Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Cinta Lama Belum Kelar


__ADS_3

"Mil!" teriak seorang gadis yang berwajah sangat sumringah.


Emilia berhenti di depan gerbang sekolahnya, "Ada apa, Fen?"


"Kamu mau gak, temenin aku ketemuan sama dokter Ken?" tanya Feni.


"Aduh, Feni ... Kita ini 'kan lagi ujian akhir, Fen. Harusnya kita itu belajar, bukan malah mikirin cowok dan cinta-cintaan ..." Dengan muka murung, Emilia membuang muka, lalu berjalan meninggalkan sahabatnya.


"Iya ..., aku tahu. Tapi kita masih bisa belajar nanti sore dan malam, 'kan. Mau ya, Mil .. please ..." Segala bujuk rayu dan rengekannya membuat Emilia bimbang.


Tin tin. Klakson motor milik orang yang mereka kenal, berbunyi. Pemiliknya seorang polisi tampan yang sangat bucin dalam dunia asmara. Siapa lagi kalau bukan Yofan–mantan pacar Emilia.


"Lia, belum dijemput?" tanya Yofan.


"Belum, Mas. Sepertinya Mas Bryan masih sibuk atau sedang dalam perjalanan."


"Saya antar, ya .."


"Emm ... nggak usah deh, Mas. Nggak enak sama istri dan Bu Ilmi," ujar Emilia.


"Alah, tidak apa-apa. Kan cuma antar pulang saja, tidak lebih. Mau ya? Sekalian ada sesuatu yang mau saya bicarakan sama kamu." Yofan tidak pernah berhenti meyakinkan Emilia, sampai gadis remaja itu mau pulang dengannya.

__ADS_1


Emilia mencoba kembali menghubungi Bryan dan melarangnya untuk menjemput. Dia menjelaskan alasannya secara rinci.


"Fen, sorry ya .. Aku nggak bisa. Besok aja ya, aku usahakan," ujar Emilia.


"Ya udah, deh. Kamu hati-hati ya, jaga diri .."


***


Sepanjang perjalanan, Yofan menceritakan segala peristiwa yang terjadi di rumahnya, sejak dia menikah dengan Adelia. Dia pun mengutarakan semua perasaan yang telah lama ia pendam sendirian. Namun Emilia sama sekali tidak merespon cerita-cerita Yofan.


Matanya berembun. Pipinya hampir basah oleh air mata yang hampir saja menetes. Tetapi Emilia bergerak cepat untuk menghapusnya, sebelum Yofan melihat.


"Dek, kita cari makan dulu, ya. Kamu mau 'kan?" tanya Yofan.


"Iya, balik. Tapi sekarang 'kan jam istirahat, Sayang. Kamu juga pasti lapar, 'kan?" Dia melirik Emilia dari kaca spionnya.


Emilia mengangguk, "Ya udah, terserah Mas Yofan aja."


Yofan tersenyum, merasa senang karena bisa jalan berdua lagi dengan Emilia.


***

__ADS_1


Sesampainya di kafe langganan, Yofan kembali bercerita sembari menunggu makanan dan minuman yang dia pesan, datang.


"Dek, kamu percaya tidak, kalau aku masih sayang sama kamu dan aku tidak mau kehilanganmu?" tanya Yofan.


"Mas, kamu ini sudah jadi suami Mbak Adelia, Mas," ujar Emilia.


"Iya, saya tahu. Tapi menikah dengannya itu bukan keinginan saya, Lia. Saya cuma mau sama kamu." Dia menatap Emilia begitu dalam.


"Lia, kamu juga masih sayang 'kan, sama saya? Kalau kamu masih sayang, kamu mau 'kan, perjuangkan cinta kita sampai kita benar-benar bisa bersama selamanya. Kamu mau, 'kan?" tanya Yofan.


Keduanya saling memandang dengan penuh harapan. Hingga pelayan kafe datang untuk mengantar pesanan mereka, dan Emilia meminta kepada Yofan untuk segera makan terlebih dulu, sebelum kembali membicarakan hubungan mereka.


"Aku juga nggak mau pisah dari kamu, Mas. Tapi aku bisa apa, kalau realitanya papah dah kakakmu lebih percaya dengan Adelia," tutur batinnya.


Diam dan saling bicara dalam hati masing-masing, hingga hampir satu jam lamanya. Kini Emilia yang memecahkan keheningan siang itu. Berbicara dari hatinya yang paling dalam, tanpa ada yang ia tutup-tutupi lagi.


"Aku ...," Dia memandang Yofan.


"Aku juga nggak mau kehilangan kamu, Mas. Aku ingin bersama kamu selamanya, karena bahagiaku ada, setelah kehadiranmu. Tapi, aku bisa apa?" tanya Emilia.


Yofan menghela nafas lega, sembari tersenyum, "Saya tahu, perasaanmu pasti tidak berbeda dengan saya. Kamu mau 'kan, tetap menjalani hubungan dengan saya, seperti dulu?

__ADS_1


"Kamu jangan gila, Mas. Adelia pasti sakit hati kalau tahu kamu masih punya hubungan sama aku," ujarnya–lirih.


"Tidak akan tahu, kalau tidak ada yang kasih tahu. Pokoknya saya janji, saya pasti segera ceraikan Adelia dan nikahi kamu. Saya tidak peduli, kalaupun nanti saya dipecat."


__ADS_2