Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Kebohongan Feni Terbongkar


__ADS_3

"Apa? kenal, lo bilang? yakin, lo kenal sama cowok itu? Sedangkan Feni tadi jelas-jelas ngomong ke gue kalau lo itu kagak kenal, sama cowok yang mau lo temuin malam ini. Emang lo mau ketemuan di mana sih?" tanya Niko.


Emilia menatap Feni–sahabatnya dengan rasa kebingungan. Begitu pun dengan Puspa.


"Maksudnya apa, Fen? Kamu 'kan udah tahu kalau aku mau keluar sama Kenzie," ucap Emilia.


"I–iya, maksud aku ..., kamu 'kan nggak tahu Kenzie itu orang kayak gimana. Siapa tahu aja, dia mau modus ke kamu," jawab Feni.


Tidak lama kemudian, Kenzie datang menemui mereka di depan kamar asrama B14. Saat itu suasana sedang semakin menegangkan karena Feni yang mulai terlihat bohongnya dan Emilia yang tidak percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Feni.


"Kamu kok kesini, Dok?" Emilia terkejut.


"Iya, tadi saya nunggu lama di luar dan pesan saya belum kamu buka juga. Jadinya ya ..., saya kesini saja," ucap Kenzie.


Niko masih belum terima dengan jawaban dari Emilia, sehingga dirinya terpaksa bertanya langsung kepada Kenzie, hari itu juga.


Namun dia kembali terkejut, karena ternyata apa yang dikatakan oleh Emilia adalah benar. Malam ini Emilia akan keluar dengan Dokter Kenzie–seorang Dokter yang sudah cukup lama Emilia kenal. Bahkan Feni dan Niko pun mengenalnya.

__ADS_1


"Tapi memang harus berduaan aja, ya?" Niko tetap khawatir dengan Emilia, jika hanya pergi berdua saja, malam-malam.


"Nggak harus, sih. Kalau misalkan ada yang mau ikut juga ayo, monggo. Saya sih orangnya santai saja, rame-rame boleh, berdua juga boleh," ujar Dokter Kenzie sembari tersenyum.


Kedua mata Feni menatap Kenzie dan Emilia secara bergantian, dengan tatapan yang penuh kekesalan. Wajahnya sedikit memerah, alisnya berkerut layaknya macan yang ingin memangsa.


"Kalau begitu gue ikut. Gue khawatir kalau Emil cuma berduaan sama lelaki yang baru dia kenal," ujar Niko.


Dokter Kenzie hanya menanggapinya dengan senyuman santai. Baginya, tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Dia juga sangat memahami tingkat emosional anak seusia Niko.


"Ya sudah, ayo. Keburu malam," ucap Kenzie.


"Dok, kenapa?" tanya Emilia.


"Nggak kenapa-kenapa, Mil. Kita naik mobil saja kesananya," ucap Kenzie.


Emilia kebingungan. Dia berulang kali menengok ke Niko yang sedang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"I–itu, mobil kamu?" tanya Emilia kembali.


"Iya, betul. Memangnya kenapa?" Kenzie balik bertanya.


Emilia semakin bengong. Namun berbeda lagi dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Niko. Dia terlihat sangat santai dan biasa-biasa saja, seakan tidak ada apa-apa.


"Mil, halo!" Kenzie melambaikan tangannya didepan mata Emilia.


"Ah, iya. Gak kenapa-kenapa, kok. Cuman kayak gak asing aja, gitu." Gadis itu meringis.


Kenzie manggut-manggut, lalu menyuruh Emilia dan Niko segera masuk ke mobil.


***


Sampai di taman Kota Pahlawan, mereka bertiga bersenang-senang dan selfie ria. Menghabiskan malam minggunya dengan jajan bersama, dan berbagi cerita.


"Mil!" Tiba-tiba suara teriakan dari seorang perempuan terdengar, memanggil nama Emilia.

__ADS_1


Mereka menengok ke sumber suara dan terkejut saat melihat wanita yang cukup dewasa, tersenyum dan melambaikan tangannya.


"Siapa sih, orang itu? Kok tahu namaku," tutur batin Emilia.


__ADS_2