Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Kepedulian Sahabat


__ADS_3

Tut. Tut. Telepon terputus.


"Aneh banget, sih." Emilia melemparkan ponselnya ke kasur.


***


Sementara Adam, bergelut sendiri dengan hatinya di rumah. Merasa kesal dan takut terjadi hal-hal buruk menimpa Emilia.


"Kenapa sih, cewek itu egois. Padahal ada gue yang selalu siap, kapanpun dia butuhkan. Apa selama ini dia kaga ngerasa, kalau gue cinta sama dia?" tanya Adam dalam hati.


"Arghk!" Pukulan tembok, turut serta mengiringi teriakan kemarahannya.


Tidak lama, Niko–saudara kembarnya mendatanginya dengan wajah yang penuh rasa heran.


"Kenapa, lo?" tanya Niko.


Adam menengok, "Emil balikan sama Yofan."


Pemuda tempramental yang berdiri di depannya terkejut, saat mendengar ucapannya.


"Serius, lo? sejak kapan?" tanya Niko.


"Gue kaga tahu sejak kapan, tapi yang jelas tadi gue telepon dan dia kaga bisa ninggalin Yofan."

__ADS_1


Tatapan mata Niko mulai tajam dan kedua tangannya mengepal. Dia pergi ke kamarnya untuk mengambil kontak motor, lalu pergi ke rumah Emilia.


"Lo mau kemana, Nik?"


"Rumah Emil. Gue kaga bisa diem aja, lihat Emilia diperalat Yofan."


"Ikut dong ..." Mereka berdua segera mengunci pintu rumahnya.


***


Pukul 20.15 malam, anak kembar itu mengetuk pintu rumah Emilia. Terdengar suara TV dan tawa Emilia di dalam rumah, namun pintu tak kunjung ada yang membuka.


"Mil, Emil!" teriak Niko untuk yang ke empat kalinya.


"Tumben, malam-malam gini ke sini. Ada apa?" tanya Bryan.


"Ada perlu sebentar sama Emilia, Bang," ujar Niko.


Bryan manggut-manggut, lalu mempersilakan Niko dan Adam untuk masuk ke ruang tamu. Sebagai seorang kakak sekaligus imam di keluarga kecilnya, Bryan tidak ingin tetangga mengira yang macam-macam tentang adiknya, hanya karena kedatangan pemuda kembar di malam hari.


"Niko, Adam. Kalian ngapain kesini malam-malam?" tanya Emilia.


Niko berdiri, "Mil, lo serius balikan sama Yofan?"

__ADS_1


"Sstt ... Jangan kenceng-kenceng lah, ngomongnya." Kedua tangan Emilia membungkam mulut Niko.


"Iya. Emang pada kenapa si, kalau aku balikan sama Yofan?" tanya Emilia.


Niko dan Emilia duduk di kursi sudut yang berbeda. Berulang kali Niko menghela nafas kasar dan mengusap wajahnya secara kasar. Tetapi Emilia hanya melirik Niko dengan perasaan penuh tanya.


"Lo tuh, udah gak waras atau gimana sih, sebenarnya, Mil?" tanya Niko.


"Ya ..., ya ak–aku waras, lah. Sehat, nggak gila," ujar Emilia.


"Terus lo ngapain mau balikan sama Yofan? Dia itu udah jadi suami orang, Mil. Lo gak takut pikiran lo terganggu, terus lo gak lulus ujian. Lo gak takut?"


Keduanya saling diam sejenak dan saling memandang. Sebelum akhirnya, Emilia memutuskan untuk memberi penjelasan kepada Niko dan Adam tentang hubungannya dengan Yofan.


"Kalian tenang aja, aman kok. Aku yakin, nggak bakal ganggu pendidikan dan mimpi-mimpiku. Mas Yofan udah sepakat untuk terus support aku, dan bahkan dia mau bantu aku mewujudkan rumah singgah yang aku impikan, setelah ujian selesai, nanti," ujar Emilia.


Tetapi Adam menghentikan cerita Emilia dengan pendapat pribadinya tentang Yofan. Sebuah pendapat yang kurang tepat, di mata Emilia.


"Kenapa harus Yofan? gue yakin, masih ada cowok lain yang mau support lo, Mil," ujarnya.


"Iya ... Tapi siapa dan kapan orang itu datang?" Emilia memandang Adam.


"Dam, kamu tahu sendiri 'kan, sejak dulu aku melakukan apapun sendiri, nggak ada yang mau mendukung. Tapi sejak ada Mas Yofan, aku merasa duniaku telah berbeda," imbuhnya.

__ADS_1


"Iya, berbeda. Lebih aneh dan memprihatinkan dari hidup Emilia yang dulu!" bentak Adam.


__ADS_2