
Puspa tercengang mendengar ucapan Adam. Dia tidak menyangka Adam akan mengutarakan perasaannya kepada Emilia. Bahkan dia sendiri kebingungan dengan ucapan Adam yang belum dia ketahui maksud dan tujuannya.
Tin tin! Sebuah mobil putih yang cukup modern berhenti di depan rumah, seraya menyalakan klaksonnya hingga beberapa kali. Puspa keluar dan membuka pintu. Sementara Adam, menggendong Emilia keluar, menuju ke mobil yang sudah dipesan oleh Puspa. Mereka bertiga menuju ke rumah sakit terdekat untuk memeriksakan kondisi Emilia yang semakin mengkhawatirkan.
***
Mereka sampai di rumah sakit tepat pukul satu siang. Beruntungnya, antrian tidak terlalu panjang, sehingga Emilia bisa segera ditangani oleh dokter. Awalnya, Emilia ditangani oleh seorang dokter perempuan yang cukup cantik dan masih muda.
Namun tiba-tiba dokter tersebut digantikan oleh seorang dokter laki-laki yang tidak asing di mata Adam dan Puspa. Namun keduanya sama-sama lupa, pernah bertemu dengan dokter tersebut dimana.
"Kok kayak gak asing ya, Dam, sama dokter cowok itu," ujar Puspa.
"Iya. Gue juga gak asing, sama dia. Tapi pernah ketemu dimana, ya." Mereka saling berpandangan hingga dokter itu datang menghampiri mereka.
"Kalian berdua kerabat dari Emilia?" tanya dokter.
"Iya, Dok. Kami sahabatnya yang membawa Emil kesini. Bagaimana keadaan Emil, dok?" tanya Puspa.
"Dia hanya kelelahan saja dan terlalu banyak pikiran. Dia butuh istirahat sampai kondisinya benar-benar pulih. Tolong diusahakan semaksimal mungkin untuk tidak berpikir yang aneh-aneh dulu dan istirahat, serta pola makannya juga diatur. Perbanyak minum air putih dan konsumsi makanan yang bergizi," tutur sang dokter.
Dokter muda tersebut lalu menanyakan keberadaan Feni yang membuat Puspa dan Adam terkejut. Mereka berdua juga menanyakan 'bagaimana bisa sang dokter mengenal Feni–sahabatnya' dan dokter tersebut pun menjelaskan bahwa dirinya adalah dokter yang pernah bertemu dengan Feni serta mereka berdua, di salah satu rumah sakit yang ada di dekat sini, saat Adam, Feni dan Puspa serta Emilia mengantarkan seorang ibu yang asmanya kambuh di jalan.
Adam dan Puspa sempat terdiam sesaat untuk mengingat-ingat kembali kejadian di waktu itu, sebelum akhirnya gadis cantik–Puspa yang lebih dulu mengingat sesosok dokter yang ada di depannya saat ini. Namun dia lupa dengan nama dokter tersebut, sehingga membuat Puspa meminta berkenalan kembali.
"Saya Kenzi, panggil saja Ken …" Kenzi tersenyum.
"O iya, Dokter Ken yang pernah ngajak Feni ketemuan di taman kota itu, kan?" tanya Puspa.
"Betul, sekali."
Mereka bertiga saling mengobrol hingga beberapa menit, di depan kamar pasien, sebelum akhirnya Puspa dan Adam memutuskan untuk masuk ke kamar Emilia, melihat kondisinya saat ini.
Cklek. Adam membuka pintu kamar Emilia dan menutup nya kembali.
__ADS_1
"Mil. Lo sudah enakan? Ada keluhan enggak?" tanya Adam.
Gadis malang itu hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.
Puspa kemudian mengatakan pada Emilia kalau dirinya tidak perlu rawat inap, sehingga beberapa menit lagi, ketika taksinya datang, Emilia sudah bisa kembali pulang dan beristirahat di rumah.
"Aku pengen ketemu Mas Yofan, Pus." Ucapan itu membuat Puspa dan Adam tercengang dan saling memandang.
"Mil, Pak Yofan, 'kan sudah menikah, sudah jadi suami orang. Masa iya, sih … kamu mau ketemu sama dia," ujar Puspa.
Emilia menghela nafas kasar. Dia lupa kalau saat ini Yofan bukan lagi milik nya, tetapi milik Adelia selamanya. Tatapan matanya mulai kembali kosong, seperti sebelum dia sakit.
Namun dengan gerak cepat, Adam menenangkan pikiran Emilia dengan cerita-cerita yang lucu. Dia juga berulang kali mengatakan bahwa hidup Emilia sangat berarti dan banyak sekali orang-orang yang menyayanginya, termasuk dirinya.
Kata-kata tersebut lagi-lagi membuat Puspa penasaran dan menduga bahwa Adam telah ada hati dengan Emilia. Saat Emilia hendak bercerita sesuatu kepada Adam dan Puspa, tiba-tiba saja taksi yang mereka pesan sudah datang.
Sehingga mengakibatkan Emilia mengurungkan niatnya untuk menceritakan sesuatu hal yang ingin dia ceritakan.
***
Awalnya Emilia dan kedua sahabatnya, menduga orang tersebut hanyalah bayangan Yofan saja, efek pikiran mereka yang terlalu kepikiran dengan Yofan. Namun ternyata sesosok pria tersebut adalah benar-benar Yofan, bukan sekedar bayangan.
"Lia …" ujarnya lirih, "Lia kenapa, Dam? Kata kamu dirawat di rumah karena cuma demam. Tapi kok—" Yofan tidak melanjutkan ucapannya.
Dia segera menuntun Emilia untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Mas Yofan kok ke sini?" tanya Emilia dengan suara lirihnya.
"Iya, saya malas di rumah. Saya mau temani kamu saja disini," ucapnya.
"Jangan, Pak!" teriak Adam secara refleks. Membuat Yofan, Emilia dan Puspa terkejut.
"Ma–maksud saya, Pak Yofan jangan menginap disini. Kagak enak sama tetangga, terus juga kalau ada yang tahu, bisa merusak rumah tangga kalian. Nanti kasihan Emil, pasti Emil yang disalahkan," imbuhnya.
__ADS_1
Suasana senja kala itu kian menegang. Yofan terdiam dan memikirkan ulang perkataan dari Adam yang menurutnya ada benarnya. Dia tidak mau Emilia sakit hati lagi karena perbuatannya.
Namun di sisi lain, dia juga tidak tega jika harus meninggalkan Emilia dalam keadaan yang sakit, hanya dengan kedua temannya yang sama-sama masih kecil.
"Kamu benar, Dek. Kalau begitu biar teman saya menemani kalian di sini, ya. Dia perempuan, kok. Setidaknya biar ada seseorang yang lebih tua dari kalian yang menemani kalian di sini. Jika nanti ada sesuatu, ada yang melindungi kalian." Yofan memandang Emilia, Adam dan Puspa secara bergantian.
Emilia menyetujuinya dengan senang hati. Beberapa saat kemudian, ponsel Yofan berdering. Telepon dari istrinya yang sangat dia benci.
Yofan sengaja mematikan teleponnya, lalu menonaktifkan ponselnya. Dia tidak ingin lagi diganggu oleh siapapun, termasuk Adelia.
"Kok dimatikan?" tanya Emilia.
"Biarkan saja. Orang tidak penting," jawab Yofan dengan nada kesal.
"Adelia ya? Kalau ternyata teleponnya penting, gimana?" Emilia memandang Yofan.
Namun Yofan sama sekali tidak peduli dengan perkataan Emilia. Dia sibuk scroll sebuah aplikasi untuk memesankan Emilia makanan.
"Sayang, kamu mau bubur ini, tidak?" Yofan menunjukkan sebuah gambar di Hp nya.
Gadis tercintanya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seraya mengubah posisi duduknya menjadi bersandar di tempat tidur.
"Pak Yofan tidak takut kena marah orang rumah?" Pertanyaan polos datang dari mulut Puspa.
Yofan hanya tertawa, mendengarnya. Dia menjelaskan kalau membuat benci keluarganya adalah tujuan utama dia, agar bisa cerai dengan Adelia secepatnya.
"Jika saja saat itu saya bisa membatalkan pernikahan saya, Emilia pasti tidak akan sakit seperti ini," ujarnya.
Kring! Kring! Ponsel Puspa berdering. Telepon itu dari Della. Puspa bengong sesaat–sebelum ia menerima teleponnya. Pasalnya, Della tidak pernah menghubunginya, apalagi melalui telepon.
Puspa terkejut, saat ia menerima telepon itu. Sebab Della tahu kalau Yofan ada di rumah Emilia, saat ini. Della mengancam akan membongkar semua rahasia Emilia dan Yofan yang masih berhubungan ke Ilmi dan Adelia.
"Kok dia bisa tahu ya, kalau Pak Yofan ada di sini. Apa mungkin dia mengikuti Pak Yofan," gumamnya dalam hati.
__ADS_1