
Gadis berkulit sawo matang, memandang jauh ke arah pintu kamar yang tertutup. Hatinya penuh dengan tanya, tentang identitas Della yang sebenarnya. Tiga tahun dia mengenalnya, namun baru kali ini merasakan ada suatu keanehan dalam diri Della.
Emilia mengambil Hp nya dan menghubungi Niko. Sayangnya, panggilannya tidak dapat tersambung. Menghubungi Andi pun sama. Lalu, Emilia memutuskan untuk pergi ke rumah Feni dan mencari informasi tentang Della.
***
Tok tok. Emilia mengetuk pintu rumah Feni tanpa memanggil namanya. Namun tidak ada sahutan jawaban dari dalam rumah, hingga dia berkali-kali mencoba mengetuknya kembali.
Salah satu tetangga menghampirinya dan memberitahukan bahwa Feni saat ini sedang tidak ada di rumah. Dia baru saja keluar menggunakan motornya–beberapa menit yang lalu.
"Dia gak pakai helm kok, Mbak. Biasanya gak lama," ujar ibu muda.
"Terima kasih, Bu …" Emilia tersenyum pada ibu-ibu muda–tetangga Feni.
"Aku tunggu aja, kali ya. Daripada bolak-balik," gumamnya dalam hati.
Dia duduk di teras rumah sembari memainkan Hp nya. Hingga hampir satu jam, Feni tak kunjung pulang. Emilia kembali mencoba menghubungi Feni melalui telepon WhatsApp, agar kekhawatirannya berkurang.
"Halo, Fen. Kamu di mana sih? Aku udah nungguin kamu nih, di rumah dari tadi. Katanya tetanggamu, kamu keluar gak pakai helm. Ke mana emangnya?"
"Oh iya, aku lagi beli sesuatu nih, untuk keperluan dapur. Tapi ini udah mau pulang, kok. Tunggu ya, habis ini pasti sampai rumah. Masih di depan lampu merah," ujar Feni.
Tak lama gadis cantik dengan rambut pirang itu datang dengan wajah yang penuh keceriaan dan suara khasnya–memanggil nama Emilia, sembari memasukkan motornya. Mereka berdua saling bercanda di teras rumah, sebelum masuk ke rumah.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sedang sibuk memata-matai mereka. Perempuan misterius, sengaja mengikuti Emilia dari rumah sampai ke rumah Feni untuk memantau aktivitas Emilia.
"Masuk, Mil." Feni membuka pintu.
"Oke, Bestie …" langkah kaki Emilia saat hendak masuk ke dalam rumah, terhenti beberapa saat karena dia merasakan sesuatu yang kurang enak di hatinya.
Firasatnya mengatakan 'ada seseorang yang mengawasinya' dari beberapa menit yang lalu–saat Feni pulang. Dia menengok ke belakang, kanan dan kiri untuk memastikan bahwa dirinya aman.
"Mil, kamu kenapa, sih? Kayak mau maling aja, celingukan gitu." Feni terkekeh.
__ADS_1
Emilia hanya tersenyum–segera masuk dan mengunci pintu. Di dalam kamar Feni, dia menceritakan tentang firasatnya dan kecurigaannya terhadap Della.
"Rumahnya Della dimana sih? Aku curiga, sama dia." Emilia ingin sekali pergi ke rumah Della untuk menyelidiki siapa Della yang sebenarnya.
"Kalau aku sih, nggak tahu ya, Mil ... rumahnya Della di mana. Kalau soal alamat rumah Della yang tahu itu cuman Niko sama Andi. Jadi mendingan kamu minta tolong mereka aja," ujar Feni.
"Jujur ya, aku gak masalah kalau harus putus sama Yofan. Tapi aku gak terima aja kalau hidup aku jadi di mata-matai seperti ini, apalagi hari ini aku juga merasakan ada sesuatu yang gak nyaman di hatiku. Seperti ada yang sedang mengawasi aku." Mereka berdua saling bertatap mata dan saling diam.
Gret … gret …
Suara Getaran HP Emilia yang masih berada di dalam tasnya. Dia mengeluarkan hp-nya dari dalam tas dan mengecek, ternyata pesan tersebut dari Yofan.
Dia tidak pernah ingin berpisah dan menjauh dari Emilia, bahkan dia masih sering menghubungi Emilia dan memberikan perhatian-perhatian kecil yang tidak pernah berkurang sedikitpun, sejak masih berpacaran hingga kini–tak lagi menjadi pacarnya.
Yofan : Dek, lagi apa sekarang?
Emilia : Ini di rumah Feni. Ada apa, Mas?
Yofan : Tidak ada apa-apa, Dek. Hanya saja, tadi dadaku sedikit sesak, sebentar.
Yofan tiba-tiba menghilang dan tidak lagi membalas pesannya. Kepanikan Emilia pun mulai muncul dan tidak ada hentinya menelpon Yofan, namun tidak kunjung diangkat. Kepanikannya turut mengundang kecemasan Feni yang sedang duduk disampingnya.
Yofan : Ternyata sesaknya karena kangen berat sama kamu. Hehe
Balasan pesan terakhir Yofan, benar-benar membuat Emilia kesal dan murung. Pasalnya, dia sudah sangat khawatir dengan kondisi Yofan. Tetapi ternyata hanya dijadikan bahan candaan.
***
Satu minggu kemudian, Emilia mengendarai motornya dengan sedikit ngebut, saat pulang sekolah. Tiba di sebuah lampu merah, ada seorang pria berseragam polisi sengaja mengambil posisi di sebelah kiri Emilia.
Dia membuka kaca helmnya, lalu menegur Emilia. Pria itu adalah Yofan. Dia menyuruh Emilia untuk menepi di depan Pom bensin, saat sudah waktunya jalan nanti.
"Kamu ini bandel banget ya, kalau dibilangin." Yofan memandang Emilia dengan sorot mata penuh kesal, di depan Pom.
__ADS_1
"Emangnya kenapa sih? kan gak ada operasi, to. Aku tuh gak ada yang nganterin, kalau aku gak berangkat sendiri pakai motor, terus aku emang gak sekolah gitu? Aku minggu depan sudah ujian, Mas," ujar Emilia.
"Kamu bisa naik angkutan umum atau kamu minta tolong Bryan untuk antar kamu sebentar, masa tidak bisa. Atau kamu juga bisa kan, naik sepeda angin bukan sepeda motor. Ini semua demi keselamatan kamu sendiri, Lia."
Emilia dan Yofan saling bertatapan, tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Hingga akhirnya, Yofan menyuruh Emilia untuk melanjutkan perjalanan pulangnya, sembari diikuti olehnya sampai di depan rumah Emilia.
***
Sampai rumah, mereka kembali berdebat. Mendengar suara keributan, Bu Dewi segera keluar dari rumahnya dan mendatangi sumber suara keributan itu. Dia terkejut karena di teras rumah sudah ada Yofan dan Emilia yang sedang cekcok dan membawa-bawa hukum.
Cklek. Bu Dewi membuka pintu.
"Ada apa ini, kok ribut?" Bu Dewi memandang Emilia dan Yofan secara bergantian.
Bibir tipis kemerahan Emilia, tampak lebih mancung dari hidung minimalisnya.
"Mohon maaf, Bu. Saya lancang dan tidak sopan karena membuat keributan di rumah ibu. Saya hanya tidak ingin Emilia kenapa-kenapa di jalan, sebab dia belum boleh membawa motor karena belum ada SIM juga. Saya mohon Bu, tolong patuhi hukum yang ada, demi kebaikan bersama," tutur Yofan.
Bu Dewi menghela nafas berat, lalu mengucapkan terima kasih kepada Yofan karena dia masih mau peduli dengan kebaikan Emilia dan keselamatannya, meskipun tidak lagi menjadi kekasihnya.
Wanita parubaya itu berjanji akan mengusahakan untuk bisa mengantar jemput Emilia ke sekolah dan kemanapun yang dia butuhkan, sehingga Emilia tidak perlu lagi membawa motor sendiri.
Selesai urusannya dengan Emilia dan ibunya, Yofan berpamitan kembali pulang dan mengucapkan terima kasih kepada Bu Dewi, karena sudah menghargai dan mengerti dengan kepedulian serta kekhawatirannya terhadap Emilia–putri bungsu Bu Dewi.
***
Namun saat Yofan tiba di rumahnya, suatu hal mengesalkan terjadi lagi. Baru saja dia masuk dan hendak naik ke lantai dua–ke kamarnya untuk ganti pakaian dan beristirahat. Namun suara panggilan sekeras toa masjid, terdengar jelas di telinganya.
"Aku mau ngomong penting sama kamu, sebentar!" teriak Ilmi dari bawah tangga. Namun Yofan hanya menoleh.
"Kamu harus menandatangani surat perjanjian pra nikah ini," ujar Ilmi.
Yofan terkejut. Wajahnya berubah menjadi semburat merah–ingin marah dan mengobrak-abrik rumahnya. Dia benar-benar muak dengan papah dan kakaknya. Namun dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin.
__ADS_1
Yofan turun dari tangga secara perlahan dengan raut muka seram, bagaikan harimau kelaparan. Kedua tangannya mengepal–alisnya semakin berkerut dan sorot matanya menatap tajam wajah Ilmi yang berdiri membawa secarik kertas, di depannya.
"Buat apa? Apa kamu tidak puas dengan ulahmu? Buat apa surat-surat seperti ini, ha?!" bentak Yofan.