
Emilia dan Yofan terkejut mendengar suara teriakan yang menyebut namanya tersebut.
"Mampus kau, Mil. Itu pasti Della atau mata-matanya Adelia yang lain," tutur batin Emilia.
Gadis mungil itu lantas perlahan-lahan menengok ke belakang dan dia menghela nafas lega, karena ternyata yang memanggilnya adalah Puspa–sahabatnya sendiri.
"Aku cariin ke mana-mana, ternyata kamu di sini, toh. Udah lama, Pak Yofan di sini?" tanya Puspa.
"Belom lama, kok. Masih beberapa menit. Tapi sekarang saya mau kembali pulang, biar tidak ada yang tahu kalau saya ke sini. Saya minta tolong, kamu jangan bilang siapa-siapa ya, apalagi ke Ilmi," ujar Yofan.
"Oke, siap," jawab Puspa
__ADS_1
Yofan lalu segera pergi dari hadapan kedua gadis yang masih berusia belasan tahun tersebut. Namun sebelum pergi, dia sempat menyampaikan pesan kepada Emilia, agar dia menjaga dirinya baik-baik sampai kembali ke rumah.
Tidak hanya itu, Yofan juga memberikan satu benda lagi, sebagai kenang-kenangan untuk Emilia, berupa cincin anti karat yang terukir namanya dan nama Emilia.
"Buat apa, Mas?" tanya Emilia.
"Buat kenang-kenangan saja, biar kamu tidak melupakan saya. Meskipun kita berdua tidak bisa bersatu lagi seperti dulu, tapi saya berharap kamu tidak pernah lupa dengan saya," ujar Yofan, sembari tersenyum memandang Emilia.
Saat Yofan pergi dan menghilang dari pandangannya, Emilia menghapus air matanya yang sempat menetes sedikit di pipinya. Tentu saja, Puspa sebagai sahabatnya merasa sangat sedih dengan kondisi Emilia saat ini.
Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, selain memberikan support dan doa terbaik untuk Emilia. Puspa merangkul sahabatnya tersebut sembari memberikan semangat dan mengajaknya untuk segera memasuki mobil, karena rombongan akan segera berangkat.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat, Mil. Udah ditunggu sama yang lain," ujar Puspa.
Emilia meliriknya, seraya tersenyum tipis, lalu melangkah pergi menuju ke mobil rombongan.
Saat mobil rombongan sudah melaju perlahan–keluar dari lapangan sekolah, siapa sangka justru kedua mata cantik Emilia melihat Yofan yang ternyata masih berdiri di depan gerbang markas TNI yang biasa dia jadikan tempat menunggu jemputan Yofan.
Air mata Emilia pun mengalir dan tidak lagi dapat dia bendung, ketika melihat Yofan melambaikan tangan kepada dirinya, seraya tersenyum manis. Dia pun tanpa sadar membalas lambaian tangan itu, dan beberapa teman telah menyaksikan mereka berdua, tanpa komentar apapun.
"Kasihan juga Emelia. Dia harus mengorbankan cintanya, demi kebahagiaan Yofan. Andai saja Yofan itu bisa menjadi lelaki yang tegas dan berani menanggung resiko, demi pertahankan cintanya dengan Emilia, pasti mereka tetap bahagia, bukan seperti ini," tutur batin Niko.
Emilia dan Yofan masih terus saling memandang, hingga mobil yang ditumpangi oleh Emilia semakin menjauh, dan dia tidak dapat melihat Yofan kembali. Saat mereka sudah tidak bisa saling melihat lagi, Emilia kemudian mengambil cincin dari Yofan yang dia masukkan ke dalam tasnya, lalu memakainya di jari manis tangan kanannya.
__ADS_1
"Andai aja, kamu bisa menjadi milikku. Aku pasti akan selalu bahagia, tanpa harus berpura-pura bahagia. Tapi Tuhan berkata lain. Mungkin memang Adelia adalah jodohmu, Mas. Aku berharap, semoga dia bisa mencintaimu dengan sepenuh hati dan kamu pun bisa mencintainya, lalu melupakanku," tutur batin Emilia.