
Hari ketiga setelah kepergian Om Dermawan, situasi kembali normal.
Cinta juga sudah memulai aktifitasnya seperti biasa dan akan berangkat kekampus pagi ini.
"Cinta.. Ini bekalnya, jangan lupa dibawa.."
Ujar tante Kartikha sambil menyerahkan kotak bekal kepada Cinta.
Tante Kartikha juga sudah kembali beraktifitas, meski hatinya masih dirundung duka mendalam atas kepergian orang yang sangat dia cintai.
"Iya tan.. eeh, bu..
Cinta berangkat dulu yaa.. Assalamualaikum.."
jawab cinta sambil menerima kotak bekal kemudian meraih punggung tangan tante Kartikha yang dia panggil Ibu.
"Waalaikumsalam.."
Kemudian Cinta bergegas berangkat.
hari ini hari ke empat, dan harusnya jadwal masa orientasi sudah selesai.
Cinta berjalan dengan santai menuju halte, dan menunggu bus seperti biasa.
Tak berapa lama kemudian bus yang ditunggu tiba.
segera saja Cinta menaikinya dan mencari posisi paling nyaman.
karena memang ini adalah hari aktif, bus tampak sudah mulai padat.
Cinta berdiri dengan berpegangan pada pegangan tangan yang ada di bus.
"Cinta... kamu kemana ajaa.. aku coba hubungi ke ponselmu tapi gak nyambung.."
Fitri, salah satu teman Cinta yang juga baru tiba di gerbang kampus menyapanya.
"Ehmm.. iya,, maaf ya.. kemarin salah satu kerabatku meninggal.. dan aku gak kepikiran kalo ponselku waktu itu lowbatt.."
jawab Cinta.
"Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un.. aku turut berduka cita ya Cinta.. semoga beliau husnul khotimah."
Fitri mengelus pundak Cinta
"makasih Fit.."
jawab Cinta.
"Cinta...."
Fitri tampak ingin menyampaikan sesuatu, namun dia ragu.
Tampak dari reaksinya yang menggigit ujung bibirnya seolah menimbang apakah dia perlu menyampaikannya atau tidak.
"Kenapa Fit..?"
Tanya Cinta dengan tatapan ingin tahu.
"Soal ketidak hadiran kamu dua hari ini.."
Cinta mengerti apa yang ingin disampaikan oleh Fitri.
"Ya mau gimana lagi Fit, kalaupun memang aku harus kena sanksi karena ketidak hadiranku yaa aku harus siap menerimanya.."
Ujar Cinta dengan lirih.
"tapi aku rasa mungkin Pak Surya gak sekejam itu kok.. kalau kamu jelaskan alasan kamu absen, mudah-mudahan beliau mau mengerti.."
Fitri mencoba mendukungnya.
"Iya.. sekali lagi makasih banyak ya Fit.."
jawab Cinta.
kemudian keduanya berjalan menuju gedung fakultas manajemen bisnis, jurusan yang mereka ambil untuk perkuliahan.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Jelaskan alasan apa yang membuat kamu harus absen selama dua hari masa orientasi, Mutiara Cinta Siregar.."
Pak Surya berbicara dengan tenang, namun wajahnya tampak berwibawa.
"Maaf pak.. salah satu kerabat saya baru saja meninggal dua hari yang lalu. itulah alasan kenapa saya tidak bisa mengikuti masa orientasi selama dua hari."
jawab Cinta sambil menunduk.
__ADS_1
Pak Surya menarik nafas dalam.
"Saya turut berduka cita untuk itu. tapi karena ketidak hadiran kamu, saya harus tetap memberikan sanksi.."
"Saya siap menerima sanksinya pak.. tapi tolong, jangan keluarkan saya dari kampus ini.. karena saya ingin tetap kuliah, demi orang-orang yang mendukung saya. termasuk almarhum Om.. maksud saya, almarhum ayah saya yang baru saja meninggal.."
Cinta tampak memohon.
Pak Surya menyunggingkan senyum tipis melihat keluguan Cinta.
"Baiklah, saya akan pertimbangkan sanksi apa yang akan saya berikan untuk kamu. sekarang kamu kembali kekelas."
"Terimakasih pak.."
kemudian Cinta keluar dari ruang Dekan.
*ternyata benar kata orang-orang.. kampus ini sangat ketat menjalankan peraturan, gak seperti kampus lain
batin Cinta.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
"Gimana Ci, udah ketemu Pak Surya..?"
tanya Jihan saat Cinta sudah kembali ke kelas.
Cinta mengangguk.
"trus gimana..? kamu gak di DO kan..?"
Fitri ikut penasaran.
"Gak di DO, tapi tetap akan kena sanksi.."
jawab Cinta lesu.
"yaa.. setidaknya kamu gak kena sanksi sendirian.."
Celetuk Jihan.
Fitri dan Cinta menatapnya dengan rasa penasaran.
"Si anak sultan itu, dia juga gak masuk selama dua hari.. kurasa mungkin dia juga akan kena sanksi.."
"Tapi kurasa gak.."
jawab Fitri sambil menopang dagu.
"Ingat gak, kemaren dia bertengkar sama kak Ryan, tapi cuma kak Ryan yang kena sanksi.."
sambungnya.
"yee.. itu kan emang karena kak Ryan yang mulai duluan.. aku lihat sendiri kok waktu kak Ryan menyerangnya sampai jatuh tersungkur.."
Jihan tampak membela "anak sultan" yang mereka maksud.
"yaudah sih kok kalian jadi pada ribut.. aku sendiri gak tau nih bakal gimana nasibnya.."
protes Cinta.
Jam istirahat, Cinta dan kedua sahabatnya sedang berada dikantin sambil menikmati makanan ringan.
tiba-tiba seseorang menghampiri mereka, lebih tepatnya menghampiri Cinta.
"ikut aku sekarang.."
Raffa menarik tangan Cinta yang tentu saja langsung ditepis oleh gadis itu.
"kenapa..?"
tanya Cinta heran, diikuti tatapan kedua sahabatnya yang sama penasarannya.
"Ikut aja.. ada yang harus aku omongin. ini penting."
jawab Raffa.
Cinta meliriknya sekilas, namun akhirnya mengikutinya berjalan ke pojok kantin.
"Ada apa..?"
tanya Cinta saat mereka sudah berada dipojok.
"Apa Pak Surya memanggilmu..?"
Tanya Raffa.
__ADS_1
"Iyaa.. tapi kenapa..?"
Tanya Cinta yang semakin bingung.
"kalau gitu kita ke ruangannya sekarang."
jawab Raffa datar.
Cinta yang tidak mengerti hanya diam mematung.
Raffa menoleh, kemudian menarik ujung hijabnya.
"Sekarang..!"
Ujarnya.
Sesampainya didepan ruang dekan, Raffa masuk terlebih dulu disusul Cinta yang masuk kemudian.
"Karena kalian sudah ada disini, langsung saja saya sampaikan sanksi yang harus kalian jalani untuk ketidak hadiran kalian selama dua hari.."
Pak Surya berkata dengan tenang, namun tegas.
*Oh.. jadi dia ngajak kesini karena disuruh pak Surya
Batin Cinta.
"Apa sanksinya..?"
tanya Raffa datar.
"Kalian berdua, harus membersihkan Lab Komputer, Ruangan Dekan, Ruangan Rektor dan Ruangan dosen SETIAP HARI selama dua minggu sepulang kuliah, dimulai dari hari ini."
titah Pak Surya.
"HAHHH...!!"
Cinta dan Raffa sama-sama terkejut.
"tapi pak.. saya harus bekerja part time setelah kuliah.."
Ujar Cinta yang tampak gusar.
"pilihan hanya ada dua. jalani sanksinya, atau DROP OUT."
Pak Surya memberi penekanan pada kata-kata terakhir.
Cinta tertunduk lesu.
"Baik Pak.."
jawabnya.
Namun Raffa hanya diam, tak mengatakan apapun.
"Sekarang kalian boleh pergi.."
kemudian Raffa dan Cinta keluar dari ruang Pak Surya.
"Kamu masih bekerja di mall itu..?"
tanya Raffa saat mereka berjalan melewati koridor.
Cinta mengangguk.
"Tapi aku udah ambil jadwal cutiku dua hari, dan memang gak boleh lebih dari itu.."
jawab Cinta yang tetap menunduk lesu.
"Tapi, kenapa kamu harus bekerja..?
apa orangtuamu tidak mampu membiayai kuliahmu..?"
Cinta menggeleng dengan lesu.
"aku dari kampung. selama ini aku dirawat dan dibesarkan oleh paman dan bibiku. kedua orangtuaku meninggal dalam kecelakaan bus sepuluh tahun lalu.. aku bisa kuliah disini juga berkat bantuan Om Dermawan dan Tante Kartikha yang sudah menganggapku seperti anak mereka sendiri. tapi dua hari yang lalu, Om Dermawan meninggal saat kapal yang dibawanya tenggelam dilaut. itulah alasan kenapa aku absen.."
Raffa tertegun mendengar kisah hidup Cinta.
sungguh berbeda jauh dari latar belakang dia dan keluarganya yang adalah orang berada.
bahkan sekalipun orangtuanya telah tiada, setidaknya dia tetap bisa hidup dengan layak.
*ternyata hidupnya jauh lebih berat
batin Raffa sambil menatap punggung Cinta yang sudah berjalan menduluinya.
__ADS_1