
"Kamu yakin, mau melakukan ini?" Emilia menatap Yofan.
Yofan hanya menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum. Dengan bermodalkan tekat dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja dan doanya pasti terkabul, Emilia akhirnya menyetujui ide Yofan.
Mereka berdua kembali menjalin hubungan asmara, sebagai alat semangat menjalani hari-hari mereka yang cukup rumit.
***
Hingga tiba waktunya, saat Emilia dan Yofan tiba di rumah Emilia, mereka dikejutkan dengan pertanyaan sang ibu tentang hubungan mereka.
"Kok sama nak Yofan? Mas mu kemana?" tanya sang ibu.
"Mas Bryan lagi sibuk sama kerjaannya. Tadi nggak sengaja, Mas Yofan minta ngantar Emilia pulang, jadinya Emilia bilang ke Mas Bryan biar nggak jemput," kata Emilia.
Yofan tersenyum ragu, sembari mencium tangan ibunya Emilia. Dia sedikit canggung, semenjak melakukan kesalahan fatal yang melukai hati putrinya.
Namun Yofan merasa sangat beruntung, sebab keluarga Emilia tidak pernah dendam dan membencinya.
"Bu, ngapunten. Ini ada sedikit oleh-oleh dari saya ..." Dia sodorkan sekantong kresek hitam.
"Tadi saya mampir makan siang dulu sama adek, jadi sekalian saya bungkuskan," imbuhnya.
Meski sudah ada kesepakatan diantara Emilia dan Yofan untuk kembali bersama, namun mereka berdua belum cukup punya keberanian untuk berterus terang dengan orang tua Emilia.
"Terima kasih ya, Nak Yofan. Kamu ini beda jauh sama papamu. Mungkin kamu niru mamah ya," ujar sang ibu sembari tertawa lirih.
"Mamah dan papah saya memang beda jauh, Bu. Mamah itu perempuan yang paling baik bagi saya. Beliau tidak pernah membeda-bedakan orang lain, apalagi merendahkan. Dulu hidup saya bahagia, saat masih ada mamah. Tapi sekarang—"
__ADS_1
Emilia menggenggam tangan Yofan dan memutus ucapannya dengan sebuah semangat.
"Jangan mengingat masa lalu, Mas. Lupakan masa pahit itu, dan doakan mamah agar tenang di surga," ujar Emilia.
***
Hati ini masih terus optimis
Berusaha mencari jalan keluar
untuk selesaikan setiap masalah
Laksana berjalan, di tengah
badai pantai selatan
Aku tahu ini sebuah kesalahan
Namun aku tak mampu berdusta
Aku masih sangat mencintai
Dan aku hanya inginkan dia
dari hati terdalam, Emilia.
Pukul tujuh malam, gadis malang itu memfokuskan pikirannya ke buku pelajaran yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Lulus dengan nilai terbaik adalah impiannya sejak dulu. Walau ujiannya masih ada dua hari lagi, namun Emilia sudah memikirkan hadiah dari Yofan.
Emilia (19.05) : Mas, dulu kamu pernah bilang ke aku kalau mau kasih kado aku, setelah UNAS 'kan? ingat nggak?
Mas Yofan (19.08) : Ingat, dong. Kenapa? Adek mau minta apa?
Emilia (19.08) : Besok lusa jalan-jalan, yuk. Tapi, kalau Mas Yofan sibuk, kapan-kapan aja, nggak apa-apa.
Mas Yofan (19.12) : Nanti saya usahakan, ya .. Yang penting sekarang, kamu fokus ujian dulu, biar bagus nilainya.
Kebahagiaan telah memeluk hati keduanya kembali, meskipun hubungannya tersembunyi. Harapan demi harapan, mereka panjatkan dalam doa mereka, disetiap sujutnya. Berharap dapat bersatu kembali dengan sebuah restu untuk mencapai jenjang yang lebih tinggi.
Namun, kebahagiaan itu memudar begitu saja–menjadi kekesalan, saat Adam tiba-tiba marah dengannya melalui sebuah pesan tertulis di whatsaap.
"Ini anak kenapa, sih. Nggak ada badai, angin ribut juga nggak ada, kok ngamuk." Alisnya berkerut seraya membaca setiap baris tulisan yang Adam kirimkan.
Kring! Kring! Sebuah panggilan masuk.
"Halo, ada apa?" tanya Emilia.
"Kamu balikan sama Pak Yofan?" tanya Adam.
"He'em, kenapa?"
"Mil, kamu gila atau bagaimana, sih? Dia itu suami orang, Mil. Kamu mau di cap pelakor, ha?!" Suara Adam sedikit mengeras.
"Ya mau gimana lagi, Dam? Aku nggak bisa tanpa Yofan. Aku cuma mau sama dia," ujar Emilia.
__ADS_1
"Emang lelaki di dunia ini cuma Yofan saja yang baik? Kamu itu bener-bener gak peka, Mil."