Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Rahasia Terbongkar


__ADS_3

Della menutup teleponnya, tanpa salam. Sementara Emilia, termenung di kursinya, hingga membuat Ardian dan istrinya kebingungan.


"Mil, kamu kenapa?" tanya Ardian.


"Ah, nggak apa-apa, Mas. Cuma kaget aja sama yang temanku ceritakan." Dia berusaha menutupi masalahnya.


Namun sayang sekali, hari ini memang hari sial untuk Emilia. Ardian menanyakan hubungannya dengan Yofan–membuat Emilia kebingungan menjawabnya.


Ardian sudah mengenal Yofan sejak awal Yofan menjadi seorang Polisi. Bahkan Ardian sempat menjadi kakak asuh Yofan, di markasnya. Mustahil untuk Emilia menutupi semua masalahnya dari Ardian. Pasalnya, dia adalah lelaki yang sudah hafal dengan tabiat Emilia.


"Mil, kok bengong lagi, sih. Pasti ada yang kamu sembunyikan ya?" tanya Ardian.


"Emm ... A–Anu, Mas. Ak–Aku ... udah putus sama Yofan, sebenarnya. Dia dijodohkan sama cewek lain dan terpaksa menikah. Tapi, aku dan dia mutusin tetap berhubungan," ujar Emilia.


Ardian dan istrinya saling pandang, "Maksudmu selingkuh?" tanya Ardian.


Emilia menganggukkan kepalanya, perlahan. Refleks, Ardian berdiri dan marah besar terhadap Emilia, tanpa peduli kalau dia adalah seorang tamu, di rumah itu. Suaranya yang cukup lantang, membuat ibu Emilia keluar, mendatanginya.


"Aku kecewa sama kamu, Mil. Bisa-bisanya kamu merendahkan harga dirimu sendiri demi cinta!" bentak Ardian.


"Tapi kita saling cinta, Mas. Yofan juga nggak cinta kok, sama Adelia." Tangis sesegukan, mulai terdengar dari Emilia.

__ADS_1


"Kalau dia gak cinta, gak mungkin dia nerima perjodohan itu, Mil. Kalaupun terpaksa, lama-lama dia pasti bisa cinta karena terbiasa. Pernikahan itu bukan mainan, Emil. Gak semudah putus cinta, kalau mau cerai."


Nasihat panjang lebar, Ardian berikan kepada gadis kecil bernasib malang itu di depan ibunya. Ibunya pun terkejut dengan perbuatan Emilia yang baru dia ketahui.


"Astaghfirullah, Mil ... Kamu jangan memalukan keluarga, Nduk. Putuskan dia, buang cintamu itu. Sadar, Nduk ...," ujar sang ibu.


Usai perdebatan, Ardian sengaja mengajak Emilia dan keluarganya jalan-jalan sore. Mereka berkeliling kota, hingga adzan Maghrib berkumandang.


***


Ardian menghentikan mobilnya di depan lapangan–tempat di mana Emilia dan Yofan dulu pernah singgahi.


"Aku nggak ikut solat, Mbak. Lagi halangan," jawab Emilia.


"Ya udah, kalau gitu aku tinggal, ya." Wanita pemilik lesung pipi itu melangkah pergi dari hadapan Emilia.


***


Lapangan ini penuh cerita tentangmu


Yang membuaku rindu dengan semua canda tawa dan kebersamaan yang dulu.

__ADS_1


Aku masih ingat semua janjimu untuk tidak meninggalkanku, meski seburuk apapun keadaannya. Dan janji itu sudah kamu tepati, meski kini kamu bukan lagi milikku.


Aku tahu ini berat untuk kita, bahkan aku pun tahu, keputusan yang kita ambil saat ini adalah suatu kesalahan fatal dan bisa melukai hatinya yang teramat sangat menginginkanmu.


Tapi senyatanya, aku tak pernah bisa menjadi manusia munafik.


Kegagalan yang selalu kudapatkan,


setiap kali aku berusaha menyudahi lukaku, ketidak ikhlasanku dan cintaku yang hingga detik ini masih ada untukmu.


Parahnya, aku juga tahu kalau kamu pun merasa hal yang sama denganku, tapi aku malah memilih menerima ide konyol darimu. Bukankah seharusnya kita memilih menerjang badai bersama?


Entah, karma seperti apa yang akan Tuhan timpakan untuk kita nantinya. Saat ini yang sedang aku persiapkan hanyalah kesiapan hati untuk menyambut segala bentuk karma yang akan datang mengganjar.


Ungkapan hati pun muncul, berupa ketikan yang Emilia simpan di ponselnya. Ingin sekali, dia mengirimkan ungkapan hati itu kepada Yofan. Tetapi, perkataan Della beberapa jam yang lalu, membuatnya mengurungkan niatnya.


Tung. Satu pesan masuk.


Mas Yofan (18.02) : Adek lagi apa? Sibuk tidak? Ada yang mau saya bicarakan sama kamu.


"Pasti Mas Yofan mau mutusin aku," tutur batin Emilia.

__ADS_1


__ADS_2