Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Menjauh


__ADS_3

"Saya memang ada di TKP saat itu. Tapi saya tidak ngapa-ngapain, Bu. Beliau sendiri yang terjatuh dari motor karena asmanya kambuh," ujar Emilia.


"Halah. Jelas saja, kamu tidak mau ngaku. Sudah lah, kamu lebih baik pulang saja. Saya tidak mau lihat muka kamu disini!"


Derai air mata Emilia pun tak lagi sanggup ia bendung. Dia akhirnya memutuskan untuk pergi kembali pulang. Namun langkahnya terhenti karena ada seorang Dokter tampan yang datang menghampiri mereka dan menanyakan tentang kondisi mereka.


Sebab Dokter tersebut sempat mendengar suara pertengkaran yang menyebabkan dia menghampiri mereka.


"Nggak ada apa-apa kok, Dok. Mereka berdua adalah keluarga dari pasien yang kami bawa ke rumah sakit ini. Mereka hanya syok dengan keadaan ibunya. Jadi wajar, jika suara mereka sedikit keras seperti orang yang sedang bertengkar," ujar Emilia


"Iya, Dok. Tapi sebetulnya tidak apa-apa kok kalau begitu kami permisi, Dok. Terima kasih kamu sudah mau mendahulukan Bu Eni daripada pasien yang lain, sehingga Beliau bisa diselamatkan." Feni tersenyum ceria. Dia terpesona dengan ketampanan sang Dokter.


Dokter tersebut memandangi Feni dan Emilia secara bergantian, kemudian memandang Ilmi dan suaminya, sebelum akhirnya dia mengucapkan terima kasih kembali kepada Feni.


Emilia dan teman-temannya pun pamit kembali pulang. Mereka keluar dari rumah sakit untuk menuju ke tempat parkir mobil. Namun saat sampai di depan pintu keluar, tiba-tiba ada seorang lelaki yang memanggil nama Emilia. Dia adalah sang dokter tampan yang sempat menjadi pusat perhatian kedua mata cantiknya Feni.


Feni terkejut melihat kehadiran dari sang dokter yang mencuri hatinya. Jantungnya berdebar dan perasaannya pun mendadak bercampur aduk, antara grogi dan bahagia.


"Maaf sebelumnya. Kalau boleh tahu, apa kita pernah ketemu ya, sebelumnya? sebelum di rumah sakit ini. Karena saya sepertinya tidak asing dengan wajah mbak ini …" Dia menunjuk ke arah Feni yang menyebabkan Feni semakin terkejut.


"Hah, sa–saya? Tidak tuh, perasaan saya tidak pernah bertemu dengan Dokter," ujarnya.


Dokter itu diam hingga beberapa saat, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah akun instagram miliknya, lalu menunjukkan suatu akun kepada Feni yang membuat matanya terbelalak, karena aku tersebut adalah akun miliknya.


"Ini kan akun saya, Dok. Dokter kok bisa tahu?" tanya Feni.


"Akhirnya, ketemu juga." Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Saya Kenzi. Saya yang waktu itu pernah menyapa kamu di social media instagram dan kita sempat berbincang dan berkenalan, beberapa hari lalu. Kita berdua kembali menghilang dan sekarang Tuhan mempertemukan kita lagi," ujarnya.


"Oh ya? Astaga … dunia ini sempit ya." Feni tersenyum dan berjabat tangan dengan Kenzi.


"Aku Feni dan ini sahabat-sahabat aku, Dok," imbuhnya.


Mereka saling berkenalan dengan Kenzi. Tampaknya Kenzi mulai tertarik dengan Emilia. Dia berulang kali curi-curi pandang, sembari bergumam dalam hatinya, memuji kecantikan Emilia, sebelum akhirnya Feni dan teman-temannya berpamitan untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang, karena urusannya di rumah sakit sudah selesai.


Kenzi meminta nomor WA Feni untuk komunikasi lebih lanjut dan Feni pun memberikannya kepada Dokter Kenzi.


***


Emilia dan teman-temannya sampai di rumah, tepat saat adzan Isyak. Emilia izin ke orang tuanya untuk menginap dirumah Puspa karena satu minggu lagi adalah hari pernikahan Yofan dan Emilia ingin menenangkan dirinya.


Di rumah Puspa, mereka masih asyik ber karaoke hingga pukul 20.00 malam. Sementara di rumah sakit, Yofan dan Adelia mengalami perdebatan dengan Ilmi, seperti biasanya.


Ilmi menuduh Emilia menjadi pelaku yang menyebabkan mertuanya masuk rumah sakit. Meskipun sudah berulang kali dijelaskan oleh mertuanya, tetapi Ilmi masih tetap tidak percaya dan menyalahkan Emilia.


"Yofan, kamu mau kemana?!" Adelia mengejarnya.


Dia berusaha merayu Yofan agar tidak pulang. Namun segala upayanya tidak berhasil.


"Ini semua gara-gara kamu! Sejak ada kamu, kebahagiaan saya hancur!" bentak Yofan.


Polisi muda itu tidak lagi bisa mengendalikan emosinya. Bahkan dia tega meninggalkan Adelia di rumah sakit hanya untuk menemui Emilia di rumahnya.


Dirumah Puspa, Emilia dan teman-temannya sedang asyik sendiri dengan kegiatan mereka. Feni asyik berbalas pesan dengan Dokter Ken, Puspa dan Niko asyik berkaraoke, sedangkan Emilia sibuk makan dengan Adam.

__ADS_1


Mereka sangat rukun, bagai saudara. Sebab itulah Emilia bisa sedikit tegar menghadapi konfliknya dengan Yofan.


Greett greet! Getaran HP di meja depannya terdengar begitu keras. Emilia sempat melirik nya dan ternyata getaran tersebut berasal dari Hp nya. Dia segera mengangkat Hp itu dan membuka pesan yang masuk, yang ternyata adalah dari Yofan.


Yofan : Dek, kamu dimana? Saya mau ke rumah kamu. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan ke kamu.


Gadis malang itu mendadak termenung, sembari memandang Hp nya tanpa segera membalas pesan dari Yofan. Dia merasa kebingungan harus menjawab pesan Yofan ataukah tidak.


Di sisi lain dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan Yofan, namun sebenarnya dia juga masih sangat mencintai Yofan. Melihat kebingungan Emilia, Adam pun menegurnya.


"Kok gak dibalas?" tanya Adam ke Emilia. Namun Emilia tidak segera menjawab.


"Emm … aku bimbang dan aku masih mencintai Mas Yofan, tapi dia sebentar lagi akan menikah. Aku gak mau dia masih mengingat aku, apalagi menghubungi aku."


"Yang hubungin kamu kan dia, bukan kamu. Kalau misalkan ada cemburunya sama istrinya, kamu tinggal bilang kalau yang hubungi Yofan, bukan kamu," ujar Adam.


"Tapi aku nggak enak sama istri dan keluarga mereka, Dam. Aku nggak mau jadi pelakor dalam rumah tangga mereka. Lagipula cinta nggak harus memiliki kan?" Adam dan Emilia saling bertatap mata.


Hanya dalam hitungan beberapa menit saja, Hp nya kembali berdering. Kali ini adalah telepon dari Yofan. Untuk telepon yang pertama kalinya, Emilia tidak mengangkatnya dan telepon yang kedua kalinya, Adam berusaha untuk mengangkat telepon itu. Namun dilarang oleh Emilia.


Dia benar-benar memutuskan untuk menjauh dari Yofan, meskipun hatinya sendiri masih belum sepenuhnya ikhlas atas kepergian Yofan.


Kehilangan Yofan adalah suatu hal yang sangat menyakitkan bagi Emilia. Pasalnya, sudah lama dia menantikan kebahagiaan dan kasih sayang yang belum dia dapatkan dari orang tuanya, namun bersama Yofan lah dia bisa merasakan banyak kebahagiaan dan kini kebahagiaan itu harus berakhir begitu saja, dengan cara yang sangat menyakitkan hatinya.


"Mil. Kamu masih punya kesempatan waktu satu minggu untuk bisa menggagalkan pernikahan Yofan. Kalau kamu benar-benar cinta sama dia, kamu usahakan bagaimanapun caranya."


Lagi-lagi Adam mencoba memberi support kepada Emilia dan menyuruhnya mempertahankan hubungan mereka.

__ADS_1


Namun suara lain tiba-tiba hadir, "Kagak perlu, Mil. Dia itu gak pantes buat lo. Percuma lo paksain buat bertahan sama dia. Toh keluarganya juga gak suka sama lo. Yang ada entar hidup lo semakin runyam," ujar Niko yang tak sengaja mendengar percakapan Emilia dan Adam.


"Hadu …h, udah lah, stop. Jangan ada yang bahas soal itu lagi. Capek, pusing kepalaku." Emilia beranjak pergi–masuk ke kamar tamu untuk beristirahat.


__ADS_2