nggak sebahagia ini, Mas. Tapi, sejak kamu datang, semuanya berubah.
Emilia berharap ada keajaiban Tuhan yang turut serta dalam hubungannya dengan Yofan. Setidaknya, Adelia membolehkannya menganggap Yofan seperti kakaknya sendiri, meskipun dia tidak bisa memiliki Yofan.
__ADS_1
"Sayang, kamu masih chatingan sama mantanmu, ya?" tanya Adelia