
Tak terasa tiga bulan sudah Cinta tinggal bersama Om Dermawan dan Tante Kartika.
Dia juga sudah bekerja di salh satu mall terbesar di Jakarta sebagai kasir, dan hasil gajinya selalu dia kirimkan untuk Paman dan Bibinya di desa.
Selain itu Cinta juga sangat rajin membantu Tante Kartika mengurus rumah.
*hitung-hitung balas budi
begitu batin Cinta.
Pagi itu seperti biasa, Cinta menikmati sarapan bersama Tante Kartika dan Om Dermawan yang malam tadi baru saja kembali dari berlayar.
"Gimana pekerjaan kamu Cinta, kamu betah disana..?"
tanya Om Dermawan membuka topik pembicaraan.
"Alhamdulillah betah Om.. Apalagi teman-teman disana juga semuanya baik.. mereka banyak bantu aku.."
jawab Cinta.
"Syukurlah kalau gitu.. Cinta, malam ini Om dan Tante akan pergi ke acara reuni di kampus Tantemu dulu mungkin pulang agak larut. Kamu jangan lupa kunci semua pintu dan jendela nanti.."
"Iya Om.."
"Oh iya satu lagi, ada hal penting yang mau Om bicarakan sama kamu.."
"Soal apa Om..?"
Cinta tampak ingin tahu.
Om Dermawan mengeluqrkan sebuah brosur dari sakunya, kemudian meletakkannya di atas meja tepat dihadapan Cinta.
"Ini apa Om..?"
tanya Cinta sambil mengernyitkan kening.
"Coba kamu baca dulu.."
Cinta meraih kertas brosur tersebut kemudian membacanya.
"Apa kamu tidak ingin melanjutkan pendidikanmu..?
sayang loh, kamu anak yang cerdas.."
Ujar Om Dermawan sambil memperhatikan wajah Cinta yang tiba-tiba berubah murung.
Cinta hanya menggeleng, kemudian meletakkan kembali brosur tersebut diatas meja yang ternyata adalah brosur pendaftaran di sebuah kampus ternama di Jakarta.
"Cinta, kenapa kamu murung..? apa kamu tidak ingin melanjutkan pendidikanmu..?"
tanya Tante Kartika yang sejak tadi juga memperhatian gerak-gerik Cinta.
"Sebenarnya sangat ingin Om, Tante.. tapi.."
"Tapi apa..?"
tanya Om Dermawan
"Tabunganku belum cukup.."
gumam Cinta dengan ragu sambil mwnunduk dan memainkan jari-jarinya.
Tante Kartika tersenyum mengerti.
"Kalau seandainya ada kesempatan, apa kamu ingin kuliah..?"
Tanya Om Dermawan.
"Tentu sangat ingin Om.. mungkin dua atau tiga tahun lagi, setelah tabunganku cukup aku akan melanjutkan kuliah.."
jawab Cinta dengan perasaan gamang.
"begini saja.. Om dan Tante, bersedia menanggung semua biaya dan keperluan kuliah kamu. jadi kamu bisa mendaftar kuliah tahun ini.."
tawar Om Dermawan
__ADS_1
Cinta tampak terkejut.
namun dia kembali menunduk.
"Kalau aku kuliah, aku gak bisa kerja.. dan kalau aku gak kerja, gimana aku bisa kirim uang untuk Paman sama Bibi dikampung.."
Ujar Cinta dengan wajah lesu.
"Kamu kan bisa kerja part time..
dengan begitu kamu tetap bisa kuliah sambil bekerja.."
Ujar Om Dermawan.
"Tapi..."
"Tapi kenapa lagi Cinta..? Ini kesempatan yang bagus loh.. kalau kamu melanjutkan pendidikan kamu, setidaknya nanti kamu bisa bekerja ditempat yang lebih layak..Dan kamu bisa membantu Paman dan Bibi kamu.."
sanggah Tante Kartika.
Cinta menggeleng perlahan.
"Aku udah terlalu banyak menyusahkan Om dan Tante.."
jawab Cinta lirih.
"Cinta.. kamu gak pernah menyusahkan Om dan Tante..
justru Om dan Tante bersyukur dengan adanya kamu dirumah ini, karena Tantemu gak kesepian lagi.."
Ujar Om Dermawan.
"Om dan Tante gak mau tahu, pokoknya kamu harus melanjutkan kuliah kamu.. nanti Tante yang akan menemani kamu mendaftar di kampus itu.."
Tante Kartika bertitah layaknya seorang ibu yang mengomeli anaknya.
Akhirnya tangis Cinta pun tumpah karena terharu.
dia sangat bersyukur karena dipertemukan dengan Om dan Tante yang sangat baik dan menyayanginya seperti anak sendiri.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Raffa, kamu itu udah dewasa..udah dua puluh tahun.. harusnya kamu bisa menentukan sikap untuk masa depan kamu.. bukan hanya berfoya-foya.. akan jadi apa nantinya perusahaan jika dipimpin oleh bos seperti kamu..??"
Seorang wanita berusia 40an sedang mengomeli putra semata wayangnya di meja makan.
"lantas apa perduli ibu..?? memangnya pernah ibu perduli apapun yang aku lakukan selama ini..??"
jawab putranya dengan nada tinggi.
"baiklah, tunggu sampai ayahmu pulang nanti..
kalau kau tetap seperti ini terus, lebih baik semua harta warisan ibu serahkan ke panti asuhan dan ke orang-orang yang membutuhkan. itu lebih bermanfaat daripada hanya dihambur-hamburkan untuk hobby mu yang gak berfaedah itu.."
pemuda bernama Raffa itu bangkit, kemudian membanting sendok diatas meja.
"lakukan apapun yang ibu mau, dan aku lakukan apa yang aku mau."
jawabnya dingin sambil berlalu meninggalkan ibunya yang menangis.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Saat itu Cinta tengah bekerja melayani pelanggan yang hendak membayar barang belanjaannya. sampai akhirnya seorang pemuda menyerahkan kartu debit untuk membayar barang belanjaannya, atau lebih tepatnya barang belanjaan milik wanita yang ada disampingnya.
Cinta menerima kartu tersebut kemudian mencoba mentraksasikannya namun gagal.
"maaf mas, saldonya kosong.."
Ujar Cinta sambil menyerahkan kartu debit tersebut kepada pemiliknya
*orang ini kok kayaknya gak asing, tapi pernah jumpa dimana ya..
batin Cinta saat melihat pemuda si pemilik kartu debit.
Pemuda itu menyerahkan kartu debit yang lain, namun tetap sama.
__ADS_1
tak ada satupun kartu debit yang bisa digunakan.
dengan setengah putus asa pemuda itu berjalan menuju mesin atm, sedangkan sang wanita menunggu di kasir.
tak lama kemudian pwmuda itu kembali dengan wajah ditekuk.
"sial.. pasti ayah yang membekukan semua atm ku.. gak ada satupun yang bisa digunakan.."
omelnya.
"yaudah sih pake tunai aja.."
Ujar si wanita dengan manja.
"kamu kan tau sendiri, aku gak pernah membawa uang tunai..
yaudah, kamu bayar semua blanjaan kamu.."
Jawab pemuda tersebut sambil berlalu pergi.
Sementara wanita itu justru mengutuk dan menceracau tak jelas.
"huh.. dasar laki-laki songong.. kalau tau begini ogah aku ngajak dia jalan.."
Cinta yang menyaksikan hal tersebut hanya menggelengkan kepala.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Saat jam istirahat, tanpa sengaja Cinta melihat pemuda tadi di parkiran tampak uring-uringan sambil berbicara dengan dua orang satpam dan tukang parkir.
*abang itu gila mungkin ya
batin Cinta
"Pak Jo, mas-mas yang tadi kenapa..?"
Tanya Cinta pada pak Parjo satpam yang berbicara dengan pemuda tersebut.
"Oh.. itu tadi mobil si mas nya dibawa mobil derek.. dan dia menuntut bang Sincan (tukang parkir) untuk bertanggung jawab.."
Jawab Pak Parjo yang sudah bergabung dimeja Cinta dan temannya yang lain untuk makan siang.
"Kasian juga ya.. tadi mas itu juga belanja banyak banget, tapi waktu mau bayar semua kartu debitnya malah gak bisa dipake.."
Ujar Cinta.
"Paling-paling anak pengusaha yang udah bangkrut tuh.. jadi semua hartanya disita.."
Timpal Aris, teman Cinta.
"Hus.. gak boleh ngomong gitu Ris.. Su'udzon aja kamu.."
sanggah Cinta.
"itu udah hal yang lumrah Cinta.. bukan satu dua kali..
udah sering kok kasus begitu.. ya kan Pak Jo.."
jawab Aris yang meminta dukungan Pak Parjo, dan dibalas dengan anggukan.
"ya ampun.. ternyata jadi orang kaya ada sisi buruknya juga ya.."
gumam Cinta sambil menyusup cappucino cincau yang baru dia pesan.
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
e
Eng Ing Enggg...
Ini dia gambaran sosok Raffa..
this is syafiq kyle, aktor pelakon drama Malay..
__ADS_1
please say yes for him..🤗🤗🤗