
"Mil, lo sadar kaga sih, kalau apa yang lo lakuin itu salah besar?" tanya Niko.
"Ya aku tahu kalau ini salah. Tapi bukan sepenuhnya salahku juga, kok. Yofan nggak mau dan nggak cinta sama Adelia dan aku juga yakin, Adelia nggak benar-benar cinta sama Yofan juga. Apa salahnya aku berusaha bertahan?"
"Susah ya, ngomong sama orang yang udah bucin akut. Terserah lo, deh."
Niko lantas pergi begitu saja dari rumah Emilia, disusul oleh Adam. Mereka berdua sangat heran dengan tingkah laku dan keputusan yang diambil oleh Emilia. Pasalnya, sahabatnya tersebut adalah sesosok gadis yang baik hati dan peduli dengan perasaan orang lain. Akan tetapi sejak bertemu dan jatuh cinta dengan Yovan, dia menjadi perempuan yang berjiwa tega.
Sementara itu, Emilia percaya bahwa tindakannya akan membuahkan hasil yang baik, karena dia dan Yofan saling mencintai.
"Aku yakin, cepat atau lambat orang tua mas Yofan pasti merestui hubungan aku dengan Mas Yofan. Nggak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini, selagi mau berusaha dan berdoa. Aku yakin, Tuhan berpihak kepadaku dan Mas Yofan, bukan kepada Ilmi yang jahat itu, apalagi Adelia," tutur batinnya.
***
Dua hari kemudian, ujian nasional telah berakhir. Rasa lega di dalam hati Emilia dan teman-temannya pun muncul dan mereka rasakan bersama-sama. Kini kesibukan Emilia adalah meraih impian dan cita-citanya. Salah satunya adalah membangun rumah singgah untuk anak-anak yatim dan dhuafa yang tidak bisa sekolah, agar bisa mendapatkan wawasan serta ilmu yang seharusnya menjadi hak mereka.
Di kantin sekolah, saat dia berkumpul dengan teman-temannya untuk merayakan keberhasilannya menyelesaikan Ujian Nasional, dia menyempatkan diri untuk menghubungi Yofan. Tentu saja untuk menagih janji sang kekasih.
"Halo, Mas. Hari ini 'kan terakhir ujian nasionalku, dan besok udah nggak ada ujian lagi. Aku mau nagih janjinya Mas ke aku, dulu. Mas nggak lupa 'kan?" tanya Emilia.
"Tidak, dong. Saya sudah siapkan kado istimewa buat kamu tersayang. Setelah ini saya jemput, ya ..." ujar Yofan.
"Loh, emangnya mas Yofan nggak kerja? kok jemput aku?"
"Libur, Sayang ..." Jawaban tersebut sekaligus mengakhiri percakapan mereka berdua dan Yofan segera meluncur ke sekolah Emilia.
Namun sebelum Yofan berangkat, dia sempat melihat Adelia yang begitu rajin mencuci pakaian-pakaiannya serta menyetrikanya dengan sangat rapi, meskipun Adelia tahu bahwa cinta Yofan masih ada kepada Emilia, bukan kepadanya.
__ADS_1
Yofan berhenti sejenak di belakang Adelia, sembari memandangi istri SAH nya, sebelum kakinya melangkah keluar dari rumah untuk menjemput kekasihnya–Emilia.
"Ya Allah, apakah saya berdosa melakukan hubungan ini dibelakang Adelia? tapi, saya memang tidak bisa mencintai Adelia sedikit pun, meski dia sudah melakukan tugas-tugasnya sebagai istri," tutur batinnya.
lalu dia mengalah nafas berat namun tetap pergi meninggalkan rumah untuk menjemput Emilia sesuai dengan janjinya.
***
Di sepanjang perjalanan, Yofan tidak ada henti-hentinya memikirkan nasib Adelia yang tentu hatinya akan hancur dan sakit, apabila mengetahui suaminya masih memiliki hubungan spesial dengan cinta pertamanya. Tetapi di sisi lain, dia tidak bisa membohongi hatinya sendiri bahwa, dirinya tidak pernah mencintai Adelia dan tidak pernah menginginkan pernikahan tersebut terjadi.
"Ah, sudah lah. Toh ini juga salah dia sendiri, maksa-maksa buat nikah sama saya. Saya juga sudah berusaha menolaknya secara terbuka," tutur batin Yofan.
Sampai di sekolah, Yofan menghubungi Emilia yang saat itu masih asyik makan, bersama teman-temannya di kantin. Menunggu hampir 7 menit dengan penuh kesabaran, hingga pada akhirnya dia bisa bertemu dengan gadis kecil tercintanya, dan melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah tempat yang sudah dia persiapkan untuk Emilia.
"Ayo, berangkat sekarang ..." Polisi muda itu tersenyum manis.
"Kemana sih, Mas?" tanya Emilia.
"Eh, iya juga ya ..." Mereka tertawa bersama.
Di sudut sekolah, Adam, Niko dan Puspa, sempat mengintip Emilia dan Yofan. Mereka bertiga sangat khawatir dengan tindakan Emilia yang sangat membahayakan nama baiknya sendiri.
"Lo lihat sendiri, 'kan .. perubahannya Emilia sekarang kayak gimana?" Niko memandang Puspa dengan wajah kesal.
"Aku gak nyangka, Emil bisa melakukan hal seburuk itu. Kita harus lakukan sesuatu, biar hubungan mereka gak berkelanjutan," ujar Puspa.
***
__ADS_1
Lain halnya dengan Yofan dan Emilia yang saat ini telah sampai di tempat tujuan. Tempat di mana banyak sekali anak-anak kecil berusia 5 tahun ke atas, berkumpul dan bermain di sana–sebuah tempat yang membuat Emilia sangat terkejut, terharu dan bahagia. Tempat tersebut adalah sebuah tempat yang sudah cukup lama Emilia dambakan dan menjadi salah satu impian terbesarnya, dalam hidup.
"Tempat ini punya siapa, Mas?" tanya Emilia.
"Punya kamu." Yofan dan Emilia saling berpandangan.
Gadis kecil itu menatap Yofan dengan penuh rasa heran, setelah mendengar jawabannya.
"Kok aku? Maksudnya gimana?" tanya Emilia lagi.
"Iya, tempat ini sengaja saya beli pakai tabungan saya, untuk kamu. Katanya, kamu pengen punya rumah singgah untuk membantu anak-anak yang tidak bisa sekolah, sebagai tempat belajar mereka, 'kan? Tapi, surat-suratnya masih pakai nama saya. Nanti kita rubah jadi nama kamu, ya ..." Yofan menatap Emilia sangat dalam.
"Jadi, ini adalah kado dari saya untuk kamu. Saya harap kamu bisa terima ya, dan semoga ini bermanfaat untuk kamu dan banyak orang," imbuhnya.
"Mas, ini terlalu berlebihan untuk aku, Mas. Aku bukan istri kamu dan aku nggak berhak dapatkan ini," ujar Emilia.
"Ya ... kalau kamu merasa seperti itu, berarti anggap saja ini permintaan maaf saya dan keluarga, karena sudah sangat jahat terhadap keluarga kamu. Bagi saya, ini tidak sebanding dengan harga diri kamu dan keluarga kamu."
Perdebatan ringan mulai terjadi, antara Emilia dan Yofan, hanya karena perbedaan pendapat. Gadis kecil itu tetap bersikukuh menolak pemberian dari Yofan, bahkan ancaman untuk memutuskan hubungannya dengan Yofan, terlontar dari mulutnya. Semua demi agar Yofan tidak memberikan bangunan sebesar itu untuknya.
"Kok jadi ngancam-ngancam begitu, sih. Kamu ini aneh, Dek," ujar Yofan.
"Mas, kita memang sama-sama mencintai dan berusaha untuk bertahan. Tapi bukan berarti kamu bisa ngasih aku ini itu, tanpa sepengetahuan istrimu dan juga persetujuan dari istrimu, Mas," ujar Emilia.
"Terus bagaimana? Tempat ini saya beli pakai uang lo, Lia. Tidak sedikit, uang yang saya keluarkan," ujar Yofan.
"Gini aja deh, Mas. Aku mau nerima tempat ini sebagai tempat belajar mereka yang membutuhkan, tapi aku sebagai pengelola aja. Tempat ini tetap atas nama kamu," tegas Emilia.
__ADS_1
Mendengar jawaban tegas dari Emilia, membuat hati Yofan menjadi semakin dilema, antara memilih Emilia atau Adelia yang saat ini sedang berusaha menjadi istri yang baik untuknya di rumah.
"Kenapa jadi seperti ini, sih. Emilia tidak matre dan dia juga gadis yang baik. Tapi Adelia juga sepertinya sudah berubah, sekarang. Duh, kenapa jadi ribet, sih ...," tutur batin Yofan.