
"Mas. Mas Yofan baik-baik aja, 'kan? Kok bengong?" tanya Emilia.
"Ah, tidak. Saya tidak apa-apa, kok. Ya sudah, ayo kita masuk," ujar Yofan.
Diam-diam Yofan memikirkan nasib Adelia yang kini menjadi istri SAH nya. Perasaan dilema pun mulai muncul di hati Yofan. Dia merasa kasihan dengan Adelia yang sudah berusaha keras berubah demi dia, namun disisi lain dia tidak mampu membohongi hatinya sendiri.
Ketika Emilia sedang asyik dengan dunia baru dan teman-teman barunya, Yofan diam-diam mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Adelia untuk yang pertama kalinya.
Yofan (13.02) : Mau dibawakan apa? Saya habis ini pulang.
Adelia (13.05) : Gak lagi pengen apa-apa. Kamu kok tumben, perhatian?
Yofan (13.05) : Hmm
Dia mengakhiri pesannya dengan Adelia menggunakan pesan yang cukup singkat. Lalu Yofan kembali memasukkan ponselnya ke kantong celana, sebelum Emilia mengetahuinya.
Pemuda berusia hampir 30 tahun itu mulai menyadari bahwa, apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan yang bisa menghancurkan nama baik keluarga dan dirinya sendiri, termasuk menghancurkan hati Adelia.
Sehingga Yofan memutuskan untuk belajar mencintai Adelia, meskipun sulit. Namun dia juga tidak mau melepaskan Emilia begitu saja.
"Mas, ayo pulang. Aku ngantuk, nih," ujar Emilia.
"Oke, Sayang. Tapi sebentar ya, saya mau ngomong sama dua pengasuh itu dulu," ujar Yofan.
Emilia menganggukkan kepalanya dan menunggunya di depan.
"Mbak, mulai besok yang mengelola tempat ini, Emilia. Jadi kalau ada apa-apa, kalian hubungi Emilia saja, ya. Saya berharap tempat ini bisa bermanfaat," ujar Yofan.
"Baik, Pak Yofan. Insya Allah kami siap membantu terwujudnya visi misi Pak Yofan untuk rumah singgah ini," ujar Mariam–salah satu pengajar pilihan Yofan.
Selesai urusan di rumah singgah, Yofan lalu mengantarkan Emilia untuk kembali pulang.
***
__ADS_1
Lain halnya dengan Adelia di rumah yang masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya, saat ini. Dia bertanya-tanya dalam hatinya, perihal sikap Yofan yang tiba-tiba berubah menjadi perhatian terhadapnya. Dia sangat berharap, Yofan bisa mencintai dia seperti mencintai Emilia.
"Semoga saja, dengan aku berusaha menjadi istri yang baik, bisa membuat hati Yofan luluh," tutur batin Adelia.
Kring! Ponselnya berdering cukup keras, sehingga membuat dia tersentak kaget dan berlari masuk ke kamar untuk mengangkat telepon tersebut.
"Halo, ada apa?" tanya Adelia.
"Aku kangen, Sayang. Nanti malam diner, yuk."
"Aduh, gimana ya …" Adelia menggigit jarinya.
"Kamu udah nggak sayang ya, sama aku? Kamu sendiri 'kan yang bilang kalau kamu nggak bakalan tergoda sama si Yofan!" bentak seorang pria pemilik suara besar.
"Ya, bukannya gitu, Sayang. Masalahnya kalau aku gak lihat jadwalnya Yofan dulu, bisa-bisa aku diceraikan dan aku gak dapat apa-apa dari mamah. Aku lihat dulu ya, nanti dia pulang apa gak. Aku juga kangen banget sama kamu," ujar Adelia.
Panggilan masuk siang itu dari kekasih Adelia. Cinta pertamanya yang sampai saat ini belum bisa dia tinggalkan.
Yofan (13.35) : Memangnya kenapa kalau saya di rumah? Bukannya kamu kemarin-kemarin tidak pernah peduli, saya di rumah atau tidak.
Adelia (13.36) : Itu 'kan kemarin, Sayang. Aku ini istri kamu, wajar dong kalau aku tanya.
Sialnya, Yofan tidak lagi menanggapi pesan masuk dari Adelia tersebut. Dia hanya membacanya, lalu mematikan ponselnya dan fokus dengan Emilia.
Di perjalanan menuju ke rumah Emilia, Yofan berusaha bicara baik-baik dengan gadis kecilnya tersebut bahwa, dia ingin membelikan sesuatu untuk Adelia di rumah.
"Saya mau beli oleh-oleh buat Adelia, boleh 'kan, Sayang? Kamu tidak marah 'kan?" tanya Yofan.
Emilia sedikit terkejut, "Emm …, bo–boleh, Mas. Itu 'kan hak kamu, Mas. Lagian Mbak Adel juga istri kamu, jadi sudah sepantasnya kamu perhatian sama dia."
Yofan tersenyum, lalu berhenti–menepi di depan sebuah minimarket untuk membeli beberapa makanan ringan yang biasa Adelia beli.
"Kok tumbenan ya, Mas Yofan perhatian sama Mbak Adelia? Apa mungkin, Mas Yofan sudah mulai jatuh cinta," tutur batin Emilia.
__ADS_1
Kepanikan kembali tumbuh di hati Emilia, meskipun dia tahu bahwa tindakan dia masih berhubungan dengan Yofan yang statusnya sudah menjadi suami Adelia adalah sebuah kesalahan.
Namun Emilia tidak bisa membohongi hatinya bahwa, dirinya merasakan sakit hati ketika mendengar Yofan mulai perhatian dengan Adelia. Dia merasa tidak ikhlas.
Emilia duduk melamun seorang diri di teras depan minimarket. Hingga Yofan datang dan mengajaknya untuk melanjutkan perjalanan.
"Kamu sedih ya, karena aku perhatian sama Adelia?" tanya Yofan.
"Nggak kok, Mas. Aku cuma lagi ngantuk aja, pengen cepat-cepat pulang, lalu rebahan di rumah."
Emilia terpaksa menutupi perasaan yang sebenarnya. Sebab dia sadar dengan posisinya saat ini, tidak lagi sama dengan tahun-tahun yang lalu, di mana tahun lalu dia adalah kekasih Yofan satu-satunya, namun saat ini status dia hanya lah selingkuhan Yofan.
Tiba di rumah Emilia, Yofan sempat mampir sebentar dan berpamitan kepada abang serta ibu kandung Emilia. Yofan meminta maaf karena mengantarkan Emilia pulang dengan terlambat.
Lagi-lagi polisi muda itu dibuat terharu, karena keluarga Emilia tidak pernah mempermasalahkan kesalahan-kesalahan kecil yang dia lakukan. Perlakuan baik keluarga Emilia lah yang membuat Yofan berat, untuk meninggalkan Emilia.
Usai berpamitan, pemuda itu melangkahkan kakinya keluar dari pintu gerbang dan mulai menaiki motornya–persiapan untuk kembali ke rumahnya. Namun saat dia ingin menyalakan motornya, Emilia memanggil namanya dan berusaha mendekatinya lagi, soraya mengatakan …
"Kalau Mas Yofan mau, belajar lah mencintai Mbak Adelia. Kasihan dia, Mas. Mau bagaimanapun, dia istri kamu, bukan aku."
"Kamu kok tiba-tiba ngomong gitu sih, Dek. Kamu tidak sayang ya, sama saya? kamu sudah tidak mau memperjuangkan cinta kita lagi?" tanya Yofan.
"Bukan begitu Mas, maksudku. Tapi sampai kapan kita menjalin hubungan seperti ini? Mas nggak kasihan sama dia, kalau suatu saat nanti dia tahu bahwa kita masih ada hubungan khusus?"
"Saya juga bingung. Nanti saya akan cari jalan keluarnya lagi, ya." Yofan tersenyum.
"Sudah, kamu istirahat saja. Tidak usah mikirin yang aneh-aneh. Saya pulang, ya."
Tangan kanannya mengusap kepala Emilia dengan penuh rasa kasih sayang, sebelum dia melajukan motornya untuk pulang.
Sampai di rumah, Yofan melihat Adelia sedang asyik teleponan dengan seseorang yang belum dia ketahui. Sampai-sampai tidak mendengar ucapan salam dari Yofan. Perilakunya yang tidak biasa itu membuat Yofan penasaran dan memutuskan menguping, dibalik tembok antara teras rumah dan ruang tamu.
"Pokoknya kamu tenang aja, Del. Semua pasti bakalan beres sama aku. Pokoknya nanti kalau rencana kita sudah berhasil, kita pasti bisa happy-happy berdua."
__ADS_1