
"Ngomong sama siapa? Rencana apa?" Yofan menyela pembicaraan Adelia.
Pramugari cantik–Adelia, terkejut dengan suara Yofan yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
"Ak–aku, lagi ngomong sama teman aku, Sayang. Ini loh, lagi ngomongin rencana bisnisan kecil-kecilan, buat sampingan," ujar Adelia.
Yofan hanya diam dan memandang Adelia dengan alis berkerut. Hatinya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Adelia. Pasalnya, tingkah Adelia sangat mencurigakan.
"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dari saya," tutur batin Yofan.
"Nih, buat kamu." Sebungkus kantong hitam, berisi makanan favorit Adelia, Yofan berikan.
Hati siapa yang tidak bahagia, melihat perubahan suami yang sudah lama dinanti-nantikan, akhirnya terwujud juga. Adelia tersenyum manis, lalu segera mengakhiri teleponnya dengan Della.
"Sayang, aku tadi masak rica. Kata Mbak Ilmi, kamu suka rica 'kan?" Adelia berusaha bersikap lebih baik.
Yofan lantas mengambil sebuah piring tanpa basa-basi. Dihadapan Adelia, dia mengambil nasi dan rica masakan Adelia, tanpa rasa ragu. Sesekali Yofan melirik Adelia yang sedang berbunga-bunga, memandanginya.
"Kamu tidak makan?" tanya Yofan.
"Aku nanti aja, Sayang. Kamu dulu aja yang makan," ujar Adelia.
Tak lama kemudian, tangan Yofan bergerak memberikan satu suapan untuk Adelia yang membuat Adelia terkejut dan salah tingkah.
"Makanlah sekarang, jangan nunggu nanti. Tidak baik menunda-nunda waktu makan, nanti sakit," ujar Yofan.
***
Cinta mengajarkan siapapun yang merasakannya untuk menjadi kuat dalam kelemahan, untuk menjadi berani, dalam ketakutan, dan menjadi tegar dalam kekalahan.
__ADS_1
Cinta dapat memberikan kedamaian dan rasa nyaman dalam versi terbaiknya.
Cinta pun bisa menciptakan betapa pahitnya rasa trauma, karena keegoannya.
Semoga cintaku dan cintamu bisa berikan akhir kisah yang membahagiakan.
Sementara di rumah Emilia, hanya ada kebimbangan dan kesedihan yang dirasakan oleh Emilia. Dia menuliskan sebuah diksi devinisi cinta, di buku diary nya seraya berharap hatinya bisa lega, setelah menuangkannya pada diary.
"Mil! keluar sebentar, Mil!" teriak sang ibu.
"Iya!" sahutnya.
Kedua tangan mungilnya segera menghapus air mata yang membasahi pipi cabinya, lalu keluar dari kamar dan menemui ibunya di ruang keluarga.
"Ada apa?" tanya Emilia.
"Ada tamu nyari kamu, di depan."
"Lihat saja sendiri ..." Sang ibu tersenyum.
Emilia lantas menuju ke ruang tamu dan betapa terkejutnya dia, hingga tidak sadar menjerit dan melompat-lompat bahagia, karena kedatangan tamu spesial yang sudah lama dia rindukan.
"Lama banget, nggak ketemu kalian ... Aku kangen," ujarnya.
"Sama, aku juga kangen berat sama Emil," sahut seorang ibu muda.
Tamu spesial itu adalah Ardian dan Indi. Sepasang suami istri yang menjadi kakak asuhnya di luar rumah. Sejak Emilia berusia sembilan tahun, Ardian lah orang yang mengasuh dan menjadi pengayom Emilia di sekolah. Dia adalah seorang polisi yang saat ini sudah berpangkat lumayan tinggi.
"Berapa tahun, kita nggak ketemu? Emil sekarang makin cantik ya, Mas?" Indi dan Emil berpelukan cukup lama.
__ADS_1
"Belasan tahun, pokoknya," ujar Ardian.
"Mbak Indi juga cantik, lebih cantik dari aku," sahut Emilia.
Mereka bertiga saling bernostalgia, sebelum akhirnya sang ibu memanggil Emilia untuk mengeluarkan sebuah jamuan.
"Ini Mbak, Mas. Silakan diminum, pasti haus 'kan, jauh-jauh dari ibu kota kesini," ujar Emilia.
"Sekarang kamu sudah lulus ya, Mil?" tanya Ardian.
"Belum, Mas. Belum ada pengumuman kelulusan. Tapi, minggu depan aku mau diikutkan diklat di kementrian industri, Mas, " ujar Emilia.
Ardian dan istrinya tampak bahagia mendengar kabar baik dari Emilia. Mereka lantas menjelaskan maksud dan tujuan mereka bersilaturahmi ke rumah Emilia.
"Syukurlah, Mil. Semoga kamu bisa cepat dapat kerjaan, ya. Aku sama Indi kesini sebenarnya mau nawarin kamu kuliah, kalau kamu mau," ujar Ardian.
Emilia diam sejenak untuk berpikir. Lalu, dia memutuskan menolak tawaran Ardian karena tidak mau merepotkan Ardian dan istrinya.
Kring! Panggilan masuk dari Della, menyebabkan obrolannya dengan Ardian terhenti.
"Halo, ada apa, Mbak?" tanya Emilia.
"Aku punya kabar baik buat kamu."
Emilia sedikit bengong, "ka–kabar apa?"
"Kamu gak perlu capek-capek sandiwara
lagi, karena Yofan sekarang udah mulai jatuh cinta sama Adelia. Itu artinya, kamu gak bakalan ada di hatinya Yofan lagi." Della tertawa lirih.
__ADS_1
"Apa benar, omongan Della ini? Lalu selama ini apa maksud Mas Yofan ngajak aku balikan dan bertahan?"