Cintaku Terhalang Tahta

Cintaku Terhalang Tahta
Kisah 10 April


__ADS_3

Katanya cinta tak memandang apapun.


Tapi mengapa cinta kami dipisahkan?


Apa salah dan dosa kami?


Akan adakah keajaibain Tuhan untukku?


by Emilia


***


Emilia sempat mengira bahkan yakin kalau usahanya mempertahankan cintanya dengan Yofan akan berhasil dan dia bisa hidup bahagia dengan Yofan. Namun ternyata tidak. Harapannya pupus ketika Yofan memberikan kabar kalau pernikahannya dengan Adelia sudah ditentukan harinya.


Didepan cermin, dia memandangi dirinya cukup lama. Pakaian seragam pun sudah melekat dengan sangat rapi di tubuhnya. Ujian telah berakhir dan tinggal menunggu ujian sekolah alias ujian kenaikan kelas.


"Apa aku bisa, jalani hari-hariku tanpa Mas Yofan, setelah aku mengenalnya? Kalau aku tahu endingnya akan begini, lebih baik aku nggak kenal dia sama sekali," gumamnya–lirih.


"Mil … Emil! Cepetan sedikit, Mil. Masmu sudah menunggu, nanti telat!" teriak Bu Dewi.


Sejak mengenal Yofan, keluarga Emilia jadi mau sedikit peduli dengan Emilia. Seperti Bryan–kakaknya yang sudah bersedia mengantar jemput Emilia, demi keselamatan Emilia. Namun sayangnya, kebahagiaan Emilia hanya sebentar saja.


Cklek. Dia keluar dari kamarnya dan berjabat tangan dengan ibunya untuk berangkat ke sekolah. Hari ini dia puasa sunnah Senin dan Kamis seperti biasa.


***


Dia tiba di sekolah pukul enam lebih lima belas menit. Masih belum banyak siswa yang datang. Namun matanya melihat Feni sudah datang dan tengah asyik duduk di tangga sambil membaca buku.


"Dorr!" Emilia sengaja membuat Feni tersentak. Dia tertawa keras, lalu duduk disampingnya.


"Ngagetin aja, sih. Tumben, jam segini udah nyampe sekolah. Kesambet, buk …" ledeknya.


"Iya, kebetulan aja, sih."


"Pasti dianterin Pak Yofan ya …"


"Dih, sok tahu. Diantar Mas Bryan," ujar Emilia.


Feni bengong menatap Emilia. Sebab, dia sangat mengenal watak keluarga Emilia yang tidak pernah peduli dengan Emilia. Tetapi kali ini, pengakuan Emilia benar-benar mencengangkan.


"Serius, Mil. Mas Bryan antar jemput kamu? Gak ngipi, 'kan aku?"


"Seribu rius, Fen. Sejak kenal Yofan, dia dan ibuku berbeda dari biasanya. Makanya hari-hariku juga jadi berbeda," terang Emilia.

__ADS_1


***


Bel pulang telah berbunyi. Seluruh siswa berbondong-bondong keluar dari kelas mereka dengan menggendong ranselnya. Begitu pula dengan Emilia, Feni dan Manda. Namun, langkah mereka terhenti, saat hendak menuju ke kelas Niko dan Adam. Seorang guru yang dulu pernah menjadi idola mereka di sekolah, telah memanggil nama Emilia.


Dia menghampiri Emilia, saat mereka berhenti. Guru itu adalah Ilmi–kakak kandung Yofan yang kini seakan menjadi musuh Emilia di sekolah. Pasalnya, sejak peristiwa terbongkarnya identitas orang tua Emilia dan orang tua Ilmi, dia dan papanya menjadi sangat benci dengan Emilia. Kedatangan Ilmi kali ini bukan untuk berdebat, tetapi untuk memberikan undangan pernikahan Yofan dan Adelia yang akan segera dilaksanakan.


"Jangan lupa datang, ya," ujar Ilmi.


Emilia terdiam sejenak, lalu tersenyum dan mengucap terima kasih kepada Ilmi karena telah mengundangnya di hari bahagia Yofan. Ilmi hanya tersenyum, lalu pergi begitu saja.


"Ayo, katanya ke kantin …" Emilia berjalan menuju kantin–mendahului teman-temannya.


"Mil, are you oke?!" tanya Feni dengan sedikit teriakan.


"Aku nggak apa-apa, kok. Tenang aja, gaes!"


Usai memesan makanan dan minuman, Emilia membaca isi undangan yang dia bawa. Matanya merah dan berair–membaca tanggal dan bulan pernikahan Yofan yang bersamaan dengan ulang tahun Emilia. Dia tak kuasa menahan tangisnya. Sesak menjejal di dadanya, hatinya mendadak bergemuruh, pikirannya mendadak overthinking.


"Kenapa, Mil?" tanya Adam. Emilia menyodorkan kertas undangan itu dan Adam mengambilnya.


Adam dan tiga temannya yang lain saling bertatapan sebelum akhirnya menghela nafas kasar saat tahu permasalahannya.


"Keterlaluan. Ini kaga bisa dibiarin. Gue harus kasih pelajaran ke Yofan, biar kaga seenaknya." Sosok Niko–pendatang dari Ibu kota negara itu mengepalkan jemarinya sangat kuat.


"Tapi apa harus berpesta saat ultahmu, Mil? Dia masih bisa cari hari lain, 'kan, Mil!" teriak Niko.


Pemuda arogan itu tak lagi mau mendengar ucapan apapun dari temannya. Dia beranjak pergi meninggalkan kantin dan disusul oleh Adam, sebab Adam sangat khawatir dengan Niko yang sering hilang kendali saat emosi bahkan tak jarang pula melamun di jalan sembari berkendara.


"Kira-kira Niko kemana, ya?" Feni dan Manda saling menatap.


Emilia mengambil Hp nya untuk menghubungi Bryan agar menjemputnya sepuluh menit lagi. Dia ingin beristirahat di rumah untuk menenangkan hati dan pikirannya.


***


Lain halnya dengan Niko dan Adam yang mengamuk di Polresta dengan Yofan, bahkan Niko sempat memukulnya beberapa kali tanpa Yofan membalasnya sedikit pun.


"Elu benar-benar kurangajar, ya. Bisa-bisanya lu nikah di hari ulang tahun sahabat gue, ha!"


"Nik, sudah, Nik. Hentikan! Lu jangan main kekerasan gini, Bro!" teriak Adam.


Hingga beberapa anggota Polisi datang–melerai mereka dan hendak mengamankan Niko. Namun Yofan melarangnya. Dia memilih bicara baik-baik dengan Niko dan Adam di depan tempat parkir staff.


"Saya mohon kalian jangan salah paham dulu. Saya tidak tahu apa-apa soal hari pernikahan saya. Semua yang mengatur adalah Mbak Ilmi, guru kalian," terang Yofan.

__ADS_1


"Alah, bulshit. Mana ada pengantin kaga ngerti kapan dia akan nikah." Niko tersenyum miring seraya membuang muka.


"Saya bicara jujur, Dek. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa. Nanti saya akan bicarakan sama Mbak Ilmi agar mengganti harinya, bila perlu membatalkannya," ujar Yofan.


Niko tidak lagi peduli dengan ucapan Yofan. Dia tetap ngotot menyuruh Yofan agar menjauhi Emilia dan tidak menghubunginya lagi.


Mereka saling pandang. Hati Yofan sangat berat melakukan permintaan Niko, sebab dia sangat mencintai Emilia. Tetapi dia tidak ingin Emilia terus merasa sakit hati.


"Saya akan usahakan semaksimal mungkin," ujarnya.


"Oh, ya harus, dong. Harus bisa." Dia melangkah pergi, mengambil motornya dan keluar dari Polres.


"Pak Yofan, maafkan Niko ya, Pak. Dia memang emosinya tinggi," ujar Adam.


"Ya, tidak apa-apa. Saya bisa memahaminya. Lagipula, ini memang salah saya."


"Kalau memang Pak Yofan benar-benar mencintai Emilia, tolong upayakan untuk bisa batalkan pernikahan itu."


Yofan terdiam beberapa saat, lalu tersenyum dan meminta doa kepada Adam agar dia bisa membatalkan pernikahannya dengan Adelia–gadis yang tidak dia cintai sama sekali.


"Kalau begitu saya pamit dulu ya, Pak. Mau nyusulin Niko," ujar Adam.


***


Tuhan ...


Apa yang sebenarnya Kau rencanakan


Hingga semua kebahagiaanku pupus


Aku hanya ingin bahagia


By Emilia


Bagaikan seekor kupu-kupu yang kehilangan sayapnya. Emilia terus menerus termenung, melamun dan bersedih. Kesedihannya telah merenggut keceriaannya hingga berhari-hari.


Tin tin! Klakson motor berbunyi sangat keras di depan rumah Puspa. Gadis pemilik rumah segera membukakan pintu dan mempersilahkan masuk.


Dengan wajah garang, Niko masuk dan duduk di sova rumah Puspa. Tak lama, Adam pun datang. Keduanya membuat Puspa bertanya-tanya dalam hatinya.


"Kalian kenapa, sih. Habis darimana, kok tegang gitu mukanya?" tanya Puspa.


Namun Adam dan Niko hanya diam tanpa kata–membuat Puspa semakin penasaran.

__ADS_1


__ADS_2