
"Saudara Yofan Aldiwijaya bin Wijaya Handoko. Saudara saya nikahkan dan kawinkan dengan Adelia Pratiwi binti Sasmito dengan mas kawin berupa uang senilai satu juta rupiah dan seperangkat alat solat, dibayar tunai."
Yofan masih melamun dan tidak segera menjawab ijab qobul tersebut, sampai semua tamu gelisah dan penghulu serta Ilmi pun berulang kali menegur Yofan. Dia hanya terfokus memikirkan Emilia yang tidak hadir di pernikahannya.
Sementara di rumah, Emilia pun tidak fokus dengan tugasnya untuk persiapan diklat yang akan datang. Mereka berdua sama-sama saling memikirkan dan masih belum ikhlas dengan takdirnya.
Saat acara dimulai, Ilmi terus menegur Yofan yang sudah dua menit lamanya, tidak menjawab ijab qobul pernikahannya. Hingga akhirnya Yofan tersadar dari lamunannya dan menjawab ijab qobul itu.
"Saya terima nikahnya Emilia Dwi Cantika Atmajaya binti Erfan Atmajaya deng—" Dia menghentikan ucapannya sembari menutup kedua matanya.
Para tamu undangan, calon besan, keluarga Yofan dan Adelia terkejut dengan nama yang Yofan sebutkan. Pasalnya, keluarga Adelia dan keluarga Yofan tidak ada yang tahu tentang masalah yang Yofan alami, kecuali Adelia, Ilmi dan papanya.
Ilmi memelototi Yofan dengan ekspresi wajah marah. Begitu juga dengan Adelia yang hanya bisa menunduk malu namun hatinya sangat dongkol dan benci dengan Emilia, sejak hari itu.
"Mohon maaf, Pak. Bisa diulangi sekali lagi?" tanya Yofan kepada penghulu.
"Baik, Mas. Tetapi mohon maaf, apabila untuk yang kedua kalinya Mas Yofan salah sebut nama lagi, maka pernikahan telah gagal dilaksanakan," jawabnya.
Yofan menghela nafas seraya menganggukkan kepalanya. Penghulu mengulangi ijab qobulnya dan kali ini Yofan tidak salah menyebutkan nama Adelia. Kini mereka telah resmi menikah dan itu artinya, harapan Emilia benar-benar telah pupus.
Dihari pernikahan Yofan dan Adelia, Ilmi tidak hanya mengundang Emilia dan sahabatnya saja, tetapi dia juga mengundang Della beserta rekan-rekan kerja yang lain. Della tersenyum puas melihat Yofan tak lagi dengan Emilia. Baginya, jika dia tidak bisa memiliki Yofan, maka Emilia pun tidak boleh memiliki Yofan.
"Aku harus kirimkan video dan foto-foto ini ke Emilia. Biar dia makin ngenes dan depresi kehilangan Polisi idamannya," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Dia sengaja mengirimkan video dan foto karyanya ke Emilia dengan caption tertawa diatas kesedihan Emilia. Namun sayangnya, Emilia tidak merespon pesannya dan hanya dia baca saja, hingga beberapa menit.
"Sialan. Nih cewek lama-lama ngelunjak juga, ya," gerutu Della.
Usai acara, Ilmi dan papanya sengaja mengajak Yofan dan Adelia masuk ke kamar pengantin. Mereka marah besar dengan Yofan atas kesalahannya menyebutkan nama istrinya. Bahkan Ilmi juga merendahkan Emilia dihadapan Adelia yang membuat Yofan menjadi tersulut emosi.
"Siapa juga yang nyuruh saya menikahi dia!" Yofan menunjuk Adelia dengan tatapan tajam penuh amarah.
"Dia yang terbaik untuk kamu, Yofan. Bukan Emilia!" bentak Ilmi.
"Ilmi Khairunnisa Wijaya yang terhormat. Berapa kali saya bilang kepada Anda? Baik buruknya masa depan saya, hanya saya yang tahu," ujarnya.
"Dan kamu. Walaupun saya menikahi kamu, tidak berarti kamu berhak atas hidup saya, mengatur saya dan jangan harap saya mau sekamar dengan kamu."
Tak lama kemudian, Yofan menghubungi Adam. Dia meminta tolong Adam untuk datang ke rumahnya, sebab ada sesuatu hal yang ingin dia sampaikan secara empat mata dengan Adam.
"Halo, Dek Adam. Kamu bisa datang ke rumah saya sekarang?" tanya Yofan.
"Saya sekarang sedang di rumah Emilia, Pak. Sepertinya tidak bisa, karena Emilia sedang demam dan orang tuanya belum pulang dari luar kota," ujar Adam.
Polisi muda itu terkejut dan mulai panik. Dia sangat ingin segera menemui gadis yang dia cintai, namun masih ada banyak tamu di rumahnya. Yofan meminta tolong Adam untuk menjaga Emilia terus dan memberikan kabar kepadanya, mengenai kondisi Emilia hingga Yofan tiba di rumah Emilia.
Namun sayangnya, Adam melarang Yofan untuk datang menemui Emilia. Pasalnya, dia masih terpukul dengan pernikahan Yofan dan Adelia yang sama sekali diluar dugaan Emilia. Adam menyarankan kepada Yofan untuk membiarkan Emilia menenangkan diri dulu hingga beberapa hari.
__ADS_1
"Saya tidak bermaksud ikut campur atau melarang Pak Yofan bertemu Emilia. Tetapi, satu minggu lagi kami akan menghadapi ujian praktek untuk yang terakhir, menjelang UNAS. Saya tidak ingin konsentrasi Emilia terganggu oleh masalah pribadinya, Pak." Lirih suara Adam di teras rumah, sempat terdengar oleh Puspa yang sengaja memantaunya dari ruang tamu.
"Kasihan, Pak Yofan. Dia pasti sangat terpukul dan risih dengan istri yang tak dia harapkan itu. Aku gak nyangka, hubungan mereka akan berakhir seperti ini," gumam Puspa dalam hati.
Obrolan Adam dan Yofan berakhir tiga menit setelah Puspa kembali menonton Tv didepan kamar Emilia. Gadis itu berpura-pura tidak tahu dengan percakapan Adam dan Yofan.
Dia ingin mengetahui apakah Adam akan menceritakan kepadanya, ataukah tidak. Namun ternyata Adam memilih bungkam. Manda lantas bertanya kepada Adam 'habis dari mana' dan Adam memilih berbohong dengan mengatakan kalau dia hanya cari angin diluar rumah.
"Keadaan Emil gimana?" tanya Adam seraya menempatkan pantatnya di kasur lantai yang telah tergelar di depan TV.
"Gak ada perubahan sih, tetep demam. Suhunya juga tetap seperti kemarin."
"Apa kagak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja? biar dapat obat yang lebih manjur, gitu."
Puspa menghela nafas berat, "Harusnya sih gitu, Dam. Cuman masalahnya dia itu nggak pernah mau ke dokter kalau cuman demam gini doang. Jadi percuma, kita nyuruh dia ke dokter berkali-kali pun nggak bakal mempan."
Adam dan Puspa saling diam beberapa saat, sebelum akhirnya mereka berdua mendengar suara batuk Emilia yang terdengar beberapa kali. Tanpa menunggu lama, Puspa dan Adam berlari masuk ke kamar Emilia untuk cek kondisinya. Mereka berdua terkejut, ketika melihat darah mengalir keluar dari hidung Emilia.
Kedua mata indah Puspa sedikit melotot, sementara Adam bergerak cepat mengambil tisu untuk mengusap darah mimisan Emilia dan cek suhu tubuhnya yang ternyata sudah bertambah tinggi. Kini wajah Emilia menjadi sangat pucat, seperti mayat hidup.
"Mil, kita harus ke rumah sakit. Ini bahaya buat lu, Mil. Puspa, lu pesan taxi ya, cepetan," ujar Adam.
"Nggak, nggak usah, Gaes. Aku ini cuma kecapean aja, kok. Udah, nggak usah ke dokter. Nanti malah divonis yang aneh-aneh. Aku cuma butuh istirahat aja. Serius, aku nggak apa-apa," sahut Emilia.
__ADS_1
"Gak, Mil. Pokoknya lu harus ke rumah sakit buat di periksa. Gue tahu lu sedih dan terpukul dengan kejadian ini. Tapi lu jangan korbanin diri lu, Mil. Masih banyak yang sayang sama lu, termasuk gue. Gue sayang sama lu. Gue kagak mau kehilangan lu, Mil," terang Adam.