Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Keberangkatan Diklat


__ADS_3

Yofan : Dek, yang bonceng kamu tadi siapa?


Emilia : Kapan, Mas? 


Yofan : Tadi pagi, arah bandara.


Emilia : Oh, itu to. Dia Kenzi, dokter kenalannya Feni. Mas Yofan kok tahu kalau aku keluar sama dia? 


Yofan : Iya, tadi saya ngantar Adelia kerja dan tidak sengaja ketemu kamu.


Yofan : Jujur, saya cemburu lihat kamu sama dia. 


Emilia : Mas, kamu ini kan sudah janji mau belajar mencintai Adelia, 'kan? Tolong hapus cinta kamu ke aku, Mas. Kita memang ditakdirkan untuk jadi kakak adik, bukan pasangan.


Sejak saat itu, Emilia berusaha keras menghindari Yofan, agar bisa fokus dan mencintai Adelia, bukan lagi dirinya.


Pagi ini, Emilia pergi mencari koper dengan Kenzi, untuk berangkat ke kota pahlawan besok pagi. Disana, dia mengikuti diklat industri dan akan di karantina selama tiga minggu. Selain itu, Emilia juga tidak bisa sembarangan keluar dari asrama tempatnya diklat.


Sebelum berangkat, dia sudah berpamitan dengan Yofan sejak jauh-jauh hari. Tetapi, hari ini dia mengulangi pamitnya untuk yang ke dua kalinya. 


Emilia : Aku besok berangkat diklat, Mas. Doakan lancar, ya … 


Yofan : Berangkat jam berapa? 


Emilia : Jam empat sore. Mas Yofan gak perlu khawatirkan aku, karena aku disana banyak temannya, kok. Aku berangkat sama guruku. Kemungkinan besar, kalau nilaiku bagus, akan dikirim ke perusahaan industri di Jawa Tengah untuk bekerja disana.

__ADS_1


Yofan : Semoga sukses dan lancar ya, diklatnya. Besok saya pasti datang untuk antar kamu.


***


Setelah percakapannya dengan Yofan kemarin, kini Emilia kembali mengingatkan Yofan yang ke tiga kalinya sekaligus terakhir bahwa, sore hari ini dia akan berangkat ke Kota Pahlawan bersama empat puluh rombongan di kloter pertama.


Tetapi, Yofan hanya membaca pesannya tanpa membalas, hingga satu jam lebih. Ada perasaan sedikit kecewa di hati Emilia. Tapi dia hanya menghela nafas panjang, lalu kembali menata pakaian yang akan dia bawa ke dalam kopernya.


Kring! panggilan masuk dari Niko.


"Halo, ada apa, Nik?"


"Sudah siap belom?" tanya Niko.


"Oke. Jangan sampai ada yang ketinggalan, ya."


"Siap .. Santai aja," ucap Emilia.


"Mil!" Teriakan itu tiba-tiba terdengar dan gadis mungil itu pun segera mengakhiri teleponnya dengan Niko.


"Iya, Mah! Emilia di kamar!"


Bidadari cantik, menghampiri Emilia di dalam kamar dan memberinya beberapa lembar uang merah, serta wejangan-wejangan yang cukup banyak, untuk bekalnya diklat nanti.


"Pokoknya, kamu harus bisa jadi orang yang sukses, orang yang mapan. Biar bisa angkat derajat orang tuamu. Lupakan dan jauhi Yofan, karena dia sudah bukan siapa-siapamu lagi, Nak. Fokus saja dengan cita-citamu," ujar sang mamah.

__ADS_1


Tetapi malaikat kecilnya itu hanya tersenyum seraya mengucap 'Aamiin.


***


Lain hal nya dengan Yofan. Hari ini dia sibuk mempersiapkan bekal untuk gadis tercintanya. Ya ... Siapa lagi kalau bukan Emilia.


"Makanan ringan, vitamin, susu, semuanya sudah. Apalagi ya, enaknya." Yofan mondar-mandir seraya melihat-lihat seluruh rak yang ada di minimarket merah.


Pukul tiga sore, Yofan berangkat menemui Emmila di sekolahnya. Dia sangat berharap bisa kembali lagi dengan Emilia, meski saat ini masih cukup sulit.


Tiba di sekolah, banyak mata yang memandangnya dengan pandangan yang berbeda. Begitu juga dengan Emilia. Dia terkejut Yofan mendatanginya.


"Mas Yofan, kamu ngapain disini?" Emilia menarik Yofan untuk menjauh dari teman-temannya.


"Kenapa, sih?" tanya Yofan.


"Mas, nanti kalau Bu Ilmi tahu gimana? Atau Della tahi. Kamu kan udah aku kasih tahu, Mas."


"Saya cuma mau kasih ini saja ke kamu, tidak lebih. Setelah itu saya menjauh dari sini." Yofan mengeluarkan amplop putih dan satu kantong plastik, lalu diberikan ke Emilia.


"Jajannya aja, Mas. Uangnya buat Adel aja," ucap Emilia.


Tetapi Yofan menolak permintaan Emilia dan memaksanya untuk menerima uang dalam amplop yang dia sodorkan.


"Mil!" Hingga suara teriakan seseorang memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2